Kejujuran yang tergerus

on

Kasus contek massal saat ujian nasional (UN) 2011, tingkat Sekolah Dasar (SD), yang terjadi di SDN Gadel 2, Tandes, Surabaya diduga dilakukan secara sistematis.

Si anak yang bernama AL ini adalah siswa pintar di SDN itu yang mengerjakan jawaban soal tsb dan didistribusikan kepada rekan-rekannya. Ia terpaksa memberikan contekan kepada teman-temannya, karena “perintah” dari oknum guru, bahkan sekolah itu sempat mengadakan “gladi resik” contek massal itu.

Ditemukan praktik bullying (menghardik) terhadap AL pula, karena itu telah direkomendasikan agar  keluarga AL dilindungi oleh pihak kepolisian guna menghindari intimidasi. Ancaman tersebut berasal dari guru senior dalam hal ini, wali kelas dan sesama temann.

Dalam pengakuannya, AL dipaksa memberikan contekan. “Guru saya, Pak F, yang menyuruh saya memberi contekan. Sebelum UN justru dia mengatakan kapan lagi saya bisa membalas budi para guru. Kata Pak F, apa tidak kasihan kalau teman saya tidak lulus,” katanya.

Laporan kecurangan dari keluarga AL kepada Dinas Pendidikan (Disdik) Surabaya sudah menjadi kewajibannya. Laporan kecurangan ini harusnya direspons secepatnya. Kejujuran dari masyarakat harus dijaga dan jangan sampai ada kesan kalau jujur yang ajur (hancur),.

Sementara itu, anggota tim independen lainnya, Kresnayana Yahya, mengatakan, ada problem komunikasi dalam kasus mencontek massal tersebut.

UN yang seharusnya menjadi tolak ukur, justru menciptakan tekanan kepada siswa, sehingga siswa cenderung merasa ketakutan untuk menolak jika diminta oleh guru.

Namun, Kepala Disdik Surabaya Sahudi belum dapat dikonfirmasi, sedangkan pihak kepolisian mengaku belum ada tindakan penjagaan khusus kepada AL dan keluarganya, karena polisi menilai kasus itu sebaiknya diselesaikan secara internal, bukan pidana.

Untuk menyukseskan praktik mencontek itu, wali kelas AL sempat melakukan tiga kali simulasi, sehingga masing-masing siswa sudah tahu perannya masing-masing dengan Al sebagai pemasok bahan contekan, lalu ada yang menggandakan jawaban contekan dan ada yang mengedarkannya ke kelas lain.

Ck…ck, ck… betapa sekarang kejujuran tidak ada lagi harganya. 😥  Hal yang menjadi senjata terakhir dari sebuah kezaliman salah satunya adalah kejujuran. Tapi apa daya justru kondisi yang otentik inilah yang malah tergerus oleh jaman yang lebih mementingkan kekuasaan, kecemasan akan hilangnya periuk nasi, kecemasan akan gantungan hidup mereka-mereka yang telanjur dinikmati bertahun-tahun bahkan mereka yang lebih tinggi kedudukannya.

Tanpa berniat menyalahkan siapa-siapa, entah guru, entah kepala sekolah atau institusi yang menaunginya, menurut saya mereka-mereka inilah yang paling bertanggung jawab atas ketidakbecusan kerja anak didiknya. Sebenarnya, kalau diurai  kekusutannya, benang merahnya adalah sistem.Tak bisa dipungkiri, sistem pendidikan kita memang rapuh sekali. Sangat rapuh hingga semuanya menjadi salah kaprah, saling menyalahkan tapi juga saling menutupi. Duh, betapa berat sistem yang harus dilalui anak didik pada masa ini.

Terus terang saya merasakan ketidak adilan. Kasarnya, mau jujur koq malah hancur? Kenapa begitu? Dan saya khawatir ini akan menjadi cap buruk selamanya atas penggunaan sistem yang hanya mengedepankan nilai bagus, pamor bagus, nama baik yang bagus. Sigh. Saya hanya menanti sistem pendidikan kita rapi meskipun lamaa sekali. Ya, saya hanya menanti. 🙄

0 Comments Add yours

    1. erna maryoto says:

      Yah, patut prihatin dengan keadaan ini, semoga ini ada hikmahnya ya tho?

Silakan komentar