lomba | remeh tapi meminta perhatian

Ketika Diare Akut Menyerang dan Membuat Lemas

March 30, 2018

Sejujurnya jatuh sakit yang paling membuat merana adalah saat saya menderita diare. Sebelumnya saya tidak pernah mengalami sakit yang menyebabkan harus istirahat total dan terbaring selama kurang lebih lima hari hanya gara-gara diare. Dua tahun ke belakang Alhamdulillah kesehatan tubuh saya selalu terjaga. Pernah juga sakit, tetapi yang diderita hanya sakit ringan seperti flu atau demam yang bisa ditanggulangi dengan hanya menelan obat yang dijual bebas.

Entah karena daya tahan tubuh yang menurun, awal tahun 2018 ini saya sakit diare. Meskipun dibilang sepele namun tak dinyana penyakit seperti ini ternyata membutuhkan penanganan yang luar biasa.

Sickness comes in like a horse, and leaves like a snail

-French Proverb

Sebagaimana bunyi peribahasa Perancis di atas, penyakit muncul dengan begitu tiba-tiba tanpa kita sadari sementara kesembuhan terasa lamban datangnya.

Sebelumnya saya adalah orang yang selalu menjaga kesehatan. Setidaknya saya selalu minum vitamin meskipun tidak teratur agar tidak mudah jatuh sakit. Sebulan sebelum sakit saya sering begadang dan makan tidak teratur. Karena merasa badan baik-baik saja dan tidak ada keluhan sakit, acara begadang menjadi ritual yang dilakukan saban malam.

Meskipun tubuh sudah memberikan sinyal bahwa saya perlu istirahat tetap saja acara begadang dilakoni. Atas nama kesibukan saya juga jarang olahraga. Tanpa disadari sebenarnya kelemahan badan akibat kurang tidur telah menjadi celah masuknya virus atau bakteri ke dalam tubuh. Dengan cepat sakit menyerang dan saya tidak siap untuk ‘menyambutnya’.

Sampai pada suatu hari di siang yang panas usai makan siang, perut saya mules gak karuan dan harus segera dikeluarkan. Saya segera melesat ke kamar mandi kantor. Ya, kejadiannya memang saat saya sedang berada di kantor. Awalnya saya pikir perut saya hanya masuk angin biasa atau reaksi akibat makan makanan pedas. Tapi ternyata salah. Siang hingga sore hari saya terus saja bolak-balik ke toilet tanpa menyadari bahwa saya terkena diare.

Sesampainya di rumah badan mulai terasa demam, menggigil dan pusing. Minum obat penurun panas pun hanya sesaat saja karena sebenarnya hal itu tidak membereskan masalah. Justru dengan tidak segera minum obat diare yang tepat maka sakit diare ini menjadi berlarut-larut. Bahkan saya sempat muntah-muntah hingga lemas. Kondisi ini diperparah dengan tubuh yang sempoyongan akibat dehidrasi.

Malamnya saya pergi ke dokter. Saya diberi tiga macam obat yang terdiri dari obat diare, penurun demam dan pereda diare. Sudah minum obat namun tetap saja diare bahkan kehilangan cairan eletrolit dalam jumlah banyak. Kesadaran menurun hingga akhirnya saya dirujuk ke rumah sakit. Rupanya saya terkena penyakit diare yang disebabkan oleh infeksi bakteri.

Orang awam mungkin hanya mengetahui sakit diare satu jenis saja tanpa memahami bahwa ternyata diare memiliki bermacam tipe tergantung dari sumber dan penyebabnya. Seperti yang saya alami, diare akibat infeksi disebabkan oleh bakteri Escherichia Coli yang berasal dari makanan dan mengandung toksin. Disebut Diare Akut karena serangan gejalanya tiba-tiba dan berlangsung kurang dari 2 minggu.

Pada kasus yang saya alami, infeksi yang menyerang perut sudah parah karena saya mengalami demam tinggi, menggigil, muntah yang terlalu sering dengan feces berdarah dan tak ada kemajuan sampai 12 jam kemudian. Harus ada penanganan yang lebih intensif. Apalagi saya sempat mengalami dehidrasi yang ditandai dengan bibir yang kering, lemas, dan kesadaran menurun.

Penyebab diare bisa bermacam-macam, namun kemungkinan yang menimpa saya adalah akibat:

  • Stres
  • Makanan yang tidak higienis dan terpapar virus atau bakteri
  • Kurang istirahat

Karena itu penting kiranya untuk bisa mendeteksi lebih awal serta bagaimana menanganinya apabila telah telanjur terkena diare. Penyakit ini memang masuk kategori ringan namun bila penderita mengalami dehidrasi sebaiknya perlu tahu tanda-tandanya agar terhindar dari bahaya yang lebih parah (kematian).

Diare adalah penyakit yang pengobatannya tidak terlalu rumit dan itu sebenarnya merupakan sinyal atau mekanisme tubuh untuk mengeluarkan racun yang bercokol di dalamnya. Racun yang dihasilkan mikro organisme seperti bakteri, parasit atau virus ini akan dikeluarkan melalui feces yang encer.

Diare yang disebabkan oleh virus biasanya akan sembuh dengan sendirinya. Minum obat anti diare dari berbagai merk yang beredar di pasaran adalah langkah awal. Kenali jenis obat diare yang sekiranya cocok dengan kondisi tubuh.

Selain itu yang patut diwaspadai adalah kehilangan cairan elektrolit yang bisa berujung pada kematian. Meminum cairan oralit adalah solusi yang tepat. Bila penyebab diarenya akibat infeksi bakteri maka pemberian obat-obatan saja tidak akan menolong. Pasien seperti ini sebaiknya diresepkan antibiotika.

Diare akut tanpa efek sakit yang berkepanjangan sebenarnya bisa diobati sendiri dan tak perlu pergi ke dokter. Itu kalau sesuai dengan jenis keluhannya. Namun apabila terjadi seperti yang menimpa saya, tentu saja petunjuk pelaksanaannya agak berbeda. Diare yang saya alami ini tidak diobati dengan tuntas, ditambah dengan pengaturan makan yang masih sembarangan dan menganggap sepele dehidrasi.

Kantong infus

Nah dehidrasi parah inilah yang mengakibatkan ketidakseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh serta mempengaruhi fungsi kerja organ. Akhirnya yang terjadi adalah saya mengalami :

  • Mual
  • Pusing
  • Muntah
  • Mulut kering
  • Tekanan darah turun drastis, dari yang awalnya 110/70 menjadi 70/80!
  • Nyaris pingsan atau jalan sempoyongan

Dehidrasi Sekunder ini banyak diderita oleh penderita diare. Bila diare ini telah menjurus ke kategori berat maka penanganan akhir adalah melalui infus.

Terpaksa Diinfus

Saya akhirnya dirawat di rumah sakit dan langsung diberikan infus yang terdiri dari cairan NaCl, KCl, dan CaCl. Meskipun begitu pengobatan diare ini harus disesuaikan juga dengan kondisi klinis penderita.

(Baca juga: Pengalaman Menjalani Rawat Inap di RS Muhammadiyah)

Masa-masa penanganan hingga pemulihan adalah saat yang krusial karena tubuh dipulihkan kembali dengan berbagai asupan elektrolit serta makanan yang lembut.

Menu bubur di RS.

Penanganan di rumah sakit pelan-pelan akhirnya membuat tubuh saya terasa lebih lumayan dibanding pada saat pertama kali tiba.

Bagi saya sembuh dari diare tak hanya melegakan namun juga menjadi pembelajaran yang penting bahwa setiap penyakit jangan dianggap sepele. Kita harus tahu cara penanganan yang tepat agar tidak terulang lagi dan harus mampu atasi diare dengan tepat & benar. Lebih baik lagi bila kita bisa mencegah agar tidak terkena penyakitnya dengan menjaga kebersihan makanan dan minuman serta selalu mencuci tangan sebelum makan. Sesederhana itu.

Silakan komentar

%d bloggers like this: