32 Jam Memelihara Sabar

on

Bulan puasa tahun ini sangat berkesan bagi saya. Tidak hanya dalam pelaksanaan di awal puasa tapi juga kesan yang ditorehkan di dalamnya. Seolah membuka kotak hadiah yang kita belum tahu isinya. Serba kejutan, serba mengesankan. Kali ini yang bikin saya terkejut-kejut atas pelaksanaan Ramadhan adalah pada saat melakukan ritual mudik. Setelah setahun lalu absen melaksanakan mudik karena ada acara besar keluarga (pesta pernikahan adik), maka tahun ini benar-benar diniatkan untuk pulang kampung ke Jogja.

Mungkin karena terlalu excited, maka yang biasanya menjadi persiapan reguler yang dimulai sejak pemesanan tiket, hingga pemberangkatan itu ribetnya setengah mati dan meski melelahkan, tetap dijalani dengan suka cita. Padahal, berbagai gangguan kesehatan mengintai. 🙁

Dengan tertatih-tatih karena masih menjalani puasa, sampailah kita menginjak di hari pemberangkatan mudik, semakin bersemangat saat melihat para mudiker ikut menyesaki bus, semakin senang dan bungah rasanya. Perjalanan sangat menyenangkan sampai Karawang dan ketika melewati gerbang Kalihurip inilah tak pernah disangka bahwa selewat gerbang tol, neraka mudik dimulai. 😯

Betapa tidak, selepas itu, pertemuan dari berbagai arus mudik di jalur mudik Karawang-Cikampek-Kandang Haur telah membuat kesengsaraan yang luar biasa bagi pemudik. Oh, akhirnya saya pun merasakan apa yang dinamakan macet total…tal. Kendaraan bergerak hanya sedikit-sedikit, sebentar-sebentar berhenti, beringsut-ingsut seperti kura-kura, mungkin lebih banyak berhentinya dari pada melajunya. Selama 12 jam kendaraan hanya berpijak di daerah Karawang-Cikampek, melewati sepanjang malam, menahan rasa dingin dari AC kendaraan, menahan haus karena kalau kebanyakan minum pasti nanti akan kebelet dan sulit cari tempat buang air kecil dan…tak bisa tidur. Kendaraan telah terjebak, terkurung diantara kendaraan lainnya. Depan, belakang, samping kiri-kanan semuanya kendaraan mudik, dari mulai bus malam, bus pariwisata, mobil pribadi, mobil carteran, mikrolet, angkot, semuanya terdiam, tergugu, seolah menunggu Godot. 😮

Pukul 07.10 pagi kendaraan yang saya tumpangi baru saja berhenti di Sukamandi. Hah? Baru sampai Sukamandi? Well, it’s true. Ini cuma baru seperdelapannya perjalanan dari rangkaian perjalanan besar. Kendaraan berhenti untuk istirahat.

Saya pikir, selepas Sukamandi atau Cirebon, kemacetan akan terurai. Nyatanya… masih terus berlanjut! Di Brebes kendaraan terus merambat hingga kota Batang. Lebih mirip iring-iringan konvoi perang daripada rombongan mudik. Hampir tak ada aspal kosong pun yang tak diisi kendaraan. Sampai di titik ini saya agak terhibur melihat kesibukan warga setempat di kiri kanan menyambut lebaran. Masih untung tidak terjebak oleh pasar tumpah. Biasanya saya melewati kota ini dalam keadaan masih malam, karena macet maka siangnya dapat memandang kota-kota ini. Di Brebes saya baru tahu bahwa di pinggir jalan banyak dijajakan telur asin dan bawang merah, komoditi andalan kota itu. Hmm…kalau arus balik lewat sini lagi pasti saya sudah memborong telur asin dan bawang merah itu.

Kendaraan berhenti lagi di resto Sendang Wungu Kendal untuk makan dan istirahat. Saya kira, selepas kota ini perjalanan akan lancar. Nyatanya… memang lancar sekali tapi sayangnya saya sudah tak bersemangat lagi, malahan sudah beteee…banget. Waktu sudah menginjak jam yang ke-19  dihitung dari sejak keberangkatan awal pukul 16.20 kemarin sore. Sementara malam mulai merambat pelan-pelan. Keinginan hanya tinggal satu: segera sampai tujuan!

Satu persatu kota mulai terlewati; Weleri, Ngadirejo, Parakan, Temanggung, Magelang, Muntilan, dan…Jogja.

Total kesabaran menunggu menuntaskan perjalanan bak ritual pergi haji ini berjumlah 32 jam. Hampir-hampir menyamai perjalanan penjemputan si Nazaruddin dari Bogota hingga Jakarta yang 36 jam kalau begitu. Hanya berbeda 4 jam saja. Tapi bagi saya 32 jam adalah rekor terlama terjebak kemacetan yang belum pernah terjajaki sebelumnya. Selama ini perjalanan mudik tahun-tahun sebelumnya pasti memang terjebak macet namun selalu antara 12-14 jam saja lamanya. Berangkat sore sampai tujuan pagi atau siang keesokan harinya. Tapi tidak pernah selama ini. Ini merupakan ujian kesabaran yang luar biasa di bulan puasa tahun ini tak hanya bagi saya secara jasmani tapi juga mental spiritual secara keseluruhan. Alhamdulillah, selama menempuh perjalanan ‘berat’ ini kami semua diberi kesehatan prima, mental kuat dan humor yang garing. 🙂

0 Comments Add yours

Silakan komentar