ulasan film

Alasan Mengapa Film Parasite Menang Piala Oscar 2020

Alasan Mengapa Film Parasite Menang Piala Oscar 2020

Baiklah saya mengaku. Saya baru tergerak untuk menyaksikan film asal Korea Selatan ini hanya karena terpilih sebagai film terbaik versi Academy Award 2020. Jika saja Parasite tidak terpilih mungkin selamanya saya tak akan menonton film wakil dari benua Asia ini. Artinya saya baru saja menontonnya. Better late than never. Saya memang harus berterima kasih kepada Oscar karena berkat ajang pemberian piala untuk film terbaik ini, akhirnya saya kepingin untuk menonton, bahkan sampai dua kali.

Stigma Asia

Sebelumnya memang sudah santer terdengar betapa Parasite selalu menuai pujian dan sangat mencengangkan dalam menyuguhkan alur kisah yang katanya penuh dengan plot twist ditambah embel-embel genre comedy-thriller itu.

Namun, meskipun sudah banyak ulasan baik yang amatir maupun pro tentang film ini, saya toh tetap malas untuk menonton filmnya, lebih-lebih yang berasal dari produksi Asia. Ada stigma tertentu bahwa film Asia hanya sebagai penggembira, belum menggebrak dan berdaya saing kuat dengan produksi Eropa atau Amerika sekalipun.

Apalagi film Parasite ini berasal dari Korea Selatan yang terkenal dengan drakornya. Aduh maaf, saya belum begitu suka dengan jenis film drama yang ini…

Perasaan belum tertarik menonton ini luruh juga akhirnya hingga saat diumumkan sebagai film terbaik dalam perhelatan akbar Academy Award 2020. Bayangkan di acara sekelas Oscar, film Parasite ini mengalahkan film keren lainnya-yang menurut saya sangat terbaik- seperti 1917, The Irishman, Joker, atau Little Women saat itu.

Sesaat saya bertanya-tanya, apa yang menyebabkan piala Oscar diberikan kepada film Parasite? Adakah sesuatu yang tidak saya ketahui hingga membuat mata juri lebih jeli menyaksikan drama tentang strata hidup yang njomplang ini, antara orang kaya dengan orang miskin ini?

Tidak Sesederhana Itu

Menurut analisis amatir saya, film Parasite merupakan film dengan paket lengkap. Mulai dari skenario, sutradara, para pemainnya yang berakting sangat menjiwai, scoring, sinematografi hingga ke judulnya sendiri yang sangat menarik. Parasite.

Kesan pertama ketika membaca judul filmnya, hal yang tergambar di pikiran adalah sebutan untuk parasit yang numpang hidup, numpang makan, dll sehingga dalam pikiran penonton, film ini pasti akan menceritakan tentang orang-orang yang merugikan hidup orang lain. Namun ternyata mereka salah besar. Ceritanya tidak sesederhana itu.

Satu hal yang tidak disangka-sangka adalah adanya plot twist yang mencengangkan sekaligus menjungkir balikkan perasaan penonton. Anda dan saya tak akan menduga bagaimana kisah keluarga Kim yang miskin, pengangguran, tinggal di rumah semi-besmen dapat menjadi tim yang kompak untuk memperdaya keluarga Park yang baik, kaya, berpendidikan, dan tinggal di rumah berhalaman rumput sangat lapang di dalamnya.

Namun yang paling menonjol dari film Parasite menurut saya adalah realita hidup yang diangkat. Betapa realistisnya hidup yang dijalani oleh keluarga Kim dan itu sama seperti yang dirasakan oleh hampir seluruh orang miskin di dunia bahkan di Indonesia.

Kenyataan yang Semu

Selain jalan ceritanya yang tidak terduga, film ini banyak menyiratkan simbol-simbol yang makin mempertegas jurang antara si kaya dan si miskin. Adegan keluarga Kim yang pulang kembali ke rumah dalam keadaan basah kuyub dan mendapati rumah semi besmennya kebanjiran adalah realita hidup yang sama dengan yang diderita oleh warga Jakarta kala musim hujan tiba.

Adegan pulang dengan menuruni tangga berkali-kali menuju rumah adalah simbol kembalinya sosok keluarga Kim sebagai orang miskin, orang kelas bawah yang hidupnya bergantung dengan yang di atas. Berada di rumah keluarga Park yang megah adalah kenyataan yang semu dan hanya sesaat saja untuk merasakan menjadi horang kaya. Pada akhirnya mereka kembali ke wujud asli sebagai orang miskin yang memiliki bau badan yang khas.

Penuh Teror

Film yang berdurasi dua jam ini benar-benar mencampur adukkan emosi. Tak hanya adegan-adegannya saja yang memukau, namun juga properti serta dialog-dialog yang keluar dari para pemain sekali lagi sangat realistis dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ide ceritanya yang tidak pasaran, orisinil dan lancar dalam bahasa gambar cukup membuat film ini sangat mewah di tengah kemiskinan sebagai benang merahnya.

Alur cerita yang awalnya drama komedi, lalu berubah menjadi thriller, menimbulkan pertanyaan bagaimana sutradara menutup kisah ini. Cerita memang berujung suram dan penuh teror, namun di luar dugaan Bong Joon Ho mengakhiri kisah penuh kepahitan ini dengan agak kurang dramatis.

Memang menyedihkan dan kejam, tapi itulah adegan yang paling realistis dan jujur untuk penonton”

Mendekati akhir cerita, situasi semakin kacau akibat kemunculan suami bibi yang membabi buta dan membunuhi semua tamu di acara ulang tahun anak bungsu keluarga Park. Anak sulung keluarga Kim (Ki-Woo) akhirnya dapat melacak keberadaan sang ayah yang tak diketahui rimbanya usai menusuk majikannya.

Adegan berpindah ke suara batin sang ayah, Ki-Taek yang ternyata bersembunyi di bunker rahasia rumah keluarga Park. Sang putra Ki-Woo pun mengatakan ingin sekolah dan bekerja mencari uang yang banyak agar dapat membeli rumah megah tempat si ayah bersembunyi sekaligus membebaskannya dari bunker.

Adegan ini ternyata hanya angan-angan belaka ditandai dengan Ki-Woo yang masih berada di rumah semi besmennya itu. Sutradara bisa saja mengakhiri cerita dari ini dengan saling memeluk antara ayah dan anak. Tapi itu tidak dilakukan. Karena menurutnya adegan itu hanya utopis, dan tidak jujur pada hati nurani dan penonton.

Jujur, baru di film ini ide ceritanya sangat brilian, berkembang liar tak terkendali sehingga menjadikan film ini tak terlupakan. Tak heran, para juri Oscar terpikat dan mengganjarnya sebagai film terbaik.

Menurut saya kekurangannya hanya satu. Keluarga Park yang kaya itu mengapa mudah sekali diperdaya sih? Padahal mereka nampak berpendidikan dan pintar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *