13 Reasons Why, 13 Alasan yang Dipilih Hannah Baker

  • Tayang perdana : 31 Maret 2017
  • Network : Netflix
  • Pemain : Dylan Minnette, Katherine Langford, Christian Navarro, Brandon Flynn, Kate Walsh, Derek Luke
  • Genre : Mystery, Drama
  • Episode: 13
  • Rating: 8,5/10

Why didn’t you say this to me, when I was alive?

Awalnya menonton film seri ini hanya karena mengetahui Selena Gomez yang bertindak sebagai Eksekutif produsernya. Selena Gomez? Ya, Selena  yang penyanyi  itu menjadi produser untuk sebuah film seri TV remaja. Dan saya menonton 13 Reasons Why ini tanpa mengharapkan kehebohan apalagi ingin tahu detail ceritanya selain embel-embel misterinya. Yang penting nonton dulu, that’s it.

Setelah menonton ke-13 episodenya, saya terpana oleh alur cerita dan para tokohnya. Biasanya saya kurang tertarik menonton film bertema remaja karena kesan yang ada hanyalah hura-hura, masalah eksistensi atau hidup tanpa beban (miriplah dengan sinetron remaja Indonesia). Namun yang ini sungguh lain. Saya merasa tersedot oleh  kharisma sosok remaja seperti Clay Jensen ( Dylan Minnette) yang meskipun bukan remaja populer namun punya teman dari kalangan mana saja. Di sini ia  menjadi tokoh pengantar agar penonton tidak bingung dengan gaya penceritaan narasi dari si tokoh utama sekaligus yang menjadi sentral dari cerita ini bermuara, Hannah Baker.

13 Reasons Why bercerita tentang galaunya remaja di sebuah Sekolah Menengah Atas bernama Hannah Baker. Ia mengalami bully dari sebagian besar temannya baik cewek atau cowok bukan karena ia pemalu atau apa namun justru karena ia telanjur dicap sebagai cewek gampangan di sekolah dan  nyaris semua cowok yang pernah dekat dengan dirinya  pernah membullynya baik  lewat tayangan foto yang disebar di sosmed, mengolok-olok atau bahkan melecehkannya.

Seluruh rekaman kaset yang berjumlah 13 mewakili jumlah teman-temannya yang telah membuat Hannah kecewa bahkan menyakiti hatinya. Mulai dari Justin sang pacar hingga Mr. Porter selaku guru BP yang tidak membantu kejiwaan muridnya.

Clay adalah pengecualian. Clay satu-satunya teman yang bisa ia ajak bicara dan  dikagumi.  Clay yang notabene teman sesama magang kerja di kantin bioskop Crestmont tak luput pula dari rasa bersalah akibat kematian Hannah. Clay pula yang bertugas membereskan segala ‘hutang’ Hannah dengan meminta pertanggungjawaban semua pihak penyebab bunuh diri Hannah.

Di awal-awal episode, kita disuguhi oleh pengenalan pribadi masing-masing para temannya. Ciri dari sebuah film seri adalah banyaknya tokoh dengan latar belakang yang beraneka ragam. Adegannya sempat membingungkan  karena memakai alur kilas balik yang tak kentara. Seakan Clay bicara dengan Hannah namun ternyata ia hanya melamun,. Namun  lambat laun kalau kita ikuti sampai akhir, cerita ini ternyata menarik dan mengandung  pesan moral yang penting.

Alur terlihat paralel sejak mulai episode 1 hingga 8.  Menginjak episode 9 sampai 13, alur cerita kian menukik dan ada proses kilas balik yang menurut saya bagus banget disuguhkan. Bagian ini mungkin yang membuat serial ini mendapat rating yang tinggi untuk ukuran film seri remaja karena alurnya bercabang tiga antara cerita dari sisi Hannah, Clay dan Justin saat pesta masih berlangsung di kediaman Jessica.

Kita barangkali tak habis pikir mengapa seorang remaja bisa begitu  putus asanya hanya karena perlakuan teman yang seiring dengan waktu mungkin saja akan terlupakan begitu saja saat dewasa kelak. Namun bila kita renungkan kembali, masa remaja adalah masa yang sangat ‘sulit’ untuk dijalani bagi sebagian orang. Banyak masa remaja yang tak ingin diingat karena disamping selalu ada bagian yang memalukan bisa juga karena remaja di lingkungan terutama di sekolah adalah bagian yang paling dihilangkan dalam hidup.

Tragedi Hannah bukan suatu kasus baru. Ada berbagai motif untuk membuat orang nekad bunuh diri. Namun berkaca dari peristiwa di tayangan ini, dalam diri kita harus ditanamkan semacam warning bahwa bunuh diri adalah hal yang takkan pernah bisa menyelesaikan masalah. Justru malah membawa orang-orang di sekitarnya menjadi lebih terguncang dan larut dalam kesedihan yang tak ada habisnya. Alih-alih meringankan tapi malah membuat susah.

Adegan demi adegan sangat bertalian dari satu episode ke episode lain. Hal yang menarik dari serial ini adalah dialognya yang sinis cenderung  sarkas dan serius. Sesuatu yang berbeda bagi kebanyakan film remaja lainnya  di mana biasanya diwarnai suka ria, dialog ringan atau kelucuan para tokohnya. Hal unik lainnya adalah penggunaan kaset sebagai media rekamannya. Generasi Millenial tentu bingung dengan fakta bahwa kaset ternyata menjadi medium  penyimpan suara isi hati Hannah.

Well, sebagai sebuah tontonan, film seri ini dikemas dengan sangat bagus dan membumi. Kisah yang diangkat dari novel berjudul sama (2007) ini mampu menyentuh relung-relung hati bagi mereka yang pernah menjadi remaja. Satu pelajaran penting, tak ada salahnya menjadi remaja yang bermasalah, tapi jadikan itu momen untuk berubah.

 

 

 

Silakan komentar