Arisan Kantor

on

Kemarin ada teman dari lantai atas mengajak saya ikut arisan kantor. Sistemnya kocok langsung, Rp. 10. 000 tiap hari Jumat. Menurut saya kegiatan itu memang bermanfaat untuk lebih mengakrabkan teman dari divisi lain. Selain juga untuk ajang pamer atau njualan mungkin nantinya. Entah mengapa saya merasa malas untuk ikut berbagai arisan yang diadakan. Sebulan lalu HRD juga mengajak divisi kita untuk ikut arisan dan pada waktu itu saya menolak dengan halus. Bukan apa-apa, melihat pengalaman sebelumnya dimana uang menjadi hal sensitif saat ada salah satu yang resign, maka hal itu akan menjadi beban pikiran baik si penyetor atau pun si penadah.

Si penadah kebetulan terkenal reputasinya yang buruk dan saat ia mengundurkan diri ia ikut tak bertanggung jawab atas aliran dana. Dan para penyetor terpaksa merelakannya. Kejadian seperti inilah yang membuat bimbang bagi saya untuk ikut arisan kantor. Arisan kantor memang sifatnya sukarela namun bila dalam perjalanan waktu nantinya melibatkan sentimen pribadi, pekerjaan, dan merembet ke mana-mana, maka arisan kantor menjadi berkurang nuansa keakrabannya. Alasan saya pribadi tak ingin ikut arisan di kantor sebenarnya adalah saya hanya ingin menjaga pertemanan dalam koridor teman kantor saja, tanpa diembel-embeli oleh berbagai kegiatan yang maunya lebih mengakrabkan diri tapi malah berujung dengki. Jujur  saja, tak ada yang disebut teman tapi juga tak ada yang disebut musuh dalam pertemanan kantor dan saya ingin tetap seperti demikian. Saya justru khawatir kalau seandainya saya terlalu nyemplung dalam kerumunan maka saya tak lagi bisa berpikir obyektif dan pasti cenderung memihak.

Saya malah mengidamkan jenis kegiatan yang jauh melebihi  sekadar arisan kantor. Dan saya masih mencari apakah kegiatan itu? Singkatnya saya menyambut kegiatan arisan tapi saya masih menunggu kegiatan yang lebih excited lagi. 🙂

Silakan komentar