bicara karier

Bekerja dengan Rasa Baru

June 9, 2018

Setelah terombang-ambing oleh ‘ketidakpastian’ akhirnya saya mendapat semacam limpahan tugas yang benar-benar baru dan menantang. Setelah lama bergaul dengan film, quality control movie, cue-in  dengan tetek bengek time-code dan frame, saya akhirnya menjalani semacam penjaga di  dunia maya yang sungguh hiruk-pikuk. Online shopping alias toko daring.

Jujur selama ini saya hanya memandang dari jauh saja keriuhan sebuah online shop, entah sebagai konsumen atau sebagai penonton yang cuma melihat-lihat flashsale tanpa tertarik untuk membelinya.

Namun kali ini saya justru ada di belakang layar toko daring yang khusus dibuat oleh perusahaan di tempat saya bekerja dan saya mau tak mau harus memantau perkembangannya setiap saat. Mana yang perlu dinaikkan barangnya, mana yang dipush, menjawab pertanyaan via WA, dan mengurus segala hal yang intinya jangan sampai membuat konsumen kapok berbelanja adalah sebagian tugas baru yang saya jalani.

Lima hari pertama adalah neraka yang sesungguhnya bagi saya yang tak pernah berkecimpung di dunia ini. Kurang tidur, dikejar-kejar tugas membuat laporan yang entah kenapa tak ada habis-habisnya, dan setiap hari makin bertambah muatannya. Susul menyusul meskipun sudah dicicil beberapa kali tetap saja ada yang masih tercecer.

Pekerjaan ini tantangannya berat sekaligus ringan. Berat karena hanya saya sendiri satu-satunya yang mengelola semuanya. Tidak ada asisten, rekan dalam tim, apalagi orang yang memback up semua. One man show lah. Dianggap ringan karena saya tinggal menjalani apa-apa yang sudah berjalan, dan mempelajari sesuatu yang bagi saya baru semisal bikin laporan penjualan, rekap penjualan sebulan, tarik dana dll.

Ini memang ladang baru yang tentu saja excited sekali menjalankannya. Ibarat spons saya menyerap semua yang terhidang hingga otak rasanya penuh dan seakan gak ada tempat lagi. Sepintas pekerjaan ini sangat sepele. Hanya memelototi situs, up date stok, menjawab pertanyaan, memproses produk yang sudah dibeli  konsumen, pengepakan, dan kirim melalui jasa kurir, selesai.

Tetapi, teori biasanya berbanding terbalik dengan kenyataan. Sesungguhnya mengurus produk yang dibeli oleh satu konsumen ternyata sangat menguras tenaga dan pikiran belum lagi saat menyusun laporan di penghujung hari. Itu baru satu konsumen, bagaimana bila dalam sehari ada 4-5  order dengan jenis barang yang berbeda? Dalam kondisi  seperti ini untunglah tim gudang adalah tim yang sangat diandalkan, sekaligus penyemangat. Kalau tak ada mereka entah bagaimana toko bisa berjalan.

Penyemangat lainnya adalah respon para konsumen yang rata-rata mengucapkan rasa  terima kasih yang tulus atas layanan barang yang cepat, isinya bagus dan tak mengecewakan.

Jadi, di balik hal yang menekan pikiran, masih ada ruang untuk merasa bahwa orang lain pun bisa memahami dan memberikan apresiasi yang baik di luar yang kita pikirkan.

Sabtu siang lalu adalah  waktu yang tepat untuk melakukan video call dengan seorang teman yang lama berkecimpung di dunia per-online shopping-an. Sudah pasti sayalah pihak yang selalu bertanya, dan ia yang menjawab. Percakapan demi percakapan mengalir hingga saya menyimpulkan sendiri bahwa terjun ke suatu wilayah kerja yang baru itu butuh dorongan, motivasi, pressure, dan umpan balik demi terciptanya kelancaran yang makin menegaskan bahwa pekerjaan ini memang butuh komitmen tinggi agar lancar dan sukses.

Akhirnya ukuran berat dan ringan suatu pekerjaan bukan dilihat dari satu minggu atau sebulan,  namun  tergantung dari cara pandang seseorang dalam melakoninya.

Silakan komentar

%d bloggers like this: