musik | ulasan film

Bohemian Rhapsody, Nyanyian Kegelisahan Seorang Freddie

November 21, 2018

Penonton setia bioskop di bulan Nopember ini dimanjakan dengan tontonan berlatar musik yang berkelas dari dua film. Salah satunya adalah film biopik berjudul Bohemian Rhapsody. Dari sejak trailernya yang diluncurkan sebulan menjelang penayangannya pertama kali, saya merasa harus menyaksikan filmnya. Ini tak boleh dilewatkan.

Padahal saya adalah orang yang katakanlah baru-baru ini saja mengenal grup musik Queen. Saya tanpa sengaja mengenal Freddie berikut lagu-lagunya sewaktu diminta menerjemahkan film musikal tentang vokalis Queen ini untuk kebutuhan DVD. Saat itu saya hanya membaca skripnya saja dan belum menonton aksi-aksinya.

Setelah menonton DVDnya, seakan kilasan masa lalu menyerbu kepala ini sesudahnya. Rupanya saya, lebih tepatnya telinga saya sebenarnya sudah akrab mendengarkan lagu-lagunya entah melalui radio atau kaset kompilasi zaman dulu. Rentang waktu antara tahun 80-90 Freddie begitu produktif menyanyi baik dalam proyek solo atau grup. Dan kenangan itu muncul kembali ketika saya menyaksikan film Bohemian Rhapsody. Ada rangkaian lagu-lagu yang mengingatkan kembali pada kejayaan Queen baik berupa rock, R&B maupun pop balada serta masa-masa saya sekolah dulu.

Hingga ketika tulisan ini dibuat, filmnya masih tetap ditayangkan di bioskop. Saya menonton di hari ke-11 dan betapa terkejutnya karena penonton masih terus saja membanjiri bioskop, bahkan bersedia untuk duduk di bangku barisan depan!

Doing All Right

Sebenarnya motivasi saya menonton gak muluk-muluk, hanya ingin menyaksikan transformasi seorang Rami Malek menjadi Freddie seutuhnya. Ditambah bagaimana kehidupannya serta lagu-lagu yang menyertainya. Film dengan durasi sepanjang nyaris 2,5 jam itu tanpa sadar membuat saya ikut mengetuk-ngetukkan jari dan kaki saat lantunan salah satu  lagunya terdengar. Bahkan, dari menonton Bohemian Rhapsody ini saya justru kepincut dengan lagu yang dimainkan oleh Smile, grup pra Queen yang nyatanya tetap masih enak didengar meskipun sudah lawas, Doing All Right.

Intronya sangat manis dan otomatis saya segera mencarinya melalui YouTube. Ya, generasi saat ini begitu dimanjakan oleh kanal ini sehingga saya dengan mudahnya langsung bisa mendengarkannya berulang-ulang.

Namun di atas semua ini momen yang bikin merinding adalah saat Freddie dan kawan-kawan mengisi acara Live Aid untuk penggalangan dana kelaparan Ethiopia. Saya pribadi juga ingat dengan peristiwa itu karena informasinya ditayangkan melalui TVRI. Saat Bob Geldof ingin mencari dana, saya kebetulan pernah menyaksikan acara jumpa persnya. Sayang, pertunjukan Live Aid yang spektakuler itu justru tidak ditayangkan secara internasional alias terbatas. Lagi-lagi lewat YouTube semua bisa dimungkinkan. Tayangan tahun 1985 dalam film Bohemian Rhapsody itu serasa hidup kembali dan sangat mirip dengan kondisi aslinya. Mulai dari gaya Freddie yang sedang loncat, menari, mengirim cium jauhnya sampai peletakan gelas pepsi di meja piano. It’s so detail.

Intro Piano

Alur kisahnya paralel dan sangat intens dengan sosok Freddie yang dominan dalam segala hal termasuk dalam  proses kreatif penciptaan lagu Bohemian Rhapsody nya yang sungguh pelik. Untuk ukuran zaman dulu, lagu ini sangat luar biasa dan terbilang unik dalam memodifikasi suara-suara baik latar maupun synthesizernya. Demi menciptakan suasana opera, mereka harus berulang-ulang take vocal hingga mencapai nada yang diinginkan dengan puas. Hasilnya, sudah bisa ditebak, lagu ini meledak!

Saya suka dengan peran yang dibawakan oleh ketiga rekan Freddie. Brian May yang dimainkan Gwilym Lee, Roger Taylor oleh Ben Hardy, dan John Deacon oleh Joe Mazzello. Sungguh mirip, dan seakan menyaksikan keempat pemain itu yang sesungguhnya.

 

Adegan pembuka yang menampilkan saat-saat Freddie melangkah menuju panggung Live Aid sungguh epik. Terlebih adegan ia memainkan intro awal Bohemian Rhapsody ini, wuih, lebih merinding lagi ketika kamera begitu jelas menyorot raut wajahnya. Seakan tayangan BBC saat Live Aid dulu itu diputar ulang lagi namun formatnya lebih jelas  lengkap dengan penonton yang ekspresif.

Kegelisahan Freddie

Tak bisa disangkal Bohemian Rhapsody adalah bentuk kecemasan batin Freddie yang takut akan sesuatu. Takut ditinggal rekan-rekannya, takut kesepian dan yang lebih menakutkan adalah bila ia tak memiliki cukup waktu lagi untuk bersama-sama. Di balik sosok yang gagah dan percaya diri sebetulnya  ia adalah pribadi yang rapuh dan selalu rindu akan keramaian dan kehadiran Mary Austin, kekasih pertamanya.

They just need a bit of time,

What if I don’t have time?

 

Film ini cukup menjawab rasa ingin tahu apa yang terjadi dibalik penciptaan lagunya. Dan yang tertinggal usai menyaksikan film ini adalah rasa empati dari penyakit yang dideritanya. Akibat ketidaktahuan dan pergaulan yang terlalu bebas Freddie menjadi korban. Hal yang dikagumi setelah menyaksikan film ini adalah bagaimana rekan-rekannya bisa menerima kembali Freddie sang ‘Ratu’ yang sering terlambat latihan, dominan, mau menang sendiri dan pergi meninggalkan grup namun dengan sikap ksatria ingin kembali dan manggung bersama di hadapan ribuan penggemar.

 

Kalau banyak yang mengharapkan Rami Malek meraih Oscar, saya rasa itu tidak berlebihan. Disamping film ini lintas generasi-penontonnya mulai dari kakek-kakek hingga generasi Millenial- sebagian besar lagu-lagunya cukup akrab di telinga hingga saat ini.

Film yang sungguh menawan.

Silakan komentar

%d bloggers like this: