Code of A Killer

  • Tayang perdana: 6 April 2015
  • Network: ITV
  • Pemain: John Simm, Anna Medeley, David Threllfall
  • Genre: Drama, Mini seri, biografi
  • Episode: 2
  • Rating: 4,5/5

Why would he get someone to give their blood if he didn’t have something  to hide? Why would a-17 year-old lad admit to  a crime he didn’t commit? We’ve been here before.

MV5BMTQ2MjAxMjY3NV5BMl5BanBnXkFtZTgwOTc2MTQxNTE@._V1_SY317_CR5,0,214,317_AL_Sepenggal kalimat yang menjadi pertanyaan sekaligus petunjuk  polisi dalam mengungkap kasus pembunuhan dua remaja putri berusia 15 tahun Lynda Mann dan Dawn Ashworth di wilayah  Leicestershire, Inggris antara tahun 1983-1987. Kisah ini menjadi menarik karena selain menceritakan tragedi juga prestasi Dr. Alec Jeffreys dalam  menemukan pembunuh melalui tes darah untuk menentukan DNA. Dan di kasus inilah  pelaku ditetapkan berdasarkan tes DNA. Tidak lagi melalui sidik jari. Tak ada kejahatan yang sempurna. Meskipun si pembunuh telah menghabisi nyawa secara acak dengan kurun waktu berbeda, ada saatnya ia lengah dan polisi menuai jerih payahnya dengan gemilang. Mini seri yang diangkat dari kisah nyata ini dibuka dengan peristiwfanart_ver1a pembunuhan seorang remaja putri bernama Lynda. Detektif David Baker dari Kepolisian setempat kesulitan mengungkap pembunuhnya. Tak jauh dari situ, seorang ilmuwan bernama  Dr. Alec Jeffreys  berhasil menemukan metode penelusuran jati diri melalui darah yang disebut uji DNA. Ia menyimpulkan bahwa setiap manusia adalah unik. Tak ada yang sama persis. Masing-masing memiliki karakter  yang sangat berbeda. Tak lama kemudian sebuah pencarian besar-besaran di wilayah Leicester  dilancarkan. Seluruh warga pria berusia antara 16-34 tahun harus menjalani tes darah untuk diketahui DNA-nya.

codeKiller-komputer
Perhatikan komputernya

Penggarapan film ini cukup detail terutama dari segi wardrobe, properti, latar serta gaya yang mencerminkan keadaan di tahun 80-an.  Cerita berdurasi 130 menit ini dibagi menjadi 2 episode. Di awal-awal  terasa agak lamban dan berlama-lama. Namun di episode kedua, cerita mulai terasa ada konflik dan banyak adegan menarik. Jalan ceritanya seakan kita membaca cerita kriminal dengan alur dibuat mulai ada kasus, penyelidikan, pengungkapan lalu penangkapan. Segi yang menarik adalah saya bisa menyaksikan kondisi pada masa itu dengan segala keterbatasan alatnya. Semua yang ada terlihat  antik. Telepon di meja, telepon koin, komputer, kacamata yang dikenakan, mobil-mobil yang dikendarai hingga sweater yang dipakai, what a vintage display!

Pada akhirnya kasus pembunuhan hanyalah sebagai pengiring . Hal yang utama adalah kontribusi ilmu pengetahuan yang bersejarah dan bermanfaat bagi umat manusia yakni Uji DNA. Bayangkan apabila terjadi salah tangkap dan orang yang tak bersalah telanjur hancur nama baiknya. Sebuah  misi yang sangat penting dan membuka cakrawala penyelidikan di bidang kriminologi.  Saat menonton, saya heran mengapa banyak yang memberi film ini rating yang tinggi? Ternyata jawabannya  ada pada aspek kedokterannya. Pencarian dengan pengambilan darah sangat berisiko di masa sekarang (terutama setelah AIDS muncul). Namun saya lihat hanya itulah cara yang bisa diambil untuk menjaring dan mempersempit gerak  pelaku. Tak ada yang menduga kalau pelakunya bisa mengelabui semua orang. Brilian!

Silakan komentar