Filosofi Kopi 2, Meminum Kopi Beraroma Konflik

Setelah menyaksikan film Filosofi Kopi yang pertama, yang saya tonton tanpa sengaja di sebuah stasiun televisi,  rasanya saya wajib untuk menonton yang  kedua ini. Ada semacam ekspektasi yang sangat besar berkenaan dengan film ini. Apakah  yang kedua lebih berbobot dilihat dari isi dan permasalahannya ataukah sekadar mengekor keberhasilan yang sudah ada dengan  tema seputar kopi saja lalu stuck?

Saya termasuk agak lama untuk memutuskan nonton.  Ada rasa ragu akankah nanti mengecewakan atau justru membuat minum kopi menjadi suatu ritual yang mengasyikkan? Kenyataannya,  saya justru terhanyut oleh segala permasalahan yang diusung di film ini. Meskipun ada pendatang baru yakni Tarra (Luna Maya) dan Brie (Nadine Alexandra) yang cukup menyemarakkan suasana sekaligus memperpanas hawa kopi namun roh dari film Filkop 2 ini tetaplah soal kopi.

Konflik yang lebih ditonjolkan antara Tarra dengan Ben, Ben dengan Brie, Ben dengan Jody tetap tidak membuat peran Jody tenggelam dalam hiruk pikuk teman sekaligus sahabatnya. Ada saat-saat tertentu bagaimana Jody bisa lebih berkepala dingin dan menjembatani ketiganya sehingga bisa menjadi tim yang kembali solid.

Hal yang disuka adalah ramuan ceritanya yang melenggang bebas tanpa perlu berpikir yang berat dengan tema yang tetap, soal kopi. Bahwa setelah jalan-jalan sembari menjajakan kopi ke seluruh kota, memang ada saatnya untuk berhenti dan berani untuk mencari investor baru agar bisnis terus berjalan.

Selain itu kehadiran dua sosok wanita ke tengah kedai kopi ini, tak serta merta membuat alur cerita mudah ditebak. Ada saat-saat saya harus mencoba menerjemahkan arti tatapan Ben kepada Tarra saat melihat karangan bunga berisi ucapan selamat pembukaan kedai kopi namun ditolak mentah-mentah oleh Tarra.

Pada saat itulah sebenarnya awal konflik dari masa-masa lalu kehidupan dari ayah Ben dan juga ayah Tarra diketahui.  Maksudnya, melalui film ini kepekaan atas sebuah keluarga agak ditonjolkan sekaligus pendekatan personal dari masing-masing tokoh. Ditambah, rangkaian persoalan yang dialami Ben menumpuk jadi satu mulai dari kabar meninggalnya ayah Ben hingga Tarra yang ternyata adalah anak dari sosok yang dahulu merugikan ayah Ben. Complicated but light.

Sejatinya kopi adalah penguat cerita namun di sisi lain kopi juga mengungkap hal-hal yang belum tersingkap. Semisal bagaimana Ben akhirnya mengetahui bahwa Brie, barista yang selalu diremehkan itu ternyata adalah seorang sarjana pertanian dan sangat  mencurahkan perhatian pada tanaman kopi.  Atau Tarra yang ternyata menggunakan uangnya sendiri untuk menjadi investor Filosofi Kopi, padahal Jody mengira itu uang Bapaknya yang pengusaha.

Saya sangat menikmati konflik-konflik kecil maupun besar sepanjang film ini. Empat anak muda yang memiliki mimpi dan kecintaan yang sama dengan kopi berjuang agar kedai kopinya bertahan dan laris. Tema yang sederhana dan sangat membumi.  Kalau secara teknisnya film ini tidak terlalu bertele-tele, alur cerita jelas dan apa adanya. Cuma, karena film ini soal kopi yang notabene digemari tua dan muda, mengapa tokoh orang tua hanya diwakili oleh Tio Pakusadewo saja  dan pemilik galeri yang di Jogja itu ya?

Meskipun sebuah drama kategori ringan namun percayalah ini adalah film yang digarap serius dan melibatkan para netizen untuk merancang alur ceritanya. Brilian kan? Jangan lupakan juga akting Luna yang semakin dewasa dan matang  serta pendatang baru Nadine yang, meskipun intonasi suaranya agak-agak kurang ‘kuat’ namun mampu mengimbangi akting Chicco dan Rio.

Sebenarnya dari sekian scene dan akting keempat tokoh ini, saya sangat suka dengan gaya cool Brie. Terutama saat dicaci Ben karena terlalu lama meracik kopi sehingga membuat kesal pembeli. Siapa pun takkan tahan bekerja di bawah tekanan baik dari bos sekelas Ben atau pembeli, bukan? Namun ia mampu menuntaskan masalah dengan elegan.

Atau pada saat ia merasa bahwa cara kerjanya tak bisa diterima oleh seorang Ben, ia perlu menghirup nafas di luar dahulu untuk kemudian memenangkan hati Ben yang sedang dilanda murka akibat ulah bapaknya Tarra. Cuma kekurangannya, kok semudah itu hati Ben luluh oleh penjelasan Brie ya? (Namanya juga film 🙂 )

Oh ya saya kok suka sekali dengan wardrobe-nya Nadine. Serasi dan pantas. Dan secara keseluruhan film ini sangat bagus ditonton, serta layak  untuk dikoleksi ( kalau ada DVDnya 🙂 )

Silakan komentar