Jangan Membelot dari Tanah Lot

Perjalanan  kali ini berhenti di Tanah Lot, sebuah ikon wisata yang tak lekang oleh waktu dan zaman. Tempatnya yang tetap di sana, berdiri kokoh di tengah deburan ombak yang keras dan kasar makin membuat mata ini terpana oleh kegigihannya.

 

Sudah lama sekali tidak menginjakkan kaki di wilayah ini. Permukaan Tanah Lot yang landai, naik turun di atas  batu-batu yang licin, cukup memaksa kita untuk berhati-hati. Selain pondasinya yang berupa batu-batu keras, hamparan Tanah Lot yang didominasi oleh tebing-tebing di sisi kiri kanan cukup membuat familiar sekaligus daya tarik bagi siapa saja yang berkunjung terutama dengan sosok pura yang berdiri nun jauh di sana.

 

Suasana siang itu terasa ramai karena memang udara cerah sekali padahal menurut pemandu wisata kami, Bali belakangan ini sering diguyur hujan. Saya datang menjelang sore sekitar pukul tiga di mana matahari sedang bagus-bagusnya untuk berada di titik yang tepat untuk saya berpose. Latar belakang matahari di sini memang jadi andalan untuk berfoto ditambah dengan sedikit bayangan dari Tanah Lot.

Bagi saya yang pernah ke sini beberapa tahun silam, saat menginjakkan kaki lagi, rasanya seperti menengok tempat lama, namun terasa akrab di pikiran dan  sepertinya takkan terlalu terkejut lagi, karena memang tak  banyak perubahan di sana. Mungkin hanya hamparan rumput saja yang membentang di sebelah timur Tanah Lotnya yang terlihat begitu menggoda untuk sekadar diduduki. Selebihnya ikon wisata ini sama seperti yang sering terlihat di mana-mana, di kalender atau iklan surat kabar lengkap  dengan maskot pura yang tegak berdiri agak menjorok ke laut.

Banyak wisatawan yang  berlama-lama berdiri  untuk sekadar berfoto ria atau mengabadikan dengan latar pura itu. Memang sih inilah andalan spot foto yang paling menjadi kenangan sekaligus bukti kalau sudah pernah ke lokasi ini. Kalau saya justru ingin menapaki rerumputan hijaunya lebih lama yang terletak nun jauh di timur sana.

Untuk mencapai ke  tempat ini cukup mudah dan aksesnya yang berupa jalanan mulus  makin menambah keinginan untuk ke Tanah Lot ini. Paduan langit biru dengan semburat sinar matahari yang membayang di kejauhan serta kerumunan manusia yang tak beranjak dari wilayah bibir pantai makin menegaskan bahwa sulit untuk tidak membelot dari tempat ini.

Saya ingin lebih lama menikmati desir angin dan deburan ombaknya,  namun sayang, waktu  yang ada tidak berpihak. Meskipun begitu saya merasa puas bisa berkunjung ke sini. Semoga lain waktu bisa terpenuhi.

Silakan komentar