perempuan saja | ulasan film

I, Tonya, Sebuah Pembuktian Semu

March 14, 2018

Menonton film I, Tonya adalah suatu pencerahan. Bukan karena kita bisa menyaksikan lika-liku perjalanan seorang pemain ski es yang mampu memenangkan pertandingan, namun kerapuhan sosok figur yang memenangkan pertandingan demi pertandingan itulah yang disorot. Perlu juga digaris bawahi bahwa sifat seseorang sangat dipengaruhi oleh latar belakangnya. Terutama keluarga.

Dari sekian judul film nominasi Oscar 2018 yang telah saya tonton rupanya baru dengan film I Tonya ini otak saya benar-benar nyangkut dan terngiang-ngiang terus dalam pikiran. Menonton Darkest Hour, Phantom Thread, Three Billboards atau Lady Birth memang sama berbobotnya. Film-film itu bagus semuanya. Namun mengapa pada I, Tonya ini hati saya begitu tertambat lama di benak? Pasti ada keistimewaannya.

Dibintangi oleh Margot Robbie I, Tonya mengisahkan sosok wanita pemain ski es yang sangat piawai memainkan Triple Axel, salah satu manuver dalam ski es yang sangat sulit dan memiliki nilai yang tinggi dalam pertandingan ski es.  Film ini memang sebuah biografi dari pemainnya, Tonya Harding. Pemain yang populer pada masa sekitar tahun 90-an.

Layar dibuka dengan menampilkan sejumlah orang-orang terdekat di kehidupan Tonya. Dari tuturan mereka cerita dimulai. Mulai dari mantan suami, ibu, reporter, mantan pelatih hingga mantan pengawal menceritakan diri dan relasinya terhadap Tonya. Mereka inilah yang berperan besar dalam kesuksesan maupun kejatuhan Tonya.

Terlepas dari kehidupan pribadinya, poin menarik dari film ini adalah ceritanya yang benar-benar blak-blakan dan sangat manusiawi. Tonya tidak sedang berusaha memberi kesan seorang pemain yang kuat, tangguh, brilian atau pintar.  Ia adalah wanita yang rapuh, bermulut kasar, ulet, kuat, serta jago menembak yang dibesarkan dari seorang ibu yang bercerai sekaligus memiliki ambisi pribadi. Sejak kecil Tonya dipaksa untuk terus berlatih dengan keras agar bisa memenangkan pertandingan sampai-sampai untuk buang air kecil itu dilarang.

Terkadang latihan yang begitu keras pun tidak membawa hasil yang memuaskan. Apabila gagal, Tonya harus menerima kemarahan, ejekan dan lecehan dari ibunya, La Vona (Allison Janney).

Pada masa 90-an Tonya memetik hasil dari latihannya yaitu mampu melakukan gerakan Triple Axel. Pesaing terdekatnya adalah Nancy Kerrigan yang juga teman sesama pemain ski es. Film ini sebenarnya ingin memberi ruang pembelaan tentang skandal yang dilakukan oleh Tonya terhadap Nancy Kerrigan. Namun sebagai penonton awam yang saya lihat justru kisah hidup Tonya yang penuh gejolak. Penuh ruang-ruang emosi yang tak bisa tersalurkan, tersumbat dan terganjal oleh orang-orang di sekelilingnya.

Permainan ski es memang penuh risiko. Apabila salah satu kekuatan -dalam hal ini kaki- itu cedera, maka buyarlah sudah impian untuk memainkan ski es dan menikmati decak kagum para penonton. Meskipun permainan ski es ini tidak populer di Indonesia (Ya, iyalah) lewat film ini setidaknya kita bisa melihat bahwa main ski es sama besar risikonya dengan main bola. Penuh intrik dan konflik.

Hal menarik dari film ini bukan soal skandal atau permainan ski es namun karakter masing-masing terutama relasi antara ibu dengan anak perempuannya. Emosi yang meledak-ledak dan KDRT adalah makanan sehari-hari bagi Tonya. Dari mulai ditempeleng, dipukul atau menodongkan senapan. Film yang disutradarai oleh Craig Gillespie ini penuh warna dan apa adanya. Dihiasi pula dengan nyanyian yang membuat film ini begitu hidup saat ada adegan yang ‘penting’ semisal rujuknya Tonya dengan suaminya Jeff (Sebastian Stan). Samar-samar lagu How Can Mend You a Broken Heart (Chris Stills) mengalun di latar adegannya.

Figur Tonya seolah punya dua sisi. Brutal saat bertanding -konon Tonya selalu menang bila sedang marah besar-  tapi juga rendah diri karena kostum pertandingannya mesti dijahit sendiri. Begitu pula dengan kita bukan? Amarah dan perasaan direndahkan terkadang justru membuat kemampuan yang tersembunyi melesat demi pembuktian diri.

Margot Robbie sukses membawakan sosok Tonya. Meskipun tidak mirip dari segi wajah namun transformasi jiwa, pikiran dan tindakannya sangat menyerupai Tonya. Bahkan hasil latihan meliuk-liukkan tubuh di lapangan es yang dilakukan Margot ini cukup membuat sutradara terkesima.

Sebagai sebuah hiburan, film ini mungkin biasa saja namun jalan ceritanya cukup bermakna dan patut menjadi bahan perenungan bagi siapa saja yang merasa digembleng dengan sangat keras. Tanyakan pada diri apakah selama ini latihan yang dilakukan sudah mencapai klimaks dan setara nantinya dengan kesuksesan yang diraih?

Menyaksikan I, Tonya kita jadi bisa merasakan bagaimana seorang public figure dicemoohkan. Sebuah film yang unik karena ada sosok seperti Tonya yang dikelilingi oleh manusia-manusia abusif. Kita merasa kasihan tapi juga ikut kesal lalu kemudian bersimpati.

Silakan komentar

%d bloggers like this: