Hidden Power, Hidden Enemy, Are these An Ego?

on

Menarik sekali mendengar bincang-bincang karir di radio Cosmo pagi tadi. Seperti biasa bahasan yang diulas selalu mengena bila dikaitkan dengan kebiasaan di kantor, perilaku berikut cacat yang mengikuti dalam setiap tindakan karir yang diambil, semuanya terangkum dalam satu tema.

Bahwa yang namanya power atau kekuasaan yang dimiliki oleh sebagian besar para bos kita itu selalu memiliki dua sisi. Apakah ia sedang mengeluarkan kekuasaan yang tersembunyi atau musuh yang tersembunyi kala sedang berhadapan dengan anak buah, klien, dan vendor ataukah sedang menyimpan keduanya? Kalimat-kalimat yang dikeluarkan oleh atasan dan berdampak negatif itu sering dikaitkan dengan egonya sebagai seorang atasan yang harus disegani, dijalani atau diiyakan, meski kadang tak masuk akal. Biasanya korban yang berjatuhan adalah mereka yang tak bisa cepat mengantisipasi dan memilih keluar. 😯

Bicara tentang atasan yang memanfaatkan hidden enemy-nya, saya punya contoh individu itu di kantor saya sendiri. Ada seorang karyawan lama yang begitu diangkat menjadi penyelia produksi langsung jadi seseorang yang ‘berubah’. Dari yang tadinya selalu memback up, mendukung kerja kita, menjembatani dan memahami kendala kerja kita, mendadak berubah menjadi monster yang gak mau tahu kesulitan yang harus dihadapi anak buah. Mindset-nya berubah total. Kita dipandang sebagai kelompok yang menghambat dan bukannya mendukung kerja. Dan ini masih saja berlangsung sampai hari ini. Ia menolak dialog, tatap muka, apalagi turba-turun ke bawah- untuk sekedar menyaksikan ‘kayak gimana sih cara kerja elo semua’?. Jangankan untuk mengerti detil-detil apa saja yang harus diatasi, sekedar bertanya progressnya saja takkan sempat. Dan jangan harap ia akan bilang begini, “Waduh, koq kerjaan meleset banget, deadlinenya? Perlu gue reschedule aja gimana supaya kalian gak kepepet waktunya”? Ia merasa sudah bukan gaya dan kebiasaannya untuk menanyakan langsung apa yang jadi hambatan kita. Pendeknya kita gak bisa (atau gak ada?) komunikasi yang leluasa lagi alias mentok. Pembicaraan jadi satu arah aja. Dan bila dikategorikan maka inilah yang disebut hidden enemy. Sosok yang begitu mantap berada di puncak dan menolak untuk down to earth. Menurut  Alexander Sriewijono,  perilaku demikian dekat sekali dengan  kekuasaan dan ego.

Bagi saya intinya sama saja. Orang sekonyong-konyong pasti berubah perilakunya meski cuma satu persen saja bila berada di puncak. Cuma, apakah perubahan itu membawa dampak positif atau tidak bagi kepentingan orang banyak, dalam hal ini karyawan di bawahnya. Sebagian besar anak buah menanggung “derita” atas keegoisan atasannya. Tapi ada juga atasan yang menerapkan berbeda. Perilaku buruk dari ego tentu saja tak bisa digeneralisasikan (tapi biasanya jarrrraaaang ada bos baik!). 🙂

Saya jadi rindu dengan bos baik. Dimana mereka bekerja ya? 😀

Silakan komentar