Benci Itu

Kalau mau membicarakan sifat buruk manusia yang akhir-akhir ini saya miliki mungkin adalah rasa benci. Di samping itu ada juga rasa kesal, amarah, jengkel, merasa bodoh dan aneh (?). Setelah ditelusuri, sumber rasa benci itu berakhir di pundak seorang rekan karyawan pria yang saya gelari si Pembolos yang sama-sama mengabdi di kantor. Tadinya benci hanya pada cara kerjanya namun seiring dengan berjalannya waktu, benci ini merembet juga ke sosok manusianya. Celakanya saya mesti harus terus melihatnya selama  bekerja di kantor!

Orang bilang antara benci dengan suka bedanya cuma selapis benang yang tipis. Sangat kabur dan halus. Sehari merasa benci, sehari merasa senang (Doh, kayak syair lagu saja). Begitu seterusnya. Namanya manusia tentu mengalami daur ulang perasaan bukan? Tapi yang terjadi pada diri saya adalah selaluuu benci dan sebal padahal saya tidak sedang memupuk perasaan itu. Dan selaluuu benci itu hanya terjadi di kantor dan tak merembet kemana-mana. Bila pulang ke rumah, tak ada lagi pikiran untuk benci pada orang lain. Kadang muncul pula sifat buruk saya yang lain: tak mengindahkan apa yang dia bicarakan. Saya menganggapnya angin lalu, Menganggapnya tak ada sama sekali. Pernah dalam sehari bekerja saya tak bicara sepatah kata pun padanya. Saya malas saja. Saya malah tak tahu apa ini akan mengganggu karir saya atau tidak? Di dunia kerja pasti ini akan mengurangi poin tapi kadang saya tak terlalu peduli dengan karir. Tolok ukurnya bukan itu menurut pikiran sederhana saya. Memang, karir dibangun bukan saja melibatkan interaksi sosial tapi juga personal secara vertikal dan horizontal. Dan saya masih belum tahu solusinya. Saya ingin tahu apa komentar para pakar karir bila mengalami perasaan seperti saya, yang memiliki rasa benci segunung (saking bertumpuk-tumpuk!) di tempat kerja.  Mengapa segunung? Karena rasa benci tidak begitu saja muncul tapi melalui tahap dengan melibatkan mata dan telinga secara bertahun-tahun.

Kalau solusinya dialog, saya takkan lakukan karena itu akan menambah pengakuan buat dirinya. Saya bukan tipe pengadu yang nyinyir bicara ke bagian HRD. Prinsip saya, biarlah  nanti juga akan terjawab melalui angin (?). Mau saya adalah berikan dia shock terapy yang benar-benar membuatnya jera. Bukan hanya sekedar memberi SP, ST, Surat Perjanjian.., halah takkan mempan lagi buat dirinya. Saya malah melihatnya seolah dia menantang perusahaan agar dia dipecat dan diberi pesangon. Woalah.

Saya sampai bertanya kemana perasaan bijak saya berada (kalau memang saya punya?) Where is my good attitude and common sense? Mengapa saya selalu kembali ke titik nol lagi? 😉

Silakan komentar