TV-Series | ulasan film

Jack Ryan dan Virus Mematikan

September 14, 2018

• Tayang perdana: 31 Agustus 2018
• Genre: Thriller, Drama, Action
• Network: Amazon
• Pemain: John Krasinski, Wendell Pierce, Ali Suliman
• Episode: 8
• Rating: 8,4

Analis CIA Jack Ryan mendapat tantangan untuk kembali terjun ke wilayah yang penuh konflik setelah dahulu ia pernah diterjunkan sebagai prajurit perdamaian di Arab. Bersama dengan atasannya Greer, ia mendatangi kantung pergolakan yang disinyalir sebagai wadah tempat akan diluncurkannya senjata mematikan dan diduga akan disebarkan oleh kelompok fundamentalis Islam di bawah pimpinan Mousa Suleiman.
Meskipun berbekal analisis, tetap belum diketahui seperti apa wujud senjata yang mematikan itu. Dan menjadi tugas Jack untuk terus mengusut apa, di mana dan siapa sasaran senjata mematikan ini.

Sejak nonton mini serie berjudul The Night Manager (2016) dua tahun lalu, saya belum merasakan lagi adanya mini seri lain yang lebih greget dan membuat deg-degan serta ketagihan ingin menonton secara maraton sampai akhirnya menyaksikan Tom Clancy’s Jack Ryan awal September ini.

Baru kali ini saya langsung terpesona oleh suguhannya. Ada yang lain dan sungguh membuat saya ingin mengulang kembali berbagai aspek dalam mini seri ini. Sebenarnya jalan ceritanya biasa, sangat biasa dan sudah sering dijadikan tema cerita di industri film negeri Paman Sam ini. Namun entah mengapa menonton seri ini ada keseruan yang levelnya sama dengan saat menyaksikan The Night Manager.

Tentang Apa sih Film Ini?

Tentang perburuan seorang tokoh yang sepak terjangnya mengkhawatirkan di wilayah Middle East,  tentang isu ISIS, rencana penyerangan presiden AS, gejolak mantan prajurit di kancah perang, birokrasi CIA yang ketat, dsb. Sebelumnya saya belum pernah baca novelnya Tom Clancy namun bisa saya bayangkan bahwa ia adalah seorang peramu cerita yang sangat keren. Atau memang kru filmnya yang cerdas menerjemahkan cerita ke dalam gambar? Entahlah, yang jelas saya suka dengan filmnya.

Tema Virus

Plotnya enak diikuti, tidak terlalu bertele-tele, perpindahan gambar yang mulus dan taktis. Drama dicampur dengan thriller dan action. Kombinasi yang dahsyat. Tema memegang peran penting. Tema yang menarik otomatis akan membuat penonton tidak beranjak. Pengeboman mungkin sudah terlalu biasa. Bagaimana jika senjata yang digunakan adalah justru dikeluarkan melalui perantara manusia? Dalam hal ini virus Ebola.

Ini merupakan serangan baru di mana sasarannya bisa ke seluruh dunia dan mungkin tidak terpikirkan oleh badan intel sekelas CIA sekalipun. Latarnya yang berpindah negara juga menjadi daya tarik. Plot yang terjaga sangat mengesankan. Menurut saya sub plot yang menarik justru ada pada kegalauan sang penembak rudal yang dirundung rasa bersalah setelah hasil sasaran tembaknya ternyata menimpa warga yang tak berdosa. Sayang tidak terlalu jauh dieksplor, mungkin di musim ke-2 sosok prajurit ini terkuak.

Mengapa saya mengungkit The Night Manager? Karena kalau diingat-ingat, sensasinya nyaris sama. Yakni penonton akan merasa cemas kalau menyaksikan setiap aksi si tokoh protagonis ini ketahuan oleh pihak musuh lalu tertangkap. Ini semacam sindroma barangkali. Sindroma cemas karena tokoh takut dimatikan. Padahal gak mungkin juga bila tokoh utama sudah ‘selesai’ bukan?

Ada beberapa kali adegan yang membuat penonton merasa ‘bagaimana jika gagal…bagaimana jika Jack tidak bisa menyelamatkan semuanya…’ Adegan di awal-awal episode memang seperti tahap pengenalan situasi dan tokoh yang terlibat di dalamnya. Lambat laun akhirnya kita akan terpaku dan merasa terlibat secara emosi oleh segala peristiwa yang menyentuh mulai dari kehidupan masa lalu Jack yang selalu dibayang-bayangi peledakan granat di pesawat oleh bocah yang ditolongnya atau saat istri Suleiman yang direnggut paksa dari putrinya oleh kaki tangan suaminya, atau saat adegan pengejaran Suleiman mulai dari rumah sakit, rel kereta bawah tanah hingga meletuskan senjata di tengah kerumunan suporter bola. Seru abis!

Hubungan atasan dan bawahan antara Jack dan Greer juga sebenarnya menarik, meskipun tidak terlalu mendalam dikupas namun kekompakannya patut dicontoh bagaimana anak buah dan bos harus saling mendukung bila salah satunya didesak oleh para petinggi CIA maupun pihak protokol presiden.

Meskipun begitu ada pula kekurangannya. Dengan menyandang nama Jack Ryan, seolah seluruh masalah harus ditimpakan ke pundak Jack. Memang sih tugasnya menganalisis, namun menjadi agak aneh karena semua permasalahan ia yang mengurai, terlihat mudah dan hasilnya tepat lalu terjun langsung ke TKP. Ada sebagian tim kecilnya yang juga memecahkan masalah namun porsi terbesar tetap pada Jack.

Akhir kata menyaksikan film yang diproduksi oleh Amazon ini cukup menghibur dan jangan dilewatkan. Apalagi nanti akan ada season ke-2 nya yang dijamin lebih seru.

Silakan komentar

%d bloggers like this: