TV-Series ulasan film

Gangs of London, Perginya Sang Patron

Gangs of London, Perginya Sang Patron
  • Tayang perdana: 23 April 2020
  • Network: Sky Atlantic
  • Pemain: Joe Cole, Sope Dirisu, Michelle Fairley
  • Genre: Drama, Aksi, Kriminal
  • Episode: 9
  • Rating: 8.2

Tanpa sadar saya akhirnya menyukai film ini! Awalnya saya hanya ingin mencari alternatif film seri yang seru untuk ditonton. Selama musim PSBB Transisi ini rasanya tinggal di rumah saja sudah mencapai titik jenuh yang paling akut. Dan satu-satunya hobi yang masih saya tekuni selain membaca buku adalah menonton film seri.

Selama 3 bulan menjalani PSBB Maret-Juni 2020, saya sudah menyaksikan 3 film seri yang kebetulan sangat apik dan menakjubkan jalan ceritanya. Mulai dari Killing Eve, Defending Jacob dan yang baru saja, Gangs of London.

Kalau orang lain kecanduan banget dengan drama Korea, saya justru makin intens mencari-cari judul produksi film seri berbahasa cas cis cus. Pernah sih mencoba nonton drama seri dari negeri Ginseng itu, tapi baru sampai episode 11, saya sudah bosan. Entahlah, mungkin karena tidak terbiasa dengan bahasanya atau jalan ceritanya yang kurang ‘nendang’ menurut saya.

Setelah menyaksikan beberapa film seri lain, sesudahnya saya sempat merasa bingung mau menonton apa lagi. Sekilas ada beberapa judul film yang menarik dan yang muncul di lini masa selalu judul Gangs of London. Biasanya sebelum mulai menonton saya akan melihat ratingnya di IMDb. Dan ternyata, ratingnya bagus. Biasanya rating bagus yang diberikan berarti memang sungguh-sungguh bagus filmnya. Baiklah, saya akan tonton.

Penuh Ketegangan

Awal menonton, wow! Suguhan di episode pertama ternyata bikin bergidik. Adegan seorang pecundang yang sedang dieksekusi, digantung terbalik di atas gedung, lalu tali tambangnya disulut api yang kian menjalar dan menewaskan si pecundang. Hih, sungguh mengerikan.

Bagi saya yang sebelumnya selalu setia menonton film seri dengan aksi yang standar dan minim adegan ngeri seperti demikian lalu menyaksikan adegan geng, ternyata cukup membuat syok sesaat. Gangs of London adalah film yang menyoal tentang tingkah polah kawanan atau anggota geng dengan segala jeroannya mulai dari balas dendam, jual beli narkoba, aksi tipu menipu, sampai menumpas habis lawan. Tak ada yang bisa menandingi kekerasan dan kebrutalannya. Apalagi setelah sang pemimpin kejahatan yang bernama Finn Wallace mati tertembak di sebuah apartemen kumuh di kawasan geng Albania. Anggota mulai kocar-kacir dan bersiap untuk maju perang.

 

Menonton di episode awal nyatanya malah justru membuat saya penasaran akan bagaimana kelanjutan dan siapa dalang dibalik pembunuhan ini. Maka yang tadinya hanya sekadar menonton sambil lalu saja, pada akhirnya saya betul-betul ketagihan. Film yang berdurasi sekitar 54-56 menit per episode ini selalu penuh dengan kejutan dan ya tentu saja baku hantam serta tega-tegaan untuk membunuh siapa saja.

Seluruh tokoh mulai dari putra mahkota keluarga Wallace bernama Sean, adik Sean, Billy yang pecandu narkoba, pengawal setianya Elliot Finch, hingga sang ibu, Marian, harus terus terlibat dalam kancah pertempuran dan dendam yang tak berkesudahan. Film yang digarap sebanyak 9 episode ini penuh dengan aksi-aksi kekerasan lengkap dengan visual efek yang lumayan bikin kita meringis dan terpukau.

Di episode awal kita akan diperkenalkan keluarga Wallace yang telah menjadi penguasa kejahatan terutama perdagangan heroin. Kekuasaan mulai runtuh akibat Finn tewas dan tongkat estafet diteruskan oleh putra pertamanya, Sean. Keluarga Dumani yang merupakan mitra sejati keluarga Wallace tetap menjaga loyalitasnya dan cukup berpengaruh pula di mata para gangster lain.

Lalu situasi kian panas membakar di episode pertengahan hingga akhir. Di sini pelan-pelan mulai tersingkap siapa dalang pembunuhan Finn dan apa motivasinya. Tak hanya mempermasalahkan tokoh dibalik pembunuhan namun perebutan heroin menjadi hal yang brutal dilakukan antar kelompok gangster yakni Asif dan Lale atau gangster Albania dengan gangster Nigeria.

Minoritas

Banyak kelompok yang bermunculan demi memperebutkan kekuasaan. Suguhan multi segmen seperti ini biasanya akan membingungkan namun anehnya dalam Gangs of London, porsi kemunculan masing-masing kelompok diberikan dengan tepat dan diatur dengan lini masa yang baik. Alur cerita cukup baik dan cermat dikarenakan setiap tahapan episodenya akan menjadi petunjuk di episode berikutnya.

Ada hal unik lainnya di luar produksi film garapan Gareth Evans yang membuat film ini makin menarik yaitu semangat untuk memasang para pemain yang multi ras. Kebetulan isu tentang rasisme sedang panas-panasnya digaungkan di seluruh dunia berkaitan dengan pembunuhan warga kulit hitam. Dan menonton film Gangs of London seakan mewakili suara kaum minoritas.

 

Ditilik dari nama-namanya, kita pasti akan merasa asing dengan Paapa Essiedu (pemeran Alexander Dumani), Sope Dirisu (Eliiot Finch), atau  Narges Rashidi (Lale). Dalam hati saya bertanya, “Siapa-siapa saja ini?” Dan setelah kita saksikan akting mereka, komentar yang keluar adalah, luar biasa sekali! Menurut saya keunikan akting pemerannya telah menjadikan film Inggris ini bukan proyek film sekadar untuk tes pasar. Ini proyek yang serius sekali.

Komposer Indonesia

Berlatar belakang kota London di masa kini, menjadikan film ini terasa hidup dan dekat. Banyak sudut-sudut kota London yang manis dan tenteram, di tangan Gareth Evans berubah menjadi sangar, brutal dengan aroma kekerasan yang begitu kental. Meskipun digarap oleh 3 sutradara (selain Gareth Evans), film ini terasa sangat lancar, mengalir tanpa ada perbedaan dan hambatan yang membuat penonton merasa aneh.

Permusuhan antar geng menjadi hal yang biasa sekaligus manusiawi. Inilah potret hidup gerombolan yang ingin mempertahankan kekuasaan dan merebutnya sampai titik darah penghabisan kalau bisa. Memang film ini penuh dengan kekerasan, bagi yang tak kuat menyaksikan mungkin harus skip-skip beberapa adegan. Pertumpahan darah di mana-mana, aksi tembak menembak yang brutal, dan ancaman yang menyesakkan. Singkatnya, ini film laki banget. Namun di luar itu semua, alur kisahnya juga bagus banget. Apalagi plot twistnya.

Oh ya, satu hal yang membuat saya takjub adalah komposernya yang benar-benar orang Indonesia asli. Bayangkan, film sekeren ini  komposernya berasal dari Indonesia. Patut bangga, kan? Gak heran, karena sebelum menggarap Gangs of London, Gareth Evans pernah menggarap The Raid.

Seperti halnya film seri lainnya, season 1 selalu diakhiri dengan adegan menggantung. Dan ini menyebalkan. Namun justru saya kembali lega karena sudah jelas season 2 akan dibuat kelanjutannya. Pasti lebih seru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *