Athirah: Makan Ikan, Sarung dan Kemandirian

Setelah beredar sekitar sepuluh hari diputar di bioskop, saya akhirnya punya keinginan untuk menonton film berjudul Athirah ini. Agak sulit juga menemukan bioskopnya, karena makin lama iklan di bioskop di koran makin kecil  pertanda film akan menyurut dan mungkin sebentar lagi menghilang dan hilang kesempatan untuk menonton di bioskop terdekat.

article-alberthiene-endah-soal-athirah-versi-film

Saya ingin menontonnya terdorong oleh rasa penasaran. Setelah fenomena AADC 2 mengapa duo Riri Riza dan Miles ingin membuat film yang ‘tidak terlalu terkenal’? Apakah ini pesanan, ada misi, atau ya sekadar suka dengan jalan ceritanya?  Rasa ingin tahu ini akhirnya bisa diungkap setelah menyaksikan filmnya. Ada berbagai pesan yang berjejalan untuk diambil  dan dituangkan. Namun saya merasa tema tentang kemandirian wanitalah yang menonjol di sepanjang film. Selain juga karena acara makan-makannya 🙂

Pada saat wanita begitu terpuruk , saat itulah  kita bisa menakar seberapa tabah hati wanita yang tersakiti ini untuk bangkit dan berjuang. Memang tak bisa disama ratakan namun contoh seorang wanita yang hidup di rentang era antara 1954- 1963 menjadi pertanda  bahwa kesadaran akan kemandirian itu memang harus ada dan sudah muncul. Tak peduli masa apakah yang sedang berlangsung.

Filmnya sendiri sangat humble, dengan latar yang mencerminkan tentang kondisi pada zaman yang belum maju namun pada sebagian orang ada yang telah memiliki bakat berusaha yang brilian. Keluarga Puang Ajji salah satunya. Beliau merantau ke Makassar dengan memboyong istrinya yang cantik, Athirah. Mereka gigih dalam berdagang dan nampak kompak. Kelahiran anak-anak  tak selalu membuat sebuah  rumah tangga menjadi lebih  harmonis.

Kala uang menjadi berlebih, lalu mulailah kepala ditolehkan ke wanita yang lebih menarik. Athirah menyadari bahwa malam-malam mulai menjadi lebih sepi dan kebohongan kian terasa nyata. Apa mau dikata, yang ditutupi itu akhirnya terkuak justru melalui orang lain.

salah-satu-adegan-film-athirah-_160923103943-211-2

Film ini tidak melulu mengangkat masalah poligami namun justru aspek lain yang lebih menggiurkan yakni parade makan-makan yang kerap disuguhkan di adegan makan di meja makan. Ada dua belas kali setidaknya adegan makan-makan ini berlangsung, wow. Menurut sutradaranya, makan-makan juga mengandung filosofi kebersamaan antar anggota keluarga dan itu penting untuk digambarkan.

Meskipun pesan disampaikan dengan sedikit dialog, bahasa gambar agaknya menjadi medium utama akan keberlangsungan cerita. Apalagi tokoh Ucu (JK- saat remaja) ternyata sangat pendiam dan irit bicara. Untunglah gambar-gambar ini mampu bicara banyak dan pergerakan kamera sangat dinamis menyoroti rumah beserta perabotan yang ada di dalamnya.

Sebenarnya kalau  kemandirian Athirah  itu bisa diekspoitasi lebih banyak lagi tentunya akan menjadi sesuatu yang  lebih mengangkat film itu sendiri. Menurut saya, film ini serba tanggung dalam menyuguhkan suatu permasalahan.  Ada sedikit konflik antara putra tertua dengan ibunya  berkenaan dengan kehamilan sekali lagi yang dialami Athirah. Sayang, adegan ini kurang mendapat porsi lebih. Padahal kita ingin tahu juga seperti apa JK remaja kalau lagi marah. Sementara gambar hanya menampilkan  kegamangan saja yang tertangkap dari raut wajah si putra sulung ini.

Mungkin karena saya belum pernah membaca novelnya jadi menurut saya film ini bagus dan sesuai dengan zamannya . Tidak bertele-tele dan cepat dalam berpindah gambar. Cut Mini berakting sangat wajar  dan mampu mentransformasikan diri sebagai wanita yang ulet, gigih dan berhasil bangkit. Untuk urusan detail dan properti saya senang dengan segala hal yang berbau masa lalu. Kursi-kursi tamu, lemari, meja rias, ranjang, rumah kuno, bahkan becak  zaman dahulu adalah  hiburan tersendiri dalam hal kekunoannya.

 

film-athirah1

Potret wanita yang hidup di masa ketika devaluasi rupiah menjadi momok di negeri ini sekaligus bagaimana mempertahankan rumah tangganya sendiri adalah tema yang jarang diangkat ke film. Dan begitu kisah ini diangkat ke layar lebar, rasanya seakan ada  yang melekat terus dalam pikiran. Plus, sarung sutera Bugis yang bertebaran akan menjadi pengingat paling  erat tentang figur Athirah.

sarung

Namun, mengapa pertemuan antara Ida dewasa dan Ucu dewasa menjadi penutup paling ‘mengecewakan’ dan seakan ada yang belum disampaikan? Menggantung begitu saja. Akankah ada kelanjutannya?

 

 

Silakan komentar