Catatan Kecil tentang Kebun Buah Mangunan

Sebenarnya nama Mangunan dan Dlingo itu baru terkenal sekarang-sekarang ini. Setelah jalan-jalan ke Imogiri, tiba-tiba saja tercetus keinginan untuk mengunjungi kebun buah Mangunan yang katanya sedang happening di Instagram dan letaknya tak jauh dari Imogiri. Maka usai menyantap nasi pecel di pajimatan Imogiri, saya tergoda untuk mendatanginya. Hal yang tak terpikirkan adalah hari itu adalah masih dalam suasana libur lebaran dan semua kendaraan ternyata terfokus ke arah wilayah ini.

Jalur Macet

Jadi bisa dibayangkan bahwa meskipun kita mendapat kendaraan di pasar Imogiri yang panas dan hikuk pikuk itu, akibat macet yang luar biasa kebun buah akhirnya hanya bisa dinikmati di penghujung hari saja oleh kami, alias tidak total menjelajahinya.

Memang sih kesannya tanpa rencana dan mendadak tapi saya pikir ini daerah yang tak terlalu direpotkan oleh macet alias mulus saja dan pasti orang akan lebih senang mendatangi pantai Parangtritis atau pusat kota atau objek wisata di Kulon Progo  daripada ke sini. Ternyata perkiraan saya meleset. Selain jalan yang sempit, menanjak dengan turunan yang curam, kendaraan pribadi sangat dominan dan cenderung berhenti di pinggir jalan sekadar untuk melihat pemandangan sehingga kemacetan tak terelakkan. Seakan jalur menuju Puncak pindah semua ke arah Mangunan.

Magnet utamanya adalah hutan pinus eksotis dan Puncak Becici  tapi tahun kemarin saya sudah pernah ke sana. Jadi tahun ini giliran mengunjungi kebun buah Mangunan. Dan tanpa mengetahui seperti apa medannya, saya ikuti saja jalan menuju Kebun Buah Mangunan ini. Katanya sih, menarik dan sama eksotisnya dengan hutan Pinus. Cuma untuk mencapai ke arah sana sangatlah menantang dengan jalanan yang satu jalur ke arah hutan Pinus, sempit dan kiri kanannya berupa lahan atau jurang kecil.

Petugas yang lebay

Setelah berbelok ke kanan ke arah Kebuh Buah, kemacetan yang sebenarnya justru muncul di tempat ini. Diawali dengan menuju parkir  yang macet panjang dan justru disebabkan oleh hal sepele, mengobrol. Setiap pengunjung yang hendak membayar retribusi pasti menyempatkan bertanya dengan petugas di gerbang masuknya. Mungkin mereka bertanya apa isi kebun buahnya, buahnya berupa apa saja, selain buah ada keunikan apa lagi, dst, dst yang ternyata memakan waktu lama. Bayangkan bila setiap pengunjung menghentikan mobil dan  bertanya sekitar 10-13 menit, sementara ada antrean mobil masih menanti di belakangnya hasilnya adalah macet panjang seperti yang saya alami.

Celakanya petugasnya ini dengan senangnya menjawab berpanjang-panjang lebar dan bertindak khas manusia Jawa yang selalu menuturkan kalimat dengan santun dan lama. Akibatnya antrean ini jadi mengesalkan dan makan waktu. Petugas tidak paham dan masa bodoh dengan kemacetan yang mengular. Selain tidak tanggap dan responsif, macet diperparah pula oleh perilaku pengendaranya  yang juga ingin berlama-lama ngobrol atau sekadar berhenti.

Sore baru sampai

Akhirnya sampai juga di Kebun ini sore sekitar pukul 15.30 wib. Kebun buah yang saya kira mirip Taman Buah Mekar Sari ini ternyata menurut pengamatan saya biasa saja. Bahkan tak mirip banget dengan Mekar sari.  Kesan yang saya lihat hanyalah lahan yang ditumbuhi bermacam pepohonan seperti rambutan, mangga, nangka, duren yang well, pokoknya memang seperti layaknya kebun buah namun sayangnya tak sesuai dengan apa yang ada di benak saya.

Ada kandang rusanya

Saya mengira Kebun buah ini dikelola secara profesional  dengan buah-buahan tersedia di mana-mana, ranum dan boleh dipetik serta lengkap termasuk buah khas yang tumbuh di tanah Jawa. Ternyata gambaran awal tidak sesuai babar blass…:)

Oleh sebab itu saya hanya mampir sebentar dan menjelajahi sedikit. Sebenarnya ada tempat untuk berfoto ria dan harus menaiki bukit yang menanjak demi mendapat gambar ala Negeri di Atas Awan yakni mendaki jalur menuju Puncak. Namun karena sudah lelah akhirnya cukup hanya memandangi kolam cokelat saja (entah apa maksudnya ada kolam keruh di sini?) dan duduk melepas penat.

Siap-siaplah mendaki

Well, kunjungan ke kebun buah Mangunan kali ini memang kurang berkesan akibat beberapa hal yang kurang sesuai dari yang diharapkan. Perjalanan ini memang kurang memuaskan tapi mungkin dengan adanya peristiwa ini saya bisa ambil hikmahnya.

Bahwa jalan-jalan pada saat rame-ramenya arus liburan entah Lebaran, Natal atau liburan sekolah adalah ide yang kurang bagus. Atau kalau mau, berangkatlah sejak pagi agar terhindar dari kemacetan panjang dan rombongan manusia yang kian banyak menjelang siang. Apalagi kawasan Mangunan ini sedang menjadi buah bibir di kalangan pemburu foto pemandangan.

Bahwa objek wisata Jogjakarta sangat menarik minat kaum turis lokal dan sudah pasti di manapun dan kapan pun tempatnya akan selalu dipenuhi oleh manusia.

Sebenarnya ada spot-spot cantik seperti yang kita lihat di instagram atau blog-blog perjalanan namun saat saya ke sana lokasinya kurang mendukung karena rata-rata kita harus jalan kaki. Bagi mereka yang tak terbiasa jalan menanjak, terjal dan agak jauh itu pasti lumayan melelahkan iya nggak? Bisa dibilang anak muda adalah tenaga paling kuat dan mampu untuk melakukan pendakian.

Mungkin kalau saya datang lebih awal saya pasti juga akan ikut mendaki demi mendapatkan secarik foto berlatarkan pemandangan luas nan hijau atau kalau beruntung kabut yang turun perlahan dan terkesan eksotis itu.

 

 

 

One Comment Add yours

  1. matureorchid says:

    Mending hutan pinus aja yak…

Silakan komentar