lomba

Pelajaran Tentang Arti Menebar Kebaikan dari Seorang Penjual Bubur

Pelajaran Tentang Arti Menebar Kebaikan dari Seorang Penjual Bubur

Nyaris selama dua bulan ini kita telah melakukan perjalanan batin yang sangat panjang dan berliku. Perjalanan yang sangat berharga dan tak mungkin terlupakan begitu saja. Tak hanya saya, Anda, kamu, kita semua telah menjalani hari-hari yang begitu melelahkan baik fisik maupun psikis. Kemunculan sebuah virus yang mampu menyebarkan ketakutan dan kecemasan akan Covid19-nya  telah meluluh lantakkan semua sendi kehidupan. Begitu fokusnya terhadap wabah ini sehingga yang teringat terus menerus hanyalah bagaimana agar kita bisa selamat. Bagaimana agar keluarga kita terhindar sepenuhnya dari wabah pandemi ini. Bagaimana agar tidak terjangkit, dan sebagainya.

Perjalanan batin yang saya maksudkan di sini adalah menempa hati dalam kondisi yang ekstrem. Perjalanan yang sangat menguras emosi dan jiwa karena masa-masa pandemi adalah pembelajaran sesungguhnya untuk menghadapi perubahan.

Jujur saja, siapa yang tahan dengan segala kondisi yang serba dipaksakan ini. Awalnya tentu menyenangkan bisa selalu berkumpul bersama keluarga, bermain dan bercengkerama. Namun lama kelamaan ada saja gesekan kecil yang membuat seisi rumah merasa tertekan atau bosan. Anak-anak yang harus tinggal di rumah menuntut untuk keluar barang sejenak, mereka yang bekerja di kantor harus menahan diri melaksanakan Work from Home, atau dalam kondisi telah di PHK, atau kenyataan bahwa pemberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar ini ternyata telah membuat hati dan pikiran makin tidak tenang.

Pengacau Diam-Diam Itu Bernama Corona

Sewaktu bapak presiden kita mengumumkan pertama kalinya ada pasien yang terjangkit virus Corona, saya dan juga berjuta orang Indonesia lainnya sama-sama tak pernah menyangka kabar itu akan menjadi topik berita yang terus berkepanjangan hingga hari ini. Tak menyangka akan menjadi seperti ini pada akhirnya dan harus hidup serba cemas, panik serta tak tahu bagaimana harus menghadapinya.

Suasana normal yang seharusnya menjadi hari-hari biasa nyatanya berubah menjadi luar biasa. Saya sendiri harus membiasakan diri untuk menjalani seperti yang dianjurkan meskipun membutuhkan adaptasi waktu yang lama. Ada perasaan menolak dan enggan menerima segala macam pembatasan ini.

Di minggu-minggu awal memang ada semacam penyangkalan akan semua peristiwa yang sedang berlangsung. Pikiran-pikiran pengingkaran seperti misalnya; takkan mungkin Covid19 mendekati wilayah kediaman saya, atau virus itu tak bisa menyerang kalau kita kuat, terus saja berkecamuk. Dan setelah menyaksikan jatuhnya pasien yang kian meningkat, diri ini baru tersadar bahwa ancaman penyakit ini serius. Ketika serangan semakin masif dan menyebar di mana-mana, saya seakan diingatkan bahwa saya tak boleh lemah. Saya harus menyiapkan tameng khusus untuk menghalaunya jauh-jauh.

Merasa Bingung dan Sendirian

Kejadian dan perkembangan virus ini selalu hadir setiap hari selama dua bulan terakhir. Slih berganti dengan peristiwa yang menyertainya seperti panic buying, hilangnya masker, harus jaga jarak, kelangkaan hand sanitizer, harus di rumah saja dan yang terkini adalah dilarangnya para perantau untuk mudik. Untuk pertama kalinya kita dipaksa untuk melaksanakan perintah yang tidak populer.

Dan saya merasa terkurung. Sungguh-sungguh terperangkap.

Biasanya saya harus bertemu dengan orang lain. Saya harus ngobrol dan berjumpa dengan tetangga kiri kanan serta bertatap muka dengan orang lain lalu menceritakan apa saja yang terjadi pada hari ini. Namun akibat Pembatasan Sosial, kondisi demikian tidak boleh lagi terjadi untuk sementara waktu. Rasanya seperti dibelenggu, terkungkung oleh pagar yang tak kasat mata. Manusia sejatinya adalah makhluk sosial. Apa jadinya bila manusia tak lagi bersosialisasi?

Berjumpa dengan Kesadaran

Selama beberapa waktu berdiam diri saja di rumah justru membuat kita lelah batin. Sejujurnya saya merasa seolah  tak ada fungsinya bila berada di rumah saja. Banyak keinginan yang ingin direalisasikan, ingin jalan-jalan, ingin bertatap muka tanpa dibatasi oleh masker, ingin makan di restoran dll. Seorang kawan pernah  mengusulkan untuk menjelajah dan mengenali apa sebenarnya yang ingin saya lakukan.

Suatu hari saat saya sedang berjemur di pagi hari yang hangat, saya menyaksikan seorang mbak penjual bubur berjalan kaki menyusuri jalanan. Sebenarnya ia bukan orang yang tak asing lagi di lingkungan tempat tinggal saya. Ia sering melewati depan rumah dan menawarkan dagangan buburnya.

Perempuan yang tak pernah saya ketahui namanya selain dipanggil ‘Mbak’ ini sudah lama sekali berjualan bubur. Ia membawa dagangan buburnya yang digendong ke belakang tubuhnya dengan bantuan selendang. Bubur yang ia jajakan ada tiga macam. Bubur ketan item, bubur sumsum dan bubur kacang hijau. Bubur sumsum ia tempatkan dalam sebuah panci besar tersusun dua dan digendong. Sementara bubur lainnya berikut botol santan dan air gula  berada di dalam panci lebih kecil yang ia jinjing. Mirip penjual jamu gendong.

penjaja bubur sumsum

Setiap hari saya sebenarnya sering bertemu dengannya. Kadang ia lewat saat pagi sekitar pukul sepuluh, kadang agak siang mendekati waktu Zuhur, atau sore hari dengan isi panci yang sudah kosong. Namun yang menarik adalah kapan saja dan di mana saja saya bertemu dengannya, ia selalu menyuguhkan senyum. Tak pernah terlihat rasa lelah menggelayuti wajahnya. Ia pun selalu menyapa bila berpapasan.

Menyaksikan Mbak penjual bubur yang menikmati kesehariannya dengan berjualan keliling dan menyusuri kampung demi kampung tanpa kenal lelah, membuat saya tersentak. Selama ini rupanya saya hanya mengeluh saja. Padahal masih banyak orang-orang di bawah kita yang berjuang dan melakukan perjuangannya secara terus menerus dalam rentang waktu yang tidak sebentar.

Mbak penjual bubur ini setia dengan perjuangannya dalam mencari nafkah meskipun mungkin saja ada secuil kebosanan dalam menjajakan bubur. Terbayang di pagi buta ia harus menjerang air, mengaduk bubur, membuat candil ketan dan menyediakan saus santannya. Setelah itu ia akan menyiapkan pakaian dinasnya berupa kebaya, kain jarik, serta selendang untuk menggendong tenggok bambu sebagai wadah panci buburnya.

Setiap hari ia akan melakukan ritual demikian. Berjalan kaki. Tanpa bosan. Tanpa mengeluh.

Di mata saya mbak bubur ini adalah sosok yang tangguh karena di saat penjual bubur lainnya menjajakan dengan sepeda atau gerobak, ia tetap setia dengan kekuatan kakinya. Dan di saat lelah pun ia masih menebar kebaikan pada siapa pun dengan selalu tersenyum dan menyapa siapa saja yang pernah membeli buburnya, tak peduli kenal atau tidak.

Pakaian yang ia kenakan sangat sederhana tapi rapi dan bersih. Rambutnya yang panjang hanya ia gelung menjadi konde kecil. Pembawaannya yang ramah, sopan, dan sigap telah berhasil membuat saya merasa kenal secara dekat. Setiap bertemu selalu ada senyum dan sapaan singkat, “Mbak?” seraya mengangguk kecil.

Siraman Sejuk 

Terus terang dengan melihatnya melintas di jalanan, membuat saya merenung. Banyak pedagang yang juga memiliki etos kerja demikian. Ada bapak tua penjual kue donat, ibu penjual jamu gendong, atau penjual sayur keliling yang setia lewat di depan rumah saya. Semuanya memiliki peran yang sama sebagai pencari nafkah dan berjuang. Namun Mbak Bubur ini istimewa di hati karena mampu memberi siraman sejuk bagi saya yang sedang bingung.

“Buburnya, Mbak?”

Mengapa ia istimewa? Saya beri tahu. Semenjak kenal pertama kali hingga hari ini tak pernah sekalipun ia lupa menyapa saya.Padahal bisa saja ia pura-pura tak kenal. Tak sekalipun ada perasaan kesal, capek, ataupun jutek di raut wajahnya setiap saya berpapasan dengannya. Senyum tak pernah lepas di bibirnya. Bahasa tubuhnya cukup jujur memberitahukan bahwa ia pribadi yang hangat. Hati yang melihatnya seakan merasa sejuk seketika.

Alih-alih di masa pandemi ini seharusnya tidak berjualan demi kesehatannya sendiri, namun ia justru tetap menjajakan bubur, berkeliling dan tetap setia mengunjungi kami yang telah menjadi pelanggannya seraya bertanya apakah ingin membeli buburnya atau tidak. Dan hanya dia satu-satunya yang selalu memberi senyum di antara para penjaja makanan di lingkungan rumah kami.

Bersedekah Tak Memilih Orang

Kekuatan dalam mengendalikan emosi serta kelelahan akibat berkeliling kampung mampu ia kelola dengan baik. Saya yang awalnya sering merasa kesal oleh sesuatu yang sepele akhirnya menjadi tertular untuk bersikap tenang hanya karena melihatnya tersenyum tulus ikhlas sewaktu menyodorkan mangkuk bubur sumsum. Belajar darinya membuat saya merasa damai dan tenang. Ini sungguh suatu terapi singkat tentang bagaimana mengendalikan emosi dan mengelola perasaan negatif menjadi positif. Ia telah bersedekah untuk saya.

Seharusnya sayalah yang bersedekah untuknya, sayalah yang memiliki posisi kuat terhadapnya. Mengapa bukan saya? Mengapa justru Mbak Bubur yang bisa bersedekah? Melihat kondisinya yang serba kekurangan, rasanya pasti ia banyak memiliki keterbatasan. Namun ternyata tidak. Ia terlihat bahagia dan menikmati sekali pekerjaannya. Saya merasa tertampar oleh kenyataan bahwa Mbak Bubur ini lebih banyak memiliki stok sedekah untuk dibagikan pada semua orang.

Pemberian yang Membahagiakan 

Di bulan Ramadhan saat ini hati rasanya menjadi lebih tersentuh bila menyaksikan orang-orang yang kurang beruntung tapi memiliki tekad juang dalam mencari nafkah di tengah pandemi. Dan melihat kondisi si Mbak Bubur yang bersahaja, hati jadi tergerak untuk memberinya zakat. Bukan karena memandang dirinya yang miskin lalu saya menjadi jatuh kasihan, bukan. Namun karena saya ingin berbuat sesuatu untuknya. Saya ingin mendorongnya untuk tetap bersemangat dan tetap kuat dalam menghadapi sulitnya kondisi di masa ini.

Saya merasa Mbak Bubur ini adalah role model saya dalam berjuang. Dalam dirinya terpancar kekuatan untuk terus bangkit, mencari penghasilan yang halal dan tidak malas. Meskipun sudah bekerja menjajakan bubur ke mana-mana tak sekalipun ia goyah untuk beralih gaya berjualan seperti lainnya yang telah menjajakan bubur dengan gerobak atau bersepeda. Tak ingin sehari pun terbuang untuk sekadar santai di rumah. Saya melihatnya sebagai tokoh yang tahan akan tempaan hidup.

Sering saya melihatnya membagikan bubur secara gratis kepada anak-anak yang lewat saat ia berjalan pulang. Bubur yang masih tersisa banyak itu ia berikan dengan hati ikhlas dan tanpa syarat. Dan meskipun tidak seketika, saya juga pernah menyaksikan kebaikan berbagi itu mendapatkan ganjarannya. Dagangannya semakin laris, selalu dinanti-nanti para ibu yang ingin membelikan bubur sumsum untuk anak-anaknya dan disukai banyak kalangan.

“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya” (QS.Saba’:39)

Semakin banyak ia memberikan dan dinikmati, semakin banyak pula ia mendapatkan keberkahan.

Demikianlah, saya akhirnya belajar dari seorang tukang bubur tentang arti menebar kebaikan di tengah wabah pandemi yang entah kapan berakhirnya itu. Begitu sederhananya  perjalanan batin saya yang gelisah mendapatkan jawabannya. Cukup dengan bersyukur, bersabar dan memberi.

***

Dunia menjadi beban berat bagi kita, kita selalu mencari, membuang dan menyia-nyiakan kekuatan kita. Kita menderita penyakit kronis yang disebabkan karena mencari jumlah energi yang kita habiskan untuk mencari nafkah dan menjaga keseimbangan antara tuntutan rumah tangga dengan tuntutan karir. Tetapi meskipun nasib buruk dan suasana hati murung terus menerus menyerang perasaan dan indra kita, ada satu jalan bagi kita untuk mengatur hidup dan merencanakan masa depan yaitu dengan memalingkan diri dari dunia untuk menggali apa yang sebenarnya membuat kita bahagia.

Bagi masing-masing dari kita, jawabannya pasti berbeda. Tetapi begitu kita sudah mengenal batin dan kebutuhan rohani kita, kita akan mempunyai kemampuan untuk mengubah dunia di luar kita.

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Menebar Kebaikan yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *