Antara Kereta Api dengan Kursi Dinda

on

Berita tentang seorang perempuan yang membenci sosok perempuan hamil di kereta cukup membuat kita terhenyak dan mengurut dada. Seperti yang dimuat di berbagai status medsos kemarin, Dinda yang nota bene seorang wanita marah-marah hanya karena tempat duduknya  diminta seorang perempuan hamil  di sebuah kereta  Jabodetabek. BZ5d3kICIAA5IRTTak cukup dengan hanya marah, ia pun mencap perempuan hamil sebagai sosok yang malas bangun pagi, manja dan menyuruhnya agar lebih baik resign saja daripada menyusahkan orang banyak. Pertama kali membaca isi kata-katanya yang telanjur tersebar di dunia maya itu adalah kesan bahwa Dinda ternyata belum cukup matang untuk memiliki rasa empati dan toleransi antar sesama terlebih lagi terhadap kaumnya sendiri. Rata-rata semua mengecam dan balik mencaci-maki kata-kata kasarnya.

Kalau mau ditelaah, apakah memang sedemikian parahnya cara berpikir perempuan muda zaman sekarang dalam hal berbagi? Sebegitu egoisnya hingga ia merasa perlu harus marah, kesal dan tak rela kursinya diambil alih orang lain? Kita tak tahu sebenarnya apa yang ada di benak Dinda saat itu. Apakah ia sedang ada masalah keluarga atau sedang PMS sehingga emosinya meledak.  Tak perlu kita bahas mengapa dan kenapa  karena akan berujung kekesalan juga pada akhirnya.

Sebenarnya dibalik “perebutan tempat duduk” ada transportasi yang menjadi biang keladinya,yakni kereta.  Demi mengejar kereta seluruh penumpang berjibaku untuk itu. Demikian juga Dinda yang menurut pengakuannya harus berangkat pagi pukul 05.00 semata-mata hanya agar mendapat tempat duduk. Yang kuat dan masih segar ia yang dapat, begitu hukumnya. Dengan berdesak-desakan, pakaian yang tergesek-gesek akibat penuhnya penumpang, kaki terinjak, si ibu hamil harus pasrah menerima kenyataan berdiri  sepanjang perjalanan. Mengapa PT. KAI bisa menelantarkan jenis penumpang seperti ini? Tak adakah cara yang lebih manusiawi? Tentu ada, yaitu disediakan gerbong khusus wanita namun dalam praktiknya tidak mudah. Justru kaum perempuan yang paling keukeuh tak mau memberikan bangkunya pada siapa pun terlebih pada perempuan hamil. Dan ini kuat mengakar sampai hari ini.

Ada yang bilang inilah potret kereta kita yang tak mampu menyediakan sarana memadai bagi penumpangnya sehingga timbul insiden seperti Dinda. Mereka harus sikut-sikutan dahulu demi menikmati selama peak hour. Jangan mengkhayalkan dahulu  naik kereta seperti di negeri maju, dapat tempat duduk sambil membaca buku atau tidur mungkin itu sudah merupakan kenikmatan tersendiri. Lalu apakah PT. KAI akan menambah gerbong khusus lagi? Entah, sebaiknya kita tanya rumput yang bergoyang saja kalau begitu. 🙂

0 Comments Add yours

  1. matureorchid says:

    Zaman sekarang sikap berempati itu langka,apalagi bagi kaum muda.

  2. saya juga kaget mendengar beritanya, kok ada perempuan seperti itu apalagi sama2 wanita yang pastinya dia akan berada diposisi tersebut.

    1. Ernawati says:

      Sama-sama kaget jadinya 🙂

Silakan komentar