Hingar Bingarnya Puasa: Selalu indah

on

Selalu seperti itu. Pemandangan yang selalu berulang setiap tahun. Sebuah ritual yang harus dilakoni para pekerja ibukota dalam menuntaskan dahaga akan kebersamaan. Ya, inilah potret itu: Berduyun-duyunnya mereka untuk segera pulang kantor pada jam 16.00 sore selama bulan Puasa seperti saat ini. Jalanan menjadi lebih ramai  dan lebih macet dari biasanya. Berbagai kendaraan tumplek blek di ruas itu, seluruh moda angkutan mulai dari bus besar, bus sedang, dan kereta listrik tak ketinggalan mobil pribadi (yang tentu saja semakin menambah sesak) dan sepeda motor (si anak tiri jalanan) seakan dikeluarkan ke jalan demi sebuah perburuan. Berburu waktu, berburu kebersamaan. Masa-masa krusial yang harus kita jalani antara pukul 16.00 hingga menjelang adzan Maghrib berkumandang. Suatu masa dimana kita masih terjebak dalam kemacetan panjang, parah dan mendebarkan.

Seolah-olah semua memiliki kepentingan yang seragam, dan sangat wajib. Di jalanan inilah rute pulang kantor saya -mulai dari Cideng Barat, Jati Baru, Tanah Abang, hingga berakhir di Pasar Kebayoran Lama- kemacetan seakan telah menjadi pemanis dan hiburan. Menjadi indah bila kita berhasil lolos dari kepungan macet parah dan sampai di rumah setengah jam sebelum adzan Maghrib.

Semuanya berlomba-lomba untuk segera sampai rumah, berbuka bersama keluarga dan sempat melaksanakan shalat Tarawih. Namun, tak semuanya bisa melaksanakan ritual tersebut. Entah karena jarak rumah dan kantor yang sangat jauh, pekerjaan yang masih belum selesai hingga terpaksa berbuka di kantor, atau memang banyaknya kendala yang ditemui selama di perjalanan. Semuanya memberi warna. Warna yang bisa dituangkan untuk memberi gambar pengalaman tahun ini.

 Di satu sisi, ini menandakan bahwa sebagian warga ibukota ternyata masih menjunjung tinggi rasa kebersamaan dan kekompakan selain juga religius. Dimana-mana orang mengadakan acara buka bersama entah bersama teman, kelompok, panti asuhan, anak yatim, atau pun keluarga sendiri. Hasrat ingin berkumpul bersama orang lain dalam suatu acara memang telah ada sejak lama namun dengan dihubungkannya dengan momen puasa sungguh merupakan peristiwa yang bikin kangen setiap tahun. Tak heran orang Indonesia yang tinggal di luar negeri pasti akan merasa sedih saat bulan Puasa tiba. 😀

Di sisi lain, budget untuk melaksanakan semua ini membengkak di luar kontrol. Karena macet di jalanan, para pengendara menjadi royal untuk jajan berbuka puasa dahulu di pinggir jalan. Belum lagi untuk hidangan buka puasa yang kadang menjadi berlebihan di luar kebiasaan. Kesannya jadi jor-joran.

Di luar semua itu, semuanya mengesankan. Orang menjadi lebih bersemangat dan lebih religius kelihatannya. Bersemangat dalam menjalani puasa, bersemangat dalam berdagang aneka penganan menjelang berbuka, bersemangat untuk mendapatkan tiket mudik, bersemangat berbelanja keperluan lebaran serta bersemangat untuk berlomba-lomba berbuat kebaikan. Semuanya indah. Dan keindahan itu saya yakin hanya bisa dirasakan dan didapat di Tanah Air. Entah di negeri lain. Inilah wajah bulan Puasa kita. 😉

Silakan komentar