jalan-jalan

Jalan-Jalan ke Kraton Yogyakarta

January 9, 2020
Jalan-Jalan ke Kraton Yogyakarta

Meskipun sudah banyak orang yang menceritakan kesan-kesan dan bagaimana rasanya memasuki wilayah kraton atau sekadar ingin tahu isinya, tetap saja saya belum berkeinginan untuk menyambangi tempatnya.

Saya yang sudah sering ke Jogja tapi tak pernah kepikiran untuk mendatangi kraton hingga akhirnya tanpa sengaja saya mengunjungi kraton yang legendaris ini dalam suatu kesempatan yang tepat. Bahkan tak hanya menatap namun juga memasuki, mengelilingi dan memegang beberapa objek yang pernah menjadi saksi sejarah kerajaan Mataram ini.

Agenda liburan saya biasanya tidak mengunjungi objek wisata yang berupa bangunan yang dikunjungi para turis kebanyakan. Saya malah lebih suka ke pantai, gunung, hutan atau hanya wisata kuliner dan makan rame-rame bareng keluarga.

Tak Direncanakan

Saat liburan yang tinggal beberapa hari lagi berakhir itu keponakan ingin mengunjungi tempat edukasi yang sangat terkenal di Jogjakarta. Ke sanalah kami pada pagi yang mendung dan rada berangin itu. Setelah turun dari kendaraan seketika kami heran mengapa tempatnya terlihat sepi, dan ada informasi ternyata hari itu gedungnya sedang direnovasi. Batal deh.

Baca : Main-Main ke Taman Pintar

Karena sudah kadung tiba di tempat ini, kalau balik pulang rasanya terlalu cepat. Akhirnya kami memutuskan tujuan alternatif jalan-jalan di sekitar Jogjakarta saja, yaitu ke Kraton Yogyakarta. Pilihan yang tepat karena sebenarnya ini adalah kunjungan yang tak direncanakan sebelumnya dan rasanya saya pengen tahu juga keadaannya saat ini.

Bagian Belakang

Dengan naik becak sampailah kami di kraton Yogyakarta, tepatnya di bagian belakang kraton utama. Kraton utama sendiri letaknya berada di hadapan Alun-Alun Utara sedangkan kita masuk dan sekaligus membeli tiketnya di kraton yang kedua alias di bagian belakang. Kalau masih bingung letak kraton bagian belakang ini, lokasinya dekat dengan tugu jam.

Sebenarnya bisa saja masuk melalui kraton bagian depan, tapi menurut tukang becak, kalau ingin lebih jelas dan detail informasinya lebih pas masuk kraton bagian belakang (lewat jalan Suryoputran). Yo wis, ikuti saja apa kata mereka.

Dengan harga tiket yang sangat murah, kami mulai memasuki satu demi satu bangsal dan bangunan. Saat masuk, kita akan jumpai halaman luas dan rindang karena ada berbagai macam pepohonan yang meneduhi tempat itu dan para abdi dalem yang berjalan hilir mudik dengan urusannya masing-masing, lalu lalang karyawan berpakaian beskap lengkap dengan blangkon dan kerisnya.

Salah satu pendopo yang paling luas rupanya menjadi tempat untuk kegiatan tari menari dengan seperangkat gamelan di bagian belakangnya. Saat saya tiba, para pesinden sedang berlatih menyanyikan tembang.

Tak jauh dari sana terdapat halaman dengan berbagai bangunan seperti pendopo besar kecil, tempat semacam gazebo dengan detail bangunan masa lampau yang terpelihara, dan berbagai ruangan untuk menampilkan peninggalan benda-benda koleksi sejarah milik kerajaan beserta lukisan raja-raja.

Awalnya kita memang datang secara sambil lalu saja karena memang tujuannya tidak ke sini. Namun setelah melangkahkan kaki hingga memasuki tempat dipamerkannya singgasana Raja dan Ratu, saya jadi tertarik dan ingin lebih menjelajahi lagi. Sayang sekali waktu itu saya tidak ditemani oleh pemandu wisata sehingga akhirnya kami hanya berkeliling sembari membaca beberapa keterangan yang ada di sana.

Saat mendengar ada seorang pengunjung wisata yang terlalu asyik berswafoto hingga merusak singgasana yang dipamerkan belum lama ini, saya merasa bahwa kondisi yang ada di sana-semacam diorama-memang terlalu permisif dan rawan rusak.

Di sana suasananya sangat longgar, dalam arti tidak ada penjaga yang setia berdiri atau mengawasi setiap gerak-gerik pengunjung. Setiap diorama ditunjukkan apa adanya tanpa dipisahkan dengan tali pembatas misalnya rantai. Mungkin pihak keraton tak ingin membatasi rasa keingintahuan pengunjung dengan membiarkan seluas-luasnya mengambil swafoto dengan cara yang eksentrik sekalipun.

Namun dengan membiarkannya, pengunjung menjadi seenaknya dan kerugian akhirnya ditanggung oleh pihak kraton. Itu patut disayangkan.

Pengunjung memang sebaiknya diajari untuk menghargai benda-benda yang dipamerkan dengan tidak sembarangan duduk, memegang, tiduran, atau mengambil barang-barang. Selain untuk menghargai sejarah juga agar benda-benda itu dapat terjaga dengan baik.

Mengunjungi kraton ternyata meninggalkan kesan yang sangat menyenangkan bagi saya. Menemukan bahwa di abad ke-21 ini masih ada bangunan yang disebut kompleks kraton dan berdiri tegak melintasi zaman serta terpelihara dengan baik adalah sesuatu yang ajaib dan nyata.

Suasana magis dan tenteram memang tercermin di setiap bangunannya. Kebetulan tempatnya mulai sepi setelah melewati puncak liburan dan hanya ada beberapa turis saja yang datang sehingga saya bisa lebih jeli lagi memperhatikan detail peninggalan-peninggalan yang ada di sini.

Silakan komentar

%d bloggers like this: