cerita dari kantor

Keluar dengan Bahagia

March 4, 2019

Setelah terombang-ambing dalam ketidakpastian akhirnya kabar itu tiba. Dan untunglah jiwa saya sudah siap dengan berbagai letupan yang mungkin muncul. Jadi apa pun yang terjadi akhirnya tidak apa-apa.

Sebenarnya tidak masalah dengan kondisi yang serba kompromi. Namun yang tetap tak bisa dialihkan dari pikiran saya adalah karena alasan yang tak masuk akal. Sejak lama saya merasa situasi yang sedang bertakhta di pikiran orang-orang adalah saya memang tidak dibutuhkan lagi.

Alih-alih dihilangkan, saya justru harus menangani masalah pekerjaan yang belum saya ketahui sepenuhnya namun dituntut untuk segera dalam waktu satu malam (mungkin) harus saya kuasai. Saya tak menampik bahwa saya bersedia memberesi masalah pekerjaan yang ditinggali pendahulu saya ini semata-mata karena saya butuh uang. Butuh penghasilan untuk membayar segala macam keperluan rumah tangga dan lain-lain.

Baca: Breadwinner

Namun jauh di lubuk hati sebenarnya saya ingin bisa ditawarkan hal atau jenis pekerjaan yang lebih menantang jiwa. Saya tak bilang bahwa saya tak menyukai pekerjaan downgrade ini. Tapi jujur saja saya tak menikmatinya sama sekali selama berbulan-bulan.

Kalau ada yang menetapkan bahwa ukuran bahagia setelah keluarga adalah pekerjaannya, itu tidak berlaku pada saya. Pekerjaan apa pun bila tidak dicintai atau memberi semangat niscaya akan memberi dampak yang buruk.

Berhari-hari saya berusaha untuk menyesuaikan hati dan pikiran dengan pekerjaan baru ini. Menyatukan jiwa dan semangat agar menjadi harmoni yang indah saat pekerjaan itu ditangani. Namun hasilnya nihil. Saya tidak bahagia. Hanya perlu kurang lebih 9 bulan saja untuk mengetahui bahwa saya sudah cukup bosan -kalau tidak dibilang benci- dengan pekerjaan ini.

Ada kalanya suatu pekerjaan meskipun menyebalkan namun bisa jadi menyenangkan bila didorong oleh sesuatu yang tidak nyata yakni berupa sokongan. Dukungan dari rekan atau atasan akan membuat pekerjaan yang diemban sehari-hari menjadi lebih ringan, beban menjadi mudah ditanggulangi dan tentu saja ada ilmu yang ditularkan.

Alih-alih berbagi pengalaman atau mengajari sebaliknya, hal yang muncul dan menjadi makanan sehari-hari justru hanyalah perintah untuk terus menciptakan profit tanpa diberitahu bagaimana mekanisme pencapaiannya. Tak diinformasikan bagaimana sebaiknya langkah yang tepat agar penjualan menjadi trending topic di e-commerce misalnya. Juga tak pernah ada rapat-rapat untuk membahas itu. Ini yang menjadikan saya merasa ‘dijerumuskan’ ke dalam lubang sumur yang dalam dan tanpa dasar. Dan saya harus pelajari itu dalam tempo cepat.

Katakanlah, orang yang latar belakangnya IT lalu dimasukkan ke tim penjualan mungkin bisa diakali dengan mempelajari secara cepat namun soal pengalaman? Sudah pasti masih ‘hijau’ dan tak tahu medan. Celakanya, saya pun harus sudah tahu langkah-langkahnya serta bagaimana mengatasinya. Bayangkan, bagaimana stresnya menghadapi situasi seperti itu.

Well, kalau ternyata dalam waktu 5 bulan itu saja tidak ada rasa suka, bisa dibilang, “This is not me”. Pekerjaan ini bukan untuk saya, bukan gambaran saya sesungguhnya. Saya tidak suka namun berusaha untuk menyenanginya. Ada saat di mana saya serasa berada di lingkaran dan tak bisa keluar dari lingkaran yang terus berputar itu.

Jadi, ketika menginjak bulan ke-7, disitulah saya tersadar, saya harus berbuat sesuatu agar tidak terus menerus merasa terbebani. Saya pun menunggu waktu yang tepat seraya memohon do’a agar diberi petunjuk bagaimana agar kondisi ini berakhir dengan baik.

Dan berbarengan adanya desas-desus, akhirnya terjawab sudah. Inilah solusi terbaik bahwa saya memang tidak mencintai pekerjaan downgrade itu. Mungkin juga bukan pekerjaan yang sesuai dengan saya. Dan usai pemberitahuan itu saya justru merasa terlepas dari himpitan, keluar dari lingkaran, dan menemukan jalan keluar dari sebuah maze. Alih-alih merasa gamang, saya justru bahagia karena saya telah menemukan jati diri saya.

Betapa leganya. Ya, sangat lega.

Leave a Reply to matureorchid Cancel reply

%d bloggers like this: