Banjir? Tetap Semangat

on

spirit_weekTelah seminggu lamanya saya berjibaku dengan  banjir ini. Rupanya bencana banjir telah memporak porandakan kehidupan warga ibukota secara umum. Semuanya menjadi berantakan gara-gara banjir. Segala pertemuan kantor yang terjadwal harus dikompromikan lagi mengingat dampaknya yang  meluas itu. Belum lagi kendala transportasi yang sukses memperlambat karyawan tiba di kantornya. Yah, akibat banjir kita -kaum pekerja- harus putar otak  mencari cara agar berangkat dan pulang kantor dengan selamat. Meskipun satu-dua hari rekan-rekan saya menikmati libur dibalik alasan banjir namun ternyata  panggilan hati untuk bekerja dan (sedikit) keinginan menonton banjir di jalanan sangat besar. Para pemotor akhirnya menjadi kreatif mencari-cari lagi jalan tikus agar sampai tujuan serta demi menghindari kemacetan. Dan jam makan siang di kantor tak hanya diisi nonton berita banjir namun juga diselingi dengan cerita-cerita mereka yang terjebak banjir, naik gerobak, mesin kendaraan mogok, atau ditagih ongkos lebih mahal dari biasanya.

Telah seminggu lamanya menanti banjir usai tapi koq ya belum ‘selesai’ juga banjirnya. Nampaknya ini banjir terluas, terparah dan terlama. Memang, semua pihak memprediksi kisah banjir nanti akan berakhir sekitar Imlek. Namun apa daya alam tak bisa dicermati secara eksakta. Ada saja waktu bagi hujan untuk mencurahkan air sesukanya. Entah tengah  malam, dini  hari,  atau pas jam-jamnya perut lapar saat di kantor sehingga tak bisa jajan siomay 🙂   Namanya juga musim hujan, sudah pasti hujan akan turun terus menerus. Lalu bagaimana kita menyikapi hujan dan banjir ini? Tentu saja kita harus selalu waspada, hati-hati dan terus memantau keadaan. Di kantor saya, gara-gara banjir orang jadi saling bertanya semisal ‘Di jalan anu banjir gak?’, ‘lewat jalan anu macet gak’. Atau ‘Jangan lewat sana,  itu jalur banjir dan banyak lubang’. Bahkan isi pesan Whatshapp beberapa minggu ini hanya berkisar tentang update banjir melulu meskipun ada juga yang iseng menyebar hoax.

Nah, semangat seperti itulah yang patut diapresiasi. Tak ketinggalan kantor pun ikut memajukan jam pulang kantornya. Kita jadi saling tolong dalam memberikan info banjir dan memberi tumpangan 🙂 . Meskipun banjir dan macet telah menjadi kawan yang seiring sejalan belakangan ini, sebagian dari kita pasti akan menerima keadaan dengan pasrah. Habis, mau bagaimana lagi? 😀

Silakan komentar