Habibie-Ainun

on

Saya tertarik menonton film ini karena berdasarkan omongan sana-sini dan ulasan sana-sini juga film Habibie-Ainun masuk kategori bagus untuk ditonton. Baiklah, kemarin saya telah menontonnya. Terus terang ini adalah jenis film Indonesia yang pertama kali saya tonton untuk tahun ini. Sebenarnya banyak film Indonesia yang berseliweran di bioskop tiap bulannya tapi karena adanya anggapan bahwa film Indonesia itu kurang bagus, jadinya saya terkadang tidak ingin menontonnya. Namun tidak untuk Habibie-Ainun.images

Kesan pertama saat saya menonton, film ini penggarapannya mengingatkan saya dengan film-filmnya Alm. Teguh Karya. Penuh detil, cermat, merakyat dan apa adanya. Saya memang tidak membaca bukunya namun paling tidak apa yang ditunjukkan dalam film tidak akan terlalu jauh melenceng dari kisah aslinya. Sebagai sebuah otobiografi, kesan penceritaan yang terpusat hanya pada Habibie dan Ainun sangat kuat dan menurut saya terlalu mendominasi sekali. Kalau melihat filmnya, kedua anaknya pun tak kebagian peran yang penting dalam perjalanan hidup pasangan ini. Mungkin memang dikondisikan seperti itu barangkali.

Overall,  saya puas menonton, tidak bertele-tele, adegan berjalan lincah meski berpindah waktu antara kilas balik masa-masa kuliah Habibie dan perkenalan keduanya di rumah Ainun untuk pertama kalinya.  Awalnya saya kira film akan berjalan datar namun di sana-sini terselip adegan lucu dari pemuda Habibie yang polos, apa adanya tapi jenius itu.  Selain tokoh, saya juga memperhatikan detil rumah sebagai latar menurut masanya. Saya suka dengan rumah Ainun, flat yang didiami mereka ketika berada di Jerman, dan rumah saat Habibie telah menjadi pejabat negara. Sempat penasaran juga dari mana para pemeran bule-bule Jerman itu ya? 🙂

Well, apabila penonton lain berkomentar bahwa film ini membuat sedih, menitikkan air mata, dan sebagainya saya justru tidak  melihat itu.  Hal yang membekas di pikiran adalah film ini membuat kita lebih tahu karakter keduanya sebagai seorang manusia bukan sebagai pejabat bahkan ini bukan film yang sedih tapi lucu dan menghibur. Menurut saya tidak didramatisir juga.  Sedikit diperlihatkan intrik-intrik dari pihak lain selama menjabat sebagai Menristek yang  makin menguatkan bahwa Indonesia memang sejak dahulu ‘lemah’ dan Pak Habibie menjadi satu dari segelintir orang yang tidak ikut arus.

signa

 

Silakan komentar