Harry Potter The Deathly Hallows Part 2: Kemunculan Yang Melegakan

on

Saya baru saja menyaksikan film yang menjadi awal masuknya film-film box office di Indonesia, Harry Potter- The Deathly Hallows Part 2. Hal yang bisa saya gambarkan adalah  perasaan bungah, meluap-luap dan lega sekali saat menyambut tibanya film ini. Mengapa saya merasa demikian? Karena setelah  sekian lama menanti-nanti masuknya film Barat, akhirnya hadir juga  film blockbuster itu ke tengah-tengah kita, ibarat setetes embun di padang tandus  dan seakan pecinta film diberi bonus yang melebihi gaji ke-13 saja rasanya mendapati Harry Potterlah yang akan menjadi pionir masuknya film Barat. Film yang saya yakin sangat ditunggu dan diharapkan oleh fansnya penggemar Harry Potter. 🙂

Perasaan saya sungguh berbeda kali ini menyambut  sequel Harry Potter. Bukan hanya senang, tapi juga lega. Dan bila memikirkan kisruh yang menghambat masuknya film Hollywood, rasanya seperti mimpi saja tahu-tahu Harry Potter sudah ada. 😀

Dengan didatangkannya tiga film blockbuster –Harry Potter, Transformer, Kung fu Panda-, seakan-akan ketiganya bisa menambah gairah para pelaku film, pecinta film dan  orang-orang yang terlibat baik langsung maupun tak langsung di dunia hiburan layar lebar. Terutama saya sendiri yang memiliki kedekatan emosi cukup lama dengan seri film Harry Potter semenjak saya saksikan filmnya pertama kali, Harry Potter: The Sorcerer Stone. Coba bayangkan,  apa jadinya kalau  saya tak bisa menyaksikan bagian terakhir dari kisah petualangan penyihir itu? Mungkin saya hanya bisa mengira-ngira adegannya atau bersabar menunggu setahun lagi untuk tayang di TV Berbayar. Bagi orang-orang kaya akan mudah saja melangkahkan kaki menuju Singapura atau Malaysia untuk menonton di sana. Bagaimana dengan mereka yang tak memiliki akses  menonton? Bagaimana mereka yang tinggal di daerah tapi ingin sekali  menyaksikan? Apa mesti beli film bajakannya  agar bisa merasakan  sensasi menonton seperti yang dialami penonton di luar negeri? 😉

Menurut saya  ucapan Menbudpar cukup bagus untuk diresapi. Beliau bilang, “Biarkanlah  film box office ini masuk melalui  distributor yang pengurusnya itu-itu juga, daripada kita menyaksikan orang-orang Indonesia berbondong-bondong ke negeri jiran hanya untuk menonton.” Kedengarannya cukup kontroversial memang, karena Pak Menteri seolah tak kompak dengan bagian pajak, terkesan pejabat pajak tidak akur dengan beliau dan sungguh-sungguh kaku dalam menerapkan pajak. 😮

Tapi apa mau dikata, gelombang permintaan akan hadirnya tontonan berkelas sangat besar, Pak Menteri mungkin bingung untuk menempatkan diri antara di pihak masyarakat yang haus hiburan atau institusi pajak. Saya yang merupakan bagian dari penonton hanya bisa bilang, yang penting ada tontonan bermutu dan momennya tepat. Terlepas dari kekacauan dan saling berkaitannya antara pajak, distributor film yang menunggak pajak,  MPAA yang ngambek, atau pun pihak monopoli bioskop, saya ingin seharusnya mereka lebih memikirkan kepentingan bersama. Bukan sama-sama saling tuding dan ngotot melulu. Pikirkan kaum yang paling terimbas dari semua biang kekisruhan ini. Salah satunya  mereka yang bekerja di sektor jualan cemilan, penyobek tiket, penjual tiket, satpam dll. Dan terakhir tentu saja, penonton setia.

Minggu-minggu ini poster film Harry Potter masih terpampang di bioskop. Mungkin dua minggu lamanya demi memuaskan penonton.  Tidak ada yang menang atau kalah. Antara pajak dengan hiburan sekali lagi seharusnya saling menguntungkan. 😛

Silakan komentar