Antara kopor dengan kardus

on

Hari Minggu kemarin saya dan keluarga pergi ke bandara Soekarno Hatta untuk mengantarkan Kakak yang hendak pindah ke Makassar. Jalanan pagi itu lengang sehingga hanya dalam waktu sejam kami sudah sampai. Berbeda dengan kedatangan saya dahulu yang tiba ke bandara malam hari hanya untuk menemui sepupu yang transit dan terlihat sepi penumpang, kali ini saya tiba di siang hari saat calon penumpang silih berganti mendatangi bagian check in.

Hal yang menarik bagi saya adalah, meskipun perjalanannya memakai moda transportasi pesawat terbang yang nota bene sudah termasuk high class dan mampu, namun masih terlihat juga mereka membawa bagasi dalam bentuk kardus-kardus besar kecil. Saya melihat orang mendorong-dorong  troli yang berisi kopor-kopor dengan merk cukup keren tapi terselip juga kardus ukuran sedang hingga besar dihiasi plak ban warna coklat sebagai perekatnya di sana sini. Saya jadi merasa lucu, ternyata orang Indonesia itu paling sulit mungkin melepaskan kebiasaan aslinya. Mirip dengan kebiasaan: Belum kenyang kalau belum menyantap nasi. Begitu pula dengan aturan membawa-bawa bagasi.

Ada yang membawa berkopor-kopor seolah tidak bisa hidup di tempat lain tanpa barang yang dibawa, atau membawa kopor yang sudah gendut  tapi juga masih perlu membawa kardus ukuran besar yang entah isinya apa. Seingat saya, penumpang membawa kardus hanya ditemui di perjalanan darat saja seperti kereta atau bus malam. Dan bukankah kardus-kardus itu lebih aman diarahkan ke bagian kargo? Entahlah. Ini memang sifatnya orang Indonesia yang mau repot dan mau direpoti oleh barang-barang. Bahkan kalau perlu mungkin seluruh kopor dan kardus itu tidak mau lepas sedetik pun hingga perlu ikut masuk pesawat dan ditaruh dekat kaki (mungkiiin…). 😉

Sebuah kontradiksi memang. Di satu sisi penumpang Indonesia ingin terlihat modern itu terlihat dari merk kopornya, Elle, Polo, Navy Club, LV tapi di sisi lain kita juga tak bisa memungkiri kalau kita masih butuh…kardus.

Tapi itulah ciri kita -orang indonesia- bepergian, tak perlu sampai dipikir sampai mengernyitkan dahi. Siapa tahu yang tadinya membawa dua kopor besar dan satu tas laptop, komposisi isi troli kita nanti berbalik menjadi seperti ini: Terdiri dari dua kardus sedang seukuran kardus indomi yang dililitkan dengan tali rafia di sana sini, satu kardus besar seukuran kardus TV, dan kopor sedang. Wah, ini mah indonesia banget! 😛

Silakan komentar