Jangan Mentang-Mentang

Seorang kerabat akan melangsungkan pernikahan dan perayaannya hanya berupa ijab-qabul saja dahulu. Resepsinya menyusul. Entah mengapa sebagai bagian dari keluarga saya merasa kesal, senang juga sih, tapi lebih banyak sebalnya. Ada satu perasaan yang membuat tidak nyaman dan ganjalan ini sangat  mengganggu.  Tapi tidak mengganggu tidur juga. Ditilik dari hubungan  antar sesama kerabat seharusnya  ini perkara yang biasa saja. Tapi juga tidak dipandang sepele. Namun kalau dipendam malah jadi bom waktu.

Oke, simpelnya begini, ketika orang lama tak menyapa, tak mengabari, tak menengok  bahkan sekadar  berkirim pesan  saja malas, lalu tiba-tiba tak ada angin tak ada hujan menghubungi kita sembari berkata, “Aku mau ngabari  kalau besok aku mau nikah, bisa datang dan bla, bla,…” Lantas  tanggapan apa yang diharapkan?

Sebenarnya menurut saya itu tidak sopan. Seakan orang hanya ingat kalau sedang butuh saja. Saat sedang tak dibutuhkan ia lupa sama sekali. Jangankan menelepon, menyapa lewat  pesan kata yang sudah marak semisal bbm, WhatsApp, FB atau Skype saja gak pernah. Tapi di sisi lain, masih mending kita dihubungi. Itu berarti  mereka masih ingat  ‘kan?

Well, dalam kasus ini saya lebih condong untuk kesan yang pertama.

Menurut saya tak ada hal yang aneh bila kita sebagai pribadi ingin lebih diperhatikan oleh sesama anggota keluarga. Itu wajar. Cuma kadarnya berbeda-beda. Ada yang ditelepon hanya sekadar tanya kabar atau cuaca  saja sudah senang. Itu menandakan kita diperhatikan kan?  Atau menelepon hanya sebulan sekali dan  kata yang diucapkan cuma pendek saja. Terserah deh.

Kadang akal sehat saya mengatakan mungkin si kerabat ini tipe orang yang sangat ‘sibuk’ dan tak ada waktu  untuk urusan bersilaturahmi via gawai.  Kita harus maklum.  Kemudahan teknologi yang memungkinkan kita menjadi lebih dekat meskipun tinggal berjauhan nampaknya hanya berlaku pada beberapa orang saja. Saya cukup mengenal orang ini. Orang yang biasa-biasa saja tapi juga tak istimewa banget. Namun beberapa tahun ke belakang gaya dan tingkahnya membuat saya merasa jengkel.  Ada yang berubah dan mungkin tak disadarinya. Tapi saya tahu penyebab perubahannya. Uang.

Kalau ada orang yang begitu ‘lempengnya’ dan tak menghiraukan yang lainnya terlebih keluarga sendiri, ini mungkin merupakan pertanda bahwa kita harus  mengingatkannya. Kalau tidak ia akan tersesat  dan jatuh ke jurang yang dalam. Cuma masalahnya, bersediakah kita melakukannya?  Mengingatkannya agar jangan ‘mengabaikan’. Banyak contoh orang yang selalu banyak menghabiskan waktu bersama dengan teman-teman tapi ketika dimintai pertolongan satu persatu mereka ngacir semua. Lalu akhirnya berpaling ke…keluarga atau kerabat.  Dan ajaibnya keluarga akan selalu membantu dan mendukung apa pun yang telah terjadi. Pernah tahu begitu kan?

Ada filosofi Jawa yang erat kaitannya dengan kondisi seperti ini yakni  Ojo Dumeh alias jangan mentang-mentang. Jangan mentang-mentang kita masih kuat semua dianggap lemah. Jangan mentang-mentang kita masih mampu semua dianggap kurang mampu. Jangan mentang-mentang masih dikelilingi loyalis semua dipandang tidak  penting.

 

 

 

 

Silakan komentar