Balada Pilkada

Suasana hiruk pikuk yang nantinya bakal muncul  saat Pilkada ternyata tidak terjadi.  Cipulir mengadakan pemungutan suara dalam keadaaan adem ayem dan menjurus ke kalem. Pengeras suaranya saja gak kedengaran dari rumah. Tapi memang anggota panitia di TPS saya ini kalem-kalem semua.  Mereka tak perlu memasang TOA atau berpakaian ala-ala  wayang  misalnya. Cukup memakai kaus seragam yang dibagikan oleh RW setempat.

Pagi itu cuaca cerah dan tidak ada tanda akan  hujan sama sekali, langit pun biru disertai tiupan angin yang sepoi-sepoi lembut (halah, bahasanya).  Mbah M dan Mbah K sudah siap untuk mencoblos di TPS 45.  Gak perlu heran kenapa hanya mereka berdua yang ‘terpilih’ nyoblos karena memang yang  mendapat undangan cuma mereka saja.  Nama saya sama sekali tidak tercantum di papan nama  calon pemberi suara alias tak ada undangan untuk saya.  Dan ini mengherankan, sodara-sodara.

Kalau yang lain malas mencoblos, saya  justru penasaran ingin mencoblos. Jadi meskipun nama saya gak tercantum di papan data, saya tetap datang ke TPS setelah jam 12 siang dengan membawa Kartu Keluarga, e-KTP dan fotokopinya masing-masing selembar. Mengapa saya ingin berbuat seperti itu,  ya karena saya ingin mencoblos dan tak ingin suara saya dipakai orang lain, sesederhana itu saja. Tapi mungkin juga ingin dapat diskon kalau belanja dengan syarat jarinya penuh tinta 🙂

Sesampainya di TPS suasananya ruwet dan kisruh. Ternyata panitia gak siap dengan kedatangan sejumlah warga yang tidak terdata ini. Kehabisan formulir dan panitia bingung sendiri adalah  masalah yang dihadapi di wilayah saya. Panitia kaget karena ternyata banyak warga yang benar-benar tidak terdaftar  dan kepingin ikutan nyoblos di siang yang panas dan belum sempat makan siang itu.

Saya sendiri harus menunggu proses administrasi yang ruwet ini sekitar setengah jam.  Banyak yang mengkritik dan memprotes tapi mau bagaimana lagi, ini sudah hari H dan semua dimohon sabar. Dan memang hanya dengan kesabaranlah akhirnya kita-kita ini,  kaum ‘terlupakan’ bisa masuk ke bilik suara.

Hal yang absurd lagi adalah beberapa mantan tetangga saya yang sudah pindah jauh dari wilayah TPS ini malah justru mendapat undangan mencoblos. Mereka ada yang datang dari Ciledug, Depok, bahkan Cibinong dan mau merepotkan diri untuk mencoblos di wilayah  lain. Padahal secara administrasi, mereka sudah tidak terdaftar lagi di wilayah lama  dan seharusnya mencoblos di tempat yang baru.  Agak membingungkan  memang. Dan dengan kedatangan para mantan tetangga ini, suasana menjadi lebih riuh dan ramai dan mirip Lebaran. Orang saling bersalaman dan banyak yang lalu lalang untuk saling mengunjungi dari rumah satu ke rumah yang lain.  Situasi ini diramaikan lagi oleh para penjual makanan dan  ditetapkannya pilkada ini sebagai hari libur.  Lengkap sudah sebagai sebuah hari reuni besar sekaligus ajang silaturahmi.

Anak-anak muda pun tak kalah aksi. Mereka ikut berseliweran dengan motornya ke sana kemari meskipun ternyata banyak jalan yang ditutup akibat dijadikan sebagai TPS.

Hal-hal seperti  tak terdatanya warga memang bikin puyeng kepala anggota panitia dan meskipun sepele nyatanya banyak yang kecewa oleh aturan aneh seperti ini. Ibarat semut di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tak nampak.

Saya dan beberapa orang yang terlupakan seperti ‘gajah’ yang tak kelihatan. Sedangkan para mantan tetangga  justru adalah semut yang sangat kelihatan.  Untunglah, hasil penghitungan akhir menunjukkan gejala dilakukan Putaran kedua, Mungkin nantinya akan ada pembenahan besar-besaran menyangkut jumlah pencoblos yang sebenarnya dan bisa didata ulang lagi. Mungkin  saya dan keluarga bisa bersama-sama menuju ke TPS dan tidak tercerai berai lagi.

Silakan komentar