Antara Tayangan Pak Presiden dan Pengantin

on

Ada yang mengusik pikiran dan ‘ketenangan’ pemirsa minggu kemarin.  Sebenarnya saya bukan orang yang tiap hari harus ngendon di depan televisi. Kecuali kalau ada peristiwa yang sangat menarik perhatian.  mana yang menang?Dan di pekan lalu ada dua peristiwa yang tergolong meminta perhatian saya. Pertama adalah peristiwa pernikahan seorang pesohor . Sebenarnya gak ada yang aneh dengan pasangan ini namun kemeriahannya sukses membuat seluruh teman di kantor melongo sembari bertanya-tanya ‘Siapa sih dia sampai dibuatkan tayangan eksklusif seperti ini?’  ‘Apa sih prestasinya selain presenter dan artis sinetron?” Gak cuma sehari ditayangkan tapi bahkan berturut-turut. Gak cuma satu stasiun televisi tapi dua.  Seakan belum cukup, lagi-lagi hari Sabtunya ditayangkan acara private party-nya yang berlangsung di pulau Dewata.

Saya sampai mencari jawaban  dari pertanyaan ini, ‘Apa ya maksud dari rentetan tayangan ini?’ ‘Apa sudah benar dan sesuai penayangan itu? Apa ini tak merugikan hak penonton yang ingin menonton tayangan lain yang lebih bermutu? Sebelum pertanyaan ini semakin membabi buta dan sirik ada baiknya kita tonton saja dahulu dan…  ternyata memang gak ada misi apa pun apalagi mulia dibalik tayangan itu. Seluruhnya hanya untuk menangguk keuntungan dari para pengiklan. Mengapa di era yang sudah maju begini  televisi seperti kembali ke zaman Orba? Penonton ‘dipaksa ‘ untuk menonton  meskipun kita masih punya banyak pilihan -tetap nonton, pindah saluran  atau matikan- tapi cara pengelola televisi swasta ini menurut saya norak bin lebay.  Bayangkan, selama berjam-jam acaranya hanya tentang orang kawinan. Dan pamer kemewahan terasa sangat kental sekali di setiap sudut gambar. Saya pribadi hanya menonton sekitar setengah jam saja.  Namun orang-orang di sekeliling saya  terus saja berkomentar baik yang kagum atau mencela sekaligus. Berarti ini sukses dari segi pertunjukan. Bukan tak mungkin jenis tayangan ini nanti akan menjadi tren dan banyak yang mengekor.

B0YBoDACYAEsu3t.jpg largePihak KPI sudah menegur tapi sepertinya cuma dianggap angin lalu saja. Ada yang salah, tapi apa? Kontrol kurang, sisi kepatuhan yang kendur atau uang yang sangat berkuasa? Entahlah. Lalu peristiwa kedua yang sangat menyedot perhatian adalah pelantikan Pak Presiden. Hanya dengan menatap pawai usai pelantikannya saja nilainya bisa jauh melampaui tayangan si pengantin. Kalau dilihat bobotnya tentu saja tayangan Pak Presiden terlihat biasa meski hanya dikemas melalui liputan berita dan tanpa dukungan sponsor tertentu. Dan setelah menyaksikan dua tayangan fenomenal  pekan lalu, mengapa saya hanya mengingat pelantikan Presiden saja dibanding yang pengantin itu?

Silakan komentar