acara-acara | jalan-jalan

De Mata yang Ramai

July 20, 2018

Ya, kali ini acara untuk mengisi liburan panjang pasca Lebaran tahun 2018 yang jatuh di pertengahan bulan Juni salah satunya adalah dengan melakukan penyegaran mata. Maksudnya, selain melihat pemandangan hijau yang terhampar di pelosok Jogjakarta, orang-orang yang kerap dilanda stres di ibukota patut diberi semacam hiburan yang hanya berfokus pada inderawi saja, yakni penglihatan.

Mengapa harus penglihatan?

Terus terang saja, 90 persen anggota tubuh yang sering kita paksa kerja selain tangan dan mulut adalah mata. Mata menjadi organ yang paling kelelahan karena seharian terpaksa memelototi layar komputer. Nyaris mata kita tak pernah diberi waktu sejenak untuk istirahat karena lepas dari layar komputer, tatapan akan beralih ke layar ponsel.

Dan justru dengan layar ponsel inilah bahayanya. Menurut para ahli, mata yang tak pernah diberi waktu istirahat berarti si empunya adalah makhluk yang egois. Dan untuk  memanjakan mata tak hanya memandang tapi juga kalau bisa menipu otak sekaligus, mengapa tidak?

Mendatangi De Mata

Mengubek-ubek Jogjakarta di suatu siang yang seperti biasa terik dengan kendaraan roda empat, mengantarkan kami ke sebuah gedung dengan bentuk kubah yang mirip Keong Mas TMII. Turun dari Grab Car, pandangan saya tertumbuk oleh sekelompok pelancong lokal yang sedang mengerumuni petugas. Masing-masing di tangan sudah memegang uang lembaran seratus ribu. Wow, rupanya mereka hendak mulai mengantre masuk ke De Mata.

Soal apa dan bagaimana De Mata sudah banyak yang mengulasnya.  Jadi saya hanya akan menceritakan kesan-kesan setelah merasakan sendiri sensasinya. Hari itu banyak sekali rombongan  keluarga yang ingin mencicipi trick eye ini. So, maklum saja kalau di sana-sini terdengar anak-anak atau remaja berteriak senang. Maklum liburan sekolah masih panjang dan berada di tempat ini serasa jadi tempat pelampiasan yang menyenangkan terutama untuk foto-foto dan bergaya.

Saya memilih untuk melihat-lihat sudutnya sekaligus merasakan sensasinya. Berfoto 3D dan berakting seolah-olah berada di atas jurang yang dalam tentulah memerlukan persiapan yang instan. Awalnya pasti agak canggung namun seterusnya saya dan yang lainnya menjadi ketagihan.

De Mata ini  memiliki puluhan latar foto berupa studio  yang bisa kita datangi satu per satu sampai puas. Ada berbagai angle pengambilan gambar  yang dapat kita tentukan sendiri. Tapi kalau masih amatir lebih baik kita minta tolong para fotografer De Mata yang bersedia memberi kita saran dalam beraksi. Dan, nyatanya memang hasilnya lebih bagus dan hidup.

Selain De Mata ada lagi arena trik mata lain yang sebenarnya pingin kita coba namun karena kerumunan pengunjung yang semakin banyak, akhirnya saya cukup puas dengan De Mata saja. Mungkin lain kali.

Kesan yang Terasa

Kesannya cukup membuat kita berseru “Wah, wow!” saat menatap hasil akhir dari setiap foto yang kita buat. Menakjubkan dan menyegarkan mata serta pikiran. Segar bukan berarti ada pemandangan hijau tapi karena hasilnya bikin kita tertawa lepas  dan surprise, seperti saat kita berfoto di meja makan biskuit Khong Guan. Hanya diminta berdiri, sedikit gaya, lalu cekrek! Hasilnya warbiasak. Di samping itu,  kita jadi ikut larut untuk bersenang-senang dalam mengabadikan setiap aksi kita di sana.

 

Cukup asyik dan menyenangkan tak kalah bila kita sekadar bergaya ala aktor film. Yang dibutuhkan hanya mengkhayalkan bila berada di tempat yang menjadi setting di foto itu. Jadi, daripada terbang jauh-jauh ke luar negeri untuk beraksi dengan Trick eye, mengapa tidak ke kota Istimewa ini saja?

Silakan komentar

%d bloggers like this: