Garis Batas dan Susah Payah

on

Saya baru saja selesai membaca karya seorang penulis dan traveller berjudul Garis batas. Dengan buku yang sangat tebal, saya bersusah payah menelusuri kata demi kata yang ditulis itu. Mengapa harus bersusah payah? Karena tema perjalanan buku ini sangat unik, berjalan-jalan ke wilayah Asia Tengah. Tempat yang bagi seorang pelancong miskin pun mungkin takkan masuk dalam jadwal negara yang dic_1f18fcca55d97d79985f080725fc6b6bkunjungi. Asia Tengah dengan penamaan negeri yang berakhiran –stan semisal; Tajikistan, Turkmenistan, Kirgiztan, Kazakhtan, Uzbekistan dan itu membuat saya harus mengendapkan otak dahulu untuk mengingat wilayah-wilayah yang satu sama lain berbeda sedikit. Payahnya lagi saya selalu menghentikan kegiatan membaca ini tidak per bab namun sesukanya mata ini saja, masih mampu melotot atau sudah terkatup. Walhasil, untuk meneruskan bacaan lagi saya harus membolak-balik lagi ke belakang 🙂

Saya takkan membahas isi perjalanannya karena sudah banyak blog yang mengulasnya, yang jelas buku ini sarat dengan makna tentang Garis Batas. Dan saya memahaminya justru dalam keadaan terkantuk-kantuk. Well, tadinya memang saya tidak tertarik karena dipandang dari sampul bukunya saja seakan seperti buku sejarah, that’s all. Namun setelah menekuninya dengan membaca lagi dan lagi (ingat, saya payah mengingat lokasi, tokoh bahkan pelaku), baru saya dapatkan esensi kisah ini. Sebuah penelusuran otentik tentang berbagai negeri yang saling terkurung satu sama lain berikut problematika tetek bengeknya.

Memang buku sudah lama, tapi saya tak merasa tertinggal saat membacanya.

Silakan komentar