Kangen Memajang Foto Keluarga

Rasanya sudah sangat lama sekali tidak melihat ada pajangan foto keluarga di dinding rumah. Mungkin karena kesibukan yang sangat rapat datangnya sehingga seisi rumah lupa bahwa ada beberapa aktivitas bocah cilik yang sudah diambil gambarnya melalui tustel ataupun kamera ponsel,  yang perlu untuk dipamerkan di dinding rumah.

Ya,  biasanya dalam kurun yang tak begitu lama antara memotret objek entah itu diri sendiri yang narsis atau sekadar kelucuan wajah bocah, pasti langkah berikutnya adalah kita akan segera melesat ke tempat cuci cetak film. Lalu melalui  album foto yang sudah terpasang foto-foto itu, kita akan mengamati satu per satu aksi yang ada di dalamnya seraya  senyum-senyum atau ketawa sendiri.

Nah bersamaan dengan momen hadirnya anggota baru di tengah keluarga, sepertinya ada keinginan untuk mencuci cetak dalam jumlah banyak dan memajangnya sebagian di dinding. Pasti seru nih.

Bayangkan, setelah sekitar 2-3 tahun jarang mencuci foto,  akhirnya kita akan mencetak dan memandangi di dinding beberapa ruangan di rumah.

Maka dimulailah rangkaian itu, diawali dengan memilih berpuluh-puluh foto yang lama tersimpan. Sebagian diambil dari kamera tustel sebagian dari ponsel. Foto-foto ini ternyata sama bagusnya sehingga membuat bingung pada awalnya. Dan aktivitas menyeleksi foto ini kira-kira  seperti juri Indonesian Idol yang akan meloloskan peserta terbaiknya lewat foto-foto. Ada yang bagus, lucu, biasa, biasa banget  bahkan unik.  Ditambah perdebatan dari sesama penghuni rumah yang menginginkan foto pilihannya bisa dicuci cetak juga. 🙂

Seperti itu kira-kira sesi pemilihan fotonya.

Ada foto yang rasanya cocok dipajang di dinding ruang tengah saja, ada yang di ruang tamu, di ruang atas, atau   di dinding sudut lain. Sepertinya sayang untuk tidak diikutsertakan namun karena ini menyangkut bujet mau tidak mau harus ketat jumlahnya dan jangan membengkak dari angka…40 buah foto.

Foto-foto ini penting karena menyiratkan suatu awal sebuah kehidupan sesosok manusia, mulai dari tengkurap, duduk, tersenyum, tertawa lebar, atau keakraban kakak adik di usia emasnya. Saya perlu mengabadikan ini dalam berbagai pose  dan ukuran foto agar ada semacam irama dan tidak monoton. Ada yang 3R, 4R, bahkan 10R.

Rasanya senang sekali melakukan aktivitas seperti ini. Tak hanya dalam memilah milih foto saja, namun sebelumnya kita telah memilih pigura foto yang juga membuat acara penataan menjadi kian seru. Memadu padankan jenis pigura ini dengan foto yang itu menimbulkan keasyikan tersendiri.

fotokeluarga

Pigura warna merah sebaiknya untuk foto berlatar gelap agar nampak lebih menawan dan warna fotonya ‘keluar.’ Sementara pigura bermotif kayu cokelat akan terlihat cocok dengan foto yang netral atau agak kebiru-biruan atau cerah sedikit (menurut saya). Sebenarnya ini berdasarkan pengamatan di lapangan sih, jadi kalau mau main tabrak warna ya nggak apa-apa juga. 🙂

Setelah foto-foto dipasang di pigura masing-masing langkah selanjutnya adalah memajangnya. Sebenarnya kalau ada meja yang luas bisa saja diletakkan di atasnya, tapi voting seisi rumah lebih suka foto itu dipajang di dinding agar setiap orang dapat bebas menatap meski dari jarak jauh.

Jadi setelah terpajang seluruhnya  hal yang dirasakan adalah kepuasan. Foto-foto ini seakan sudah berbicara ‘ini lho, wajahku dan tingkahku sewaktu umur sekian…’ Benar-benar aktivitas rumah yang menyenangkan dan tak perlu berpikir yang rumit.

Hhmmm,  kegiatan ini cukup membuat terkesan. Lain kali akan saya adakan lagi.

 

 

One Comment Add yours

Silakan komentar