keseahatan | lomba

Insto Dry Eyes: Penyelamat Mata Kering dan Pelajaran Berharga dari Sebuah Kebiasaan Buruk

July 29, 2019
Insto Dry Eyes: Penyelamat Mata Kering dan Pelajaran Berharga dari Sebuah Kebiasaan Buruk

Cerita tentang memotret foto atau swafoto lalu diunggah ke media sosial saat ini bukan hal yang aneh. Apa sih yang tidak memancing kita untuk berfoto atau berswafoto lalu diunggah dan diposting ke media sosial? Apalagi jejaring sosial sekarang sungguh menjadi surga banget dalam memberikan wadah untuk berfoto ria. Semua kegiatan baik di salon, kafe, pesawat terbang , puncak gunung, mobil, kapal pesiar, bahkan di toilet mal sekalipun pasti tak luput dari jepretan kamera ponsel. Entah untuk sekadar disimpan saja atau akan dibagikan ke khalayak ramai.

Ada sensasi menyenangkan apabila kita bisa mengambil gambar yang orang lain tak akan mampu lakukan. Perilaku ingin pamer atau narsis dan bebas memotret apa saja (entah mempermalukan, menjatuhkan, atau meninggikan derajat) itu ternyata beda tipis dengan keinginan untuk berbagi ‘informasi’.

Mengapa orang ingin menampilkan sesuatu dan perlu ditunjukkan ke mana-mana? Karena imbal balik yang diterima itu sangat memuaskan batin meskipun sesaat. Orang yang mengunggah berharap akan disanjung, dipuji, ditanyai macam-macam semisal ‘beli di mana, kafe mana, berapa harganya’, dll atau sebaliknya malah dihujat. Ketika follower mulai berkomentar positif, secara kejiwaan kita akan merasa senang, bahagia, dan ingin menampilkan foto-foto yang membuat rasa senang itu tetap ada.

Jujur saja, kita memang senang difoto dan ingin dipamerkan ke mana-mana, ya ‘kan? Karakteristik manusia yang cenderung lebih suka memamerkan diri dijawab oleh produsen ponsel dengan menyediakan fitur kamera yang sangat menakjubkan bagi pengguna.

Orang lebih suka foto (90%) daripada menelepon

sumber:Tribunnews

Bahkan aplikasi untuk mempercantik foto makin variatif dan makin memanjakan pengguna saja. Belum lama ini ada seorang caleg yang dilaporkan oleh sesama caleg lain karena diduga menipu penampilannya. Aplikasi untuk mempercantik wajah dituduh sebagai biang keladinya. Padahal aplikasi ini dibuat justru karena ada celah dan kebutuhan untuk tampil lebih cantik.

Dan yang tak kalah hebohnya adalah munculnya kasus seorang Youtuber yang menampilkan foto daftar menu berupa secarik kertas lalu diunggah di media sosial. Alih-alih berharap ada peningkatan pelayanan, namun Youtuber ini justru malah mendapat reaksi keras baik yang pro atau pun kontra.

sumber: Instagram

Memonitor berbagai peristiwa lewat ponsel tak bisa dipungkiri menjadi hal yang lumrah. Mengikuti kisah unggahan tentang kertas menu atau caleg yang digugat pihak lain hanyalah sebagian dari aktivitas yang memaksa kita untuk terus menerus ada di depan layar ponsel. Tanpa sadar, bahaya mengintai kesehatan kita terutama mata.

Saya yang awalnya hanya sekadar ikut-ikutan di jejaring sosial merasakan bahwa sebuah foto yang kita ambil lalu disebarkan melalui instagram atau media sosial lainnya harus siap dengan segala konsekuensi yang akan muncul di kemudian hari.

Bagi warganet yang tidak mengalaminya, menyaksikan kedua pihak yang bertikai di dunia maya dan saling mencari pembenaran rasanya seru sekali apalagi dengan hanya bermodalkan ponsel sederhana kita bisa langsung mengakses media sosial semacam facebook, instagram, twitter, atau Youtube dan membaca segala beritanya. Seluruh perkembangan dari kasus kertas menu atau gugatan caleg ini terhampar dengan bebasnya untuk dibicarakan.

Dan mengikuti perkembangan beritanya tanpa sadar telah menjadikan diri kita penonton yang tidak berkontribusi apa pun selain hanya rasa ingin tahu ini tersalurkan dengan bebas.

Saya pertama kali sign up di Facebook pada 2007, di Twitter tahun 2009, lalu instagram pada 2014. Telah lama sekali saya menjadi follower ketiga media sosial ini. Namun hebatnya sampai detik ini tidak ada rasa bosan atau benci dengan media sosial ini. Anehnya, saya justru makin lengket dengan semua jejaring sosial ini. Dari ketiganya saya paling senang menatap Instagram dan Pinterest. Dan jujur, awal mula pasang instagram karena saya suka dengan tampilan foto yang di mata saya nampak bagus-bagus sekali. Entah karena konsep memajang fotonya yang artistik, entah komposisinya, entah default setting-nya yang sudah sempurna, yang jelas saya betah sekali memandangi gambar-gambar indah yang terpampang di situsnya.

Pinterest

Saya akui saya sangat suka dengan aktivitas memelototi gambar-gambar cantik ini. Di mana saja kapan saja saya pasti akan menatap layar ponsel. Bisa dibilang porsi membuka dua media sosial ini lumayan banyak. Sekitar 40% dari total harian saya dalam menatap media sosial pada umumnya dihabiskan untuk media sosial. Sementara sisanya dibagi sama rata antara Facebook, Twitter, Youtube, portal berita, belanja daring dan movie streaming.

Porsi saya dalam menatap layar ponsel

Bagi saya, membuka Instagram, Pinterest atau nonton Youtube menjadi tombol wajib yang ditekan pertama kali. Saking candunya, rasanya saya tak akan bisa hidup tanpa media internet. Serasa mati gaya, tak tahu apa yang dilakukan tanpa memegang ponsel. Bahkan dalam keadaan naik KRL mata saya masih sempat untuk memelototi e-book meskipun sudah berdesak-desakan di antara penumpang. Padahal kalau diingat-ingat, hal itu bisa membahayakan keselamatan.

Kebiasaan buruk lainnya adalah saya kerap menatap ponsel sampai jatuh tertidur dan membiarkan ponsel menyala sampai pagi di samping kepala. Tak heran bangun pagi kepala terasa berat, pusing dan berkunang-kunang. Dan yang paling baru adalah ponsel saya nyaris hilang saat menumpang Grab Car akibat ponsel yang dipegang tersenggol dan jatuh.

Dari sekian banyak kebiasaan buruk itu, menurut saya yang paling menyakitkan adalah bila mata mulai terganggu dan menampakkan gejala mata kering.

Tak bisa disalahkan bila ternyata motivasi dalam menatap layar ponsel atau pun laptop adalah akibat daya tarik gambar, foto, video maupun judul berita yang sangat menarik, artistik serta bombastis hingga memaksa mata untuk terus menatap layar secara nonstop.

Dan ini telah menjadi suatu kebiasaan yang sangat mencandu bagi sebagian besar orang, termasuk saya. Bangun pagi mata ini sudah mencari-cari berita atau inspirasi melalui gawai apa saja. Lalu saat berada di atas MRT atau KRL sekali lagi mata kita akan kembali menatap layar gawai. Kemudian diteruskan dengan melihat layar laptop dan komputer saat tiba di kantor yang dilengkapi AC. Belum lagi bila di rumah, kadang saya masih kepingin menonton film di TV.

Duh, bisa dibayangkan seharian mata saya dipaksa untuk terus menatap layar tanpa sempat berkedip hingga mengakibatkan mata lelah, terasa seperti berpasir, panas, gatal, berair, dan penglihatan mendadak kabur.

Terlalu asyik menatap layar laptop dan terpapar AC akhirnya menimbulkan gejala mata kering seperti mata sepet, mata pegel dan mata perih. Selalu saja terjadi setiap hari hingga saya menganggapnya sebagai hal yang biasa saja. Dan ini seharusnya tak bisa dibiarkan.

Biasanya kalau sudah menemui gejala mata kering, saya cenderung meremehkan dan enggan mencari pengobatan. Hingga suatu hari saat mengerjakan tugas di kantor, mendadak mata saya terasa panas, perih dan merah padahal saya sedang dikejar tenggat waktu. Untuk meredakannya saya terpaksa berbaring sebentar, mengatupkan kedua mata atau mengucek-ngucek selama beberapa menit lalu mengedipkan mata berulang-ulang hingga gejala mata kering ini hilang.

Namun karena faktor lingkungan, tuntutan kerja dan hormon, penanganan seperti di atas tidak begitu memadai. Kerap kali saya masih terus mengucek mata sementara kondisi masih sedang menatap layar gawai.

Akhirnya saya memutuskan mencari solusinya yaitu dengan mencari obat yang mampu menanggulangi gejala mata kering. Insto Dry Eyes adalah obat tetes mata yang mengkhususkan diri mengatasi gejala mata kering. Dengan 1-2 tetesan pada setiap mata, mata kita akan kembali segar karena larutan isotonik steril Insto Dye Eyes ini mengandung zat yang mampu memberi efek pelumas seperti air mata, mengatasi gejala kekeringan pada mata serta meringankan iritasi yang disebabkan kekurangan produksi air mata dan bisa digunakan sebagai pelumas pada mata palsu.

Di musim kemarau seperti sekarang ini gejala mata kering harus lebih diantisipasi terutama akibat terpaan debu, angin dan pasir. Apalagi musim kemarau dapat meningkatkan penguapan air mata. Oleh sebab itu bila muncul gejalanya, maka ada tindakan-tindakan yang bisa dilakukan misalnya:

1. Menjaga kesehatan dengan mengonsumsi makanan yang mengandung asam lemak omega 3 seperti ikan lele, teri, sarden, ikan salmon, telur, kacang-kacangan buah-buahan seperti alpukat atau wortel.

2. Mengompres mata, langkah ini dilakukan untuk melepas minyak di kelenjar kelopak mata serta mampu meningkatkan air mata.

3. Selalu minum air putih 6-8 gelas per hari.

4. Mengatur durasi kerja di depan layar komputer, laptop dan ponsel.

5. Rutin meneteskan air mata buatan atau obat tetes mata sebanyak 1-2 tetes.

***

Dengan selalu mengandalkan obat tetes mata bukan berarti mata saya menjadi bebas atau kebal untuk terus menerus menatap layar ponsel. Tetap saja diperlukan pemahaman bahwa bila gejala mata kering sudah mulai menyerang, sebaiknya segera menghentikan aktivitas tersebut.

Obat mata sekelas Insto Dry Eyes mampu menjadi soulsi dan jaminan dalam menghilangkan gejala mata kering. Dan akan lebih baik lagi apabila segala aktivitas menatap layar baik ponsel, laptop, TV atau membaca buku secara terus menerus dan berlebihan bisa dikurangi demi kesehatan itu sendiri. Mata perih dan pegel saat tengah melaksanakan tugas di kantor lalu dikejar tenggat waktu yang mepet telah cukup menjadikan peristiwa itu sebagai pelajaran berharga untuk tidak sembarang mengucek mata dan mengabaikannya. Dan berkat kehadiran Insto Dry Eyes, maka bye mata kering.

Bagaimanapun, menatap layar baik ponsel atau laptop tak mungkin dilarang untuk di masa sekarang ini karena aktivitas tersebut sudah menjadi bagian dari gaya hidup.

Namun yang terpenting adalah batasi durasi penggunaan gawai, sayangilah kedua mata sebelum semuanya terlambat.

Referensi:

https://hellosehat.com/, https://www.klikdokter.com/ , https://doktersehat.com/

Silakan komentar

%d bloggers like this: