J’aime Juin

on

Saya suka sekali bulan Juni, meskipun bulan lahir saya bukan bulan Juni. Mengapa, karena konotasi bulan Juni adalah liburan, penyegaran, mlaku-mlaku, pokoknya bersenang-senang. Dulu semasa sekolah, Juni identik dengan lelaku: ulangan umum, terima rapot, lalu libur panjang yang lamanya bisa sebulan penuh. Apalagi bila disambung dengan libur lebaran waah...cihuy banget.

Tapi, yang pasti Juni memang bulan yang paling ideal, selain karena jatuh di tengah-tengah tahun, ideal karena well, kita bisa menengok kembali apa yang telah dilakukan selama bulan kesatu hingga keenam, yang nota bene. merupakan bulan yang penuh kenangan. Ada kenangan yang menyenangkan, ada pula yang tidak. Sebagian yang menyenangkan di hidup saya adalah pada masa kanak-kanak hingga remaja .Ideal karena Juni bisa dibilang titik awal untuk menjalankan rencana yang tersusun selama  enam bulan ke depan pada tahun itu. Setelah menginjak dewasa, Juni kerap saya asosiasikan sebagai masa diantara dua hal yang berlawanan, antara santai menuju serius, antara main-main dengan kewibawaan, antara mengambil keputusan dengan mengabaikannya. Semuanya bagi saya amat penting dan kebetulan jatuh selalu di bulan Juni. Entah karena sugesti atau tidak, hati ini juga ikut gembira, karena biasanya Juni selalu bermusim panas, jarang saya temui Juni yang basah dan lembab, makanya liburan pun selalu dimulai pada bulan ini.

Saat dewasa seperti sekarang ini,( baca: 35 tahun ke atas!), tak ada yang lebih penting selain merenungi diri. Sejauh mana saya menjalin hubungan dengan individu-individu yang saya temui sepanjang hidupku.

Ada individu yang sangat lekat tak terpisahkan, ada pula yang menjauh…jauh tak tentu arahnya lagi. Saya merindukan Juni seperti yang saya alami di masa-masa silam. Ah, mellow jadinya.

Last but not least, saya suka sekali bulan yang jatuh di pertengahan tahun ini, bulan transisi, tak ingin rasanya pergi cepat-cepat meninggalkannya.

Silakan komentar