100 Hari Lalu Apa?

on

Minggu-minggu ini orang banyak menggugat tentang kinerja seorang presiden. Sepertinya orang agak-agak sensitif dan gatal mempertanyakan, menyambung-nyambungkan antara angka seratus dengan pencapaian yang sudah dilakukan si kepala pemerintahan. 143690150Ada apa dengan angka seratus? Kalau dihubungkan dengan kinerja seseorang yang baru masuk kerja dan sedang menjalani masa percobaan, mulailah  bisa dinilai apakah bagus atau tidak cara kerjanya, kompeten atau tidak, kalau bagus dilanjutkan kalau tidak cocok bisa angkat kaki dengan damai. Tapi bagaimana kalau yang diberi pekerjaan besar dan bejibun ini adalah seorang presiden? Apakah kalau kita tak cocok dengannya kita akan memutuskan kontrak begitu saja? Dan dengan masa kerja yang masih bersisa banyak ini akankah 100 hari begitu penting dan bernilai? Well, sebagian akan bilang, ‘lho dia dipilih ‘kan memang untuk membereskan sekaligus menepati janji-janji yang ia ucapkan sewaktu kampanye dulu’. Mana buktinya?

Sewaktu Pemilu saya memang tidak memilih presiden ini dan dengan demikian akan mudah bagi saya untuk menghujat dan mempertanyakan cara kerjanya yang terkesan disetir oleh pihak di atasnya. Dampak yang diinginkan pun terutama yang buruk tentu membuat saya ‘puas’ karena hal itu seakan menjadi bukti bahwa ia yang digembar-gemborkan ternyata tak seperti itu.  Terlebih dengan kasus yang beruntun terjadi antara kpk dengan polri akhir-akhir ini. Namun saya tidak seekstrem  itulah. Cukup menanti saja apa perkembangannya ke depan nanti. Lalu…menuliskannya di blog. 🙂

Seratus hari alias 3 bulanan bukanlah waktu yang lama atau sebentar, tergantung yang merasakan. Tapi kalau boleh menganalisis saya merasa apa yang dikerjakan pemimpin ini sudah nampak gebrakannya meskipun rada tertatih-tatih. Dari pemilihan anggota kabinet yang kpk-recommended, penenggelaman kapal pencuri ikan, menghukum mati pengedar narkoba, pelaksanaan BPJS yang agak sungsang sumbel hingga menaik-turunkan BBM (like carousel isn’it?). Entah ini bagian dari pencitraan, atau memang ia baru belajar sehingga perlu ada yang namanya trial and error . Sejujurnya saya gak terlalu peduli apakah ada kemajuan atau tidak. Sama tidak pedulinya dengan mengapa harus ada istilah 100 hari pemerintahannya. Seingat saya dulu sewaktu ia menjabat sebagai gubernur pun, media juga ramai-ramai memasang istilah 100 hari juga. Dulu memang ia menjadi Media darling, dalam arti setiap kemajuan yang dicapai sangat diapresiasi dan apabila belum atau tidak selesai programnya, media (rakyat) merasa tak terlalu menuntut, kata lain dari memaklumi. Tapi sekarang? Waktu dan kepentingan telah membuat segalanya berubah. Bisa jadi pemasangan istilah 100 hari ini sebenarnya wujud ekspektasi yang sangat tinggi sekaligus alarm pengingat bahwa masih ada yang belum ditunaikan janjinya. Salah satunya adalah pemberantasan korupsi dan harga-harga yang tetap tinggi pasca BBM turun. Jangan sampai berceceran remah-remahnya dan membuatnya lebih buruk dari pemerintahan sebelumnya.

Seratus hari bukanlah indikator tapi sepatutnya ini dijadikan evaluasi untuk ke depannya. Jangan lupa,  ia pun bukan petugas partai tertentu.

Silakan komentar