ulasan film

Film Bebas, Merayakan Kebersamaan dan Kesedihan

October 10, 2019
Film Bebas, Merayakan Kebersamaan dan Kesedihan

Pertama lihat trailernya, saya hanya bergumam, ‘Pasti ceritanya lebih mirip anak-anak alay…’. Namun setelah menyaksikan filmnya, seketika pandangan ini berubah. Bebas, lebih menitikberatkan pada kebersamaan dan keceriaan dalam hal apa pun, termasuk mengeroyok teman yang akan membuli salah satu anggota geng Bebas.

Bukan berarti nama geng kita Bebas,

orang bebas macem-macem sama kita!

Sekilas ada jejak-jejak yang memiripkan diri dengan adegan dalam Ada Apa Dengan Cinta (AADC1). Misalnya dalam adegan latihan nge-dance di rumah dengan memakai seragam SMA, atau saling berceloteh saat mereka berkumpul di kantin sekolah. Namun, antara AADC1 dengan Bebas, tentu saja ada garis batas yang jelas. Temanya memang sama yakni soal masa-masa SMA dengan segala keribetannya.

Bahwa film Bebas merupakan adaptasi dari film Korea yang berjudul Sunny, rasanya itu sudah merupakan kebingungan tersendiri bagi saya. Mengapa cerita yang apik ini harus melalui adaptasi dari Korea ya? Padahal kalau mau niat sedikit, pasti akan banyak kisah-kisah soal keceriaan anak sekolah zaman 90-an yang bisa digali sendiri dengan segala keruwetan hidup khas anak remajanya tanpa harus melalui Sunny terlebih dulu. Dan rasanya kita gak akan kekurangan penulis yang mau menceritakan masa-masa remaja era 90-an, ‘tul, gak?

Penuh Liku-Liku

Alur ceritanya terbagi dua antara masa lalu dan masa kini. Masa lalu diwakili dengan adegan kilas balik yang digulirkan dengan indah. Masa kini diceritakan bagaimana Vina (Marsha Timothy) berusaha mencari dan menyatukan para sahabat-sahabat SMAnya kembali guna memenuhi permintaan Kris, si pasien kanker yang hidupnya tinggal dua bulan lagi. Pertemuan keenam sahabat ini penuh liku-liku, seakan emosi kita ikut tersedot oleh kehebohan Jessica, kesedihan Kris, kegalauan Vina atau cerianya Jojo. Semuanya menyatu dalam harmoni reuni.

Bisa dibilang ini sebuah permintaan yang agak sulit untuk ditolak, yang pada akhirnya menimbulkan reuni untuk yang pertama kalinya diantara mereka. Nggak begitu mengagetkan sih alur kisahnya, bahkan saya sudah bisa menebak jalan ceritanya, meskipun tidak menonton versi Koreanya.

Namun yang menurut saya asyik saat menonton film ini adalah kehidupan masa-masa remajanya, bersekolah dengan santai, ngerumpi di kelas, jajan di kantin, atau cela-celaan antar teman. Semua itu adalah sesuatu yang tak akan terulang kembali di saat ini. Kenangan yang sangat manis. Kalau mau tahu bagaimana kehidupan masa remaja tahun 90-an, yaa…seperti itu, bebas, lepas, tawuran gak jelas tanpa ada beban.

Apalagi dengan segala pernak-pernik yang muncul sekelebatan di masa itu seperti Game watch, buku stensil, kue kepang, telepon umum warna biru, seragam polisi yang masih berwarna cokelat semen, majalah Gadis, mini compo dll semuanya mengingatkan tahun 90-an. Bagian properti adalah bagian yang layak diacungi jempol untuk penyediaan semua ikon-ikon 90-an.

Tawuran

Meskipun datar dan tanpa ada luapan perasaan yang berkembang panas, saya toh merasa terhibur juga dengan suguhan karya duo Miles dan Riri Riza ini. Mereka kalau bikin film pasti berbobot, serius sekaligus lucu. Adegan yang agak risky dan sukses ditayangkan dengan apik menurut saya adalah pada saat geng Bebas berantem dengan geng musuh (Amanda Rawles dkk) di siang hari yang berbarengan dengan tawuran anak STM. Wah, adegannya lancar, eksekusinya mengalir alamiah banget, mulus dan emosinya keluar.

Jangan kesampingkan pula peran para pendukung lainnya. Ada Darius, Oka Antara, Tika Panggabean, Happy Salma, Sarah Sechan, Irgi, Cut Mini, dan…tak ketinggalan Reza Rahadian yang memperkuat cerita dengan dialog yang sama bagusnya. Akting mereka juga lumayan apik, meski sekejap saja pemunculannya.

Kisah ini takkan lengkap tanpa iringan lagu-lagu yang membangkitkan masa lalu, masa 90-an seperti Bebas-nya Iwa K, Kebebasan milik Singiku, Bidadari-nya Andre Hehanusa bahkan Dewa 19. Btw, para penyanyi itu sekarang ke mana ya?

Ku senang. ku senang, ku telah bebaaasss…

-Kebebasan, Singiku

Pada akhirnya filmnya tidak bertele-tele dan cukup padat dalam berbagi adegan sesuai dengan peran tokoh masing-masing yang berjumlah enam orang. Oh ya, sewaktu Suci dewasa ( Salvita Decorte) muncul di penghujung film, akankah film ini bersambung atau bagaimana? Masih misteri sepertinya.

Well, saat keluar dari bioskop saya jadi ingat bahwa masa lalu tak perlu dilupakan, bila menyenangkan seperti yang dialami geng Bebas, apa salahnya kita kenang dengan hati yang hangat. Terlebih bila itu berhubungan dengan persahabatan yang dipertemukan secara fisik dengan kedekatan emosi yang kuat.

Silakan komentar

%d bloggers like this: