Jiwa yang Selalu Kesal

Apa salahnya merasa kesal?

Apa gunanya kesal?

Salahkah menumpahkan kesal, terlebih dengan orang yang justru tak tahu apa-apa?

Ini merupakan bahan perenungan yang baru saja saya pikirkan semalaman karena ya, sepertinya sepele namun ternyata banyak yang sebagian besar mengalaminya, baik yang menjadi orang yang kesal atau menjadi sasaran kekesalan seseorang.  Saya tidak membicarakan masalah ini dalam lingkup yang sempit (kantor) namun untuk yang lebih luas, semisal kepada keluarga, teman, atau pada objek  kebendaan.

Pada dasarnya orang merasa kesal ( kita sebut saja; si kesal) karena ada sesuatu dalam pikirannya yang tersumbat dan tidak bisa dikeluarkan  terhadap orang yang bersangkutan (si pembuat kesal). Atau dalam kasus tertentu, rasa kesal disebabkan oleh sesuatu yang abstrak semisal  rasa tak suka pada seseorang yang mengendap lama di alam bawah sadarnya sehingga bila berhadapan dengan orang ini, ujung-ujungnya ya kesal terus. Di matanya, setiap tindakan  dan ucapan yang diperbuat si korban pasti akan menimbulkan kekesalan.

Ujung-ujungnya ia melampiaskan rasa kekesalannya pada orang lain yang  tak tahu menahu.

Ada si kesal dan si korban. Korban di sini adalah orang yang tak tahu dan sialnya menerima segala tumpahannya. Korban sendiri bisa dibedakan, ada korban yang menelan saja apa yang diterimanya “Pagi-pagi gini ngapain dia sengak banget diajak ngomong baik-baik?” Mungkin begitu pikiran kita saat si kesal bicara atau ia  memang  pribadi yang tak peduli dengan apa pun yang dilontarkan oleh si kesal. Rata-rata orang tak mau ambil peduli dengan satu-dua kejadian. Lain masalahnya bila itu kejadian yang berulang dan mengarah ke kebiasaan. Parah pastinya.

Tak ada yang  bisa menduga sebenarnya apa yang berkecamuk dalam pikiran si kesal. Marah, sebal, tak puas, benci, iri, atau dengki? Entahlah. Ia nampaknya tak sadar bahwa kesal yang berkepanjangan bisa menjadi penyakit kronis yang menggerogoti alam pikirnya. Dalam lingkungan pergaulan bisa saja ia dicap negatif yang berdampak dijauhi orang lain. Orang yang seperti ini sebenarnya harus meminta bantuan ahli agar tidak terus-terusan bertingkah laku seenaknya.

Yang masih menjadi misteri adalah mengapa ia kesal? Apa karena sesuatu yang begitu menjengkelkan hingga ia harus melampiaskan pada orang lain?  Saya pribadi jika kesal dengan orang, itu hanya bertahan 1-2 hari lalu sesudahnya biasa lagi. Sementara dalam kasus ini, si kesal terlihat seakan sudah hilang  kekesalannya namun bila ada pemicunya, ‘aura’ kesalnya muncul lagi dan keluar begitu saja.

Menurut teori saya begini, mungkin di  alam bawah sadarnya ia sudah kesal lebih dulu saat perjumpaan pertama kalinya dengan si korban. Alih-alih bisa melupakan kesan pertama, ia justru tetap menyimpan rasa kesal itu hingga pada waktunya ia letupkan lagi di kesempatan yang lain. Sama seperti aura negatif lainnya seperti permusuhan, benci, dendam, atau iri, sebenarnya si kesal terus menyimpan bibit itu dalam hatinya. Entah mengapa ia begitu khusus menjaga dan ‘mengelolanya’. Satu hal yang perlu ditelusuri adalah ruang lingkup pergaulannya  di masa lalu atau perjalanan hidupnya yang super sulit, Bisa jadi masa lalu ikut andil di dalamnya. Ini menurut teori awam lho.

Yang jelas, si kesal adalah orang yang perlu dikasihani, kasihan deh dia harus terus menerus menjaga perasaan demi masa lalu, sementara yang lain telah maju beberapa langkah ke depan.

Jika kita menjadi korbannya, solusinya hanyalah, acuhkan saja. Yang lebih elegan sebenarnya adalah mengajaknya bicara, namun sebagian besar pasti enggan karena kadung jengkel mungkin. Secara fisik, ya hindari saja si kesal. Bila si kesal kita beri label sebagai si biang  masalah, maka demi kesehatan jiwa dan kondisi psikis kita agar tidak ikut tertular, lebih baik kabur saja dari si sumber masalah. Bukan begitu? 😀

Silakan komentar