Jatuh Bangun Berburu Tiket Kereta Lebaran

Berburu. Tiket. Lebaran.

Hhmm…kalimat ini mengandung magnet bila didengar oleh para kaum mudiker. Begitu mendengar berita ‘tiket sudah bisa dipesan H-90…bla…bla…’ serentak emosi dan aksi akan menyatu untuk menyiapkan langkah demi tercapainya tujuan yakni memperoleh tiket.

Ini memang tentang tiket kereta yang entah kenapa sangat mengundang kehebohan lebih awal dibanding tiket moda transportasi lain. Selain pemesanannya yang harus dilakukan 3 bulan sebelumnya, juga karena setiap mulai dipesan, pasti dengan cepat akan ludes seketika. Mengherankan sekaligus gak aneh kan?

Saya pun termasuk orang yang ikut berduyun-duyun untuk berburu tiket kereta lebaran tahun ini. Ada alasan tersendiri mengapa saya ingin naik kereta api. Pengalaman terjebak kemacetan panjang dalam arus mudik dua tahun lalu membuat saya harus mencari moda alternatif transportasi yang cepat dan  terlebih lagi tahun ini ikut pula penumpang balita sehingga saya harus pastikan kenyamanan di perjalanan adalah hal utama.

(Baca: 32 Jam Menabur Sabar Menuai Lelah)

Sejak bulan Maret saya sudah memantau ke stasiun kereta dan mulai bertanya tentang kereta lebaran di bagian Customer Servicenya. Bahkan petugas itu memberikan selebaran jadwal tanggal pemesanan dan keberangkatan.

Selain itu saya juga mulai browsing untuk mengetahui tips dalam mengantre tiket. Banyak yang sudah menuliskan tips dan trik dalam memperoleh tiket. Namun menurut saya semuanya hanya semacam tulisan dan perlu dibuktikan melalui praktiknya.

Saya bahkan masih perlu bertanya lagi ke bagian Customer hanya untuk memastikan cara apa yang tepat untuk bisa mendapatkan tiket. Apakah harus antre atau duduk manis saja menghadapi internet. Salah satu petugas sempat memberikan daftar agen yang khusus menjual tiket kereta.  Menurut saya keterangan petugas KAI ini  pragmatis sekali. Jawaban yang diberikan seperti sudah disetir ala text book.

Daftar agen ini satu persatu saya hubungi dan hasilnya nihil. Sebagian besar sudah pindah, ganti alamat, atau kalau ada yang nyambung saat di telepon jawabannya klise, tiket sudah habis.

kaiPada saat hari pertama pembukaan pembelian tiket H-90, selain mencoba lewat aplikasi, saya mendatangi stasiun dan antre pada pukul 04.00 hasilnya, sudah bisa diduga. Tiket ludes. Bagaimana bisa begitu cepat habisnya?

Karena masih penasaran saya minta tolong teman untuk begadang dan memesankan tiket. Lagi-lagi gagal. Tiket habis.

Setiap hal yang terasa beruntun pasti mengundang kecurigaan. Demikian juga dengan ludesnya tiket kereta. Kenapa bisa cepat habis? Karena peminatnya membludak sementara jumlah kursi tidak memadai. Kenapa tak kebagian? Karena sekarang aturannya satu orang satu kursi, tak boleh lagi ada penumpang yang berdiri. Kenapa dan kenapa?

Setiap tahun memang sudah seperti itu namun manakala kita terlibat di dalamnya rasanya sangat menyesakkan. Terbayang kita harus mudik dengan kendaraan yang terjebak macet dimana-mana.

Ada yang menuduh PT KAI melakukan permainan ada pula yang mengatakan bahwa agen tiket kereta memblok internet agar sejumlah jalur bisa masuk ke tempatnya, dsb. Kondisi habisnya tiket kereta justru memunculkan peluang joki dan agen yang menyediakan diri untuk begadang dan  memesankan tiket sekaligus melakukan pembayaran.

Kalau saya sendiri alih-alih mencari kambing hitam kenapa KAI bisa habis tiketnya, lebih  baik cari celah dan bagaimana cara memperoleh tiket dengan segera. Saya penasaran kenapa ada yang tidak kebagian tapi banyak juga yang bisa ‘tembus’ mendapat tiketnya.

Saya mulai gerilya lagi dengan melakukan pemantauan tiket untuk kereta tambahan Lebaran. Saat itu KAI belum mengeluarkan pengumuman kapan dirilisnya namun saya sudah berjaga-jaga untuk tidak kecolongan lagi. Saya hanya berpikir, kali ini harus dapat tiketnya!

Maka, dengan mengandalkan joki yang hanya berkomunikasi melalui WA saja saya akhirnya menaruh harapan pada orang-orang ini. Mereka yang pintar menemukan peluang untuk membantu calon penumpang agar bisa mudik dengan nyaman.

Oh ya para joki ini banyak menawarkan jasa melalui forum-forum kereta api dan biasanya ada aturan main yang dikenakan. Awalnya saya skeptis namun karena dorongan untuk memperoleh tiket jauh lebih besar ketimbang rasa ragu ini, yo wislah dicoba saja. Toh kalau tidak bisa, sesuai perjanjian si joki akan mengembalikan (refund) biayanya.

Dalam proses pemesanan ini, saya juga belajar untuk percaya dengan apa yang dilakukan orang yang nota bene tidak pernah saya kenal sebelumnya. Selain berkomunikasi secara intens, awal yang paling penting adalah feeling dalam memilih joki mana yang akan kita percayai untuk melakukan langkah-langkah mulai dari pengetikan sampai proses pembayarannya. Sebab, terus terang meskipun saya gak gaptek amat dengan komputer dan internet, yang namanya pesan tiket ala KAI tak hanya mengandalkan kecepatan tangan untuk mengetik tapi ada semacam ‘invisible touch’ yang hanya bisa dilakukan oleh mereka (katanya).

Saat pengumuman rilis tiket kereta tambahan perasaan saya jadi H2C (Harap-Harap Cemas). Cemas gak dapat, cemas gak kebagian…

Dan pada akhirnya hasil yang dicapai adalah buah dari proses perburuan yang telah ditempuh selama berminggu-minggu.

 

 

 

 

 

 

One Comment Add yours

  1. matureorchid says:

    Seru,senang dan deg-degan

Silakan komentar