Bulan yang Payah

on

Di bulan itu sesuatu yang sangat penting terjadi di bulan  Juni kemarin.  Sebenarnya gak terlalu penting banget tapi bagi saya pribadi ini untuk  menandai saja berbagai kejadian yang lalu-lalang selama hampir dua bulan berselang.  Ada kejadian pindah kantor yang menyebalkan, ada pernikahan yang  memeras pikiran, ada pekerjaan yang tertunda, ada teman kantor yang ‘tak suka ‘ dengan cuti yang saya ambil, ada tetek-bengek lainnya yang herannya menumpuk menjadi satu di bulan itu,  Juni kemarin. Berbagai  daya dikerahkan untuk mensukseskan dua bagian ini: pekerjaan di kantor dan sembari berbagi pikiran dengan menyiapkan pernikahan Kakak. Alhasil, tak ada dua  kesibukan yang bisa berjalan beriringan. Salah satu harus dikesampingkan dahulu. Namun efek sudah mulai terasa. Entah kekesalan, kejengkelan, kemarahan, bercampur dengan sakit flu yang melanda akibat kelelahan  semuanya mewarnai hari-hari di bulan Juni. Saya ingin menyeimbangkan pikiran diantara keduanya namun apa daya seluruh komponen kadang tak mendukung. Entah apa yang salah.

Kepindahan kantor bulan lalu juga cukup menyita perhatian  karena  waktu untuk menyesuaikan diri berikut peralatan penunjangnya juga memerlukan adaptasi lama. Memakan waktu 3 minggu. Dari mulai listrik yang kerap mati-hidup, mati-hidup,  alat cue-in yang rusak, AC yang tidak dingin, suasana kerja dengan penempatan meja kerja yang tak sesuai keinginan, ditambah teman yang ‘nyolot’ semuanya memusingkan kepala. Sesampai di rumah  masih dihadang oleh persoalan lain.  Kesabaran adalah kunci mengatasi masalah. Namun, kalau ada yang masih bersikap ‘nyolot’ apa daya ini? Saya sih tak meminta dimaklumi tapi mengapa orang kadang tak punya rasa empati sama sekali. Saya rasa kalau seseorang punya rasa empati sedikit saja  maka ia adalah cermin orang yang bijak. Sayangnya itu tak saya temukan di kantor.

Silakan komentar