Kambing Hitamnya Siapa?

on

Sudah delapan hari menjalani puasa dengan baik, tapi godaan untuk selalu marah-marah kerap mewarnai perjalanan pulang kerja kali ini. Entah ada apa dengan puasa tahun ini,  yang jelas dua hari berturut-turut saya telah terlambat untuk berbuka puasa di rumah. Meskipun bukan suatu ritual khusus namun bila kebiasaan ini terlewat rasanya jengkel sekali.  Padahal sebelumnya sewaktu bekerja di lokasi kantor yang lama, paling lambat saya sampai rumah sekitar setengah jam sebelum adzan Maghrib. Dan itu pun saya sudah sempat mandi, shalat Ashar dan menonton TV.

Entah mengapa saya merasakan di minggu ini kepadatan lalu lintas dimana-mana sangat mengesalkan. Berbeda dengan minggu lalu yang tergolong masih bisa diterima kemacetannya. Namun kemarin dan hari ini situasinya benar-benar sudah ‘lampu merah’. 😡

Jalur lengang dan, jalur sesak di Meruya
Jalur lengang dan,
jalur sesak di Meruya

Kemarin saya menumpang bus umum dan terjebak kemacetan parah di jalan Raden Saleh akibat  truk pengangkut kaca terguling ke jalan raya dan kaca yang berhamburan itu pecah serta sukses menutup jalan utama yang menghubungkan Kembangan dengan Ciledug. Saya kira dengan berkantor di pinggiran kota kemacetan yang selalu jadi momok itu akan  berkurang. Karena pikir saya, orang toh justru mengalami macet di pusat kota dan tidak akan berimbas hingga ke pinggiran. Nyatanya saya keliru menilai.

Kemacetan parah saya alami lagi sore tadi. Saya coba memakai rute alternatif jalur Meruya -Srengseng. Ternyata sama saja. Akibat banyaknya kendaraan pribadi dan jam bubar kantor yang bersamaan, macet ini tak mampu dihindari dan tak bisa  berkutik. Masih untung saya memilih berjalan kaki sejenak. Namun berjalan kaki di bulan puasa tentu saja memerlukan trik agar tak ngos-ngosan.  Dan sejauh mata memandang yang terlihat hanya deretan kendaraan yang ‘tenang’ mengantre lama untuk waktu yang tidak ditentukan kapan terurainya macet itu. 😕

Dan kesabaran masih diuji lagi karena begitu saya mendapat bus, kendaraan ini malah mengetem lama kurang lebih  setengah jam padahal penumpang yang berdiri pun telah penuh. Ini Rabu yang aneh saya kira. Banyak orang yang keluar rumah dan masuk kerja sepertinya (maksudnya tidak ada yang mangkir). Saya sampai bertanya-tanya, siapakah yang tepat untuk dijadikan kambing hitamnya? Apakah karena hujan yang telah berhenti sedari siang, jam pulang kantor yang sama , para pengemudi yang mengambil jalur di wilayah Meruya, transportasi yang payah atau memang alam semesta sedang menciptakan kondisi seperti ini?

Sampai rumah sudah lewat setengah jam dari waktu berbuka, dan kejengkelan berangsur-angsur lenyap  diganti dengan rasa ngantuk. Pelajaran penting: besok harus membawa sebotol air dan sepotong kue untuk Maghrib di jalan (mungkin).

Silakan komentar