Follow, Follower, Unfollow

on

Yang sering bergaul di media sosial pasti sudah tak asing lagi dengan kata-kata  follow, following, follower, unfollow.twitter-unfollow-20090129-094248 Ini cuma istilah untuk menyatakan keikut sertaan. Tapi ikut serta di dunia maya bisa berarti mengetahui apa pun yang sedang dikerjakan atau dipikirkan. Dan itu melebihi serombongan groupies yang mengekor band-band terkenal pada zaman dulu. Sebut saja mulai  dari twitter, soundcloud, pinterest, path, instagram, tumblr sampai blog pun menyediakan sarana follow-followan ini. Mungkin maksudnya agar terjalin kedekatan, rasa ingin ikut terlibat dan mendapat kabar dari tangan pertama. Biasanya orang atau institusi yang difollow akan merasa tersanjung karena memiliki pengikut yang setia dan bejibun jumlahnya. Lumayan, bisa untuk dibanggakan sebagai sosok terpopuler karena mampu memiliki penggemar banyak.

Betapa dahsyat yang namanya follower ini. Bintang-bintang Hollywood contohnya. Mereka sukses mengumpulkan jumlah pengikut yang besar. Dan sepak terjang baik si artis ataupun si follower alias penggemar sangat berpengaruh. Pengikut bisa sangat terlalu posesif impulsif sementara sang artis terlalu mudah mengumbar kata. Semua ini tentu membawa konsekuensi sendiri pastinya. Punya pengikut banyak tak berarti ia terkenal  tapi bisa saja karena tampang yahud atau isi kepala dan aktivitas yang memang luar biasa. Well, terserah masing-masing pertimbangannya.

Bicara tentang follow tak bisa kita lepaskan dengan twitter. Media sosial yang satu ini mungkin yang pertama kali memperkenalkan istilah tersebut. Kalau yang saya perhatikan di twitter, orang yang difollow malah cenderung mentwit yang remeh dan gak penting.  Segala apa saja diceritakan mulai dari bangun tidur, mandi, gosok gigi, buang hajat sampai tidur malamnya dan merasa sah-sah saja untuk mengumpat, memaki atau berkata kotor pada pihak lain. Seperti inikah orang yang harus difollow? Tapi ada pula kicauan yang tetap santun dan membawa pencerahan sehingga nampak berpengaruh bagi para followernya.

Ada dua sisi mata uang yang bermain di sini, ada yang memasang tulisan Follow Me yang memberi kesan  mengharap untuk difollow namun ada pula yang  merasa jenuh lalu tinggal klik unfollow. Ada yang membawa kebaikan namun ada juga yang menjerumuskan.  Apabila timbul pertanyaan “Mengapa aku di unfollow? Apa aku tak menarik lagi?” Janganlah dianggap sebagai masalah besar. Mungkin saja followernya sudah bosan karena setiap nge-twit yang diperbincangkan hanya masalah hewan kesayangan terus, marah-marah terus,  isi twit kurang warna-warni, kurang ada sisi ilmunya,  kurang humor, kurang ini-itu dsb. Singkatnya tak perlu dipikir berat. Ini toh dunia maya. Meski tak dipungkiri tokoh berfollower banyak mengindikasikan ia sangat populer.

Tak penting besar kecilnya jumlah pengikut, selama ada interaksi yang mengasyikkan antara orang yang difollow dan followernya, maka komunikasi yang ideal akan tercipta dimana si tokoh dan pengikut sama-sama merasa penting dan dihargai.  Apalagi?

Silakan komentar