Kisah 3 Titik

on

Sepintas tidak ada yang istimewa dengan bunyi judul di atas. Namun begitu menonton filmnya terasa sekali bahwa kisah yang disampaikan tidak hanya sekadar titik, -nama ketiga perempuan yang terpasung oleh dunia sempit- tapi juga potret yang mendekati realisme ibukota, kehidup201265_film-kisah-3-titik_663_382an marjinal, terpinggirkan dan sengsara di tengah belantara apartemen yang mengelilingi rumah-rumah kontrakan. Ini memang kisah perempuan bernama Titik dengan peran  dan profesinya masing-masing. Ada  Titik Sulastri yang ditinggal mati suami dan harus membanting tulang sebagai buruh kontrakan di sebuah pabrik garmen, ada Titik Kartika yang sangat tomboi dan juga bernasib sama bekerja di pabrik kecil sebagai buruh sepatu, dan Titik Dewanti Sari yang mendadak diangkat sebagai manajer sebuah pabrik garmen  yang baru saja diakuisisi oleh kantor pusatnya.

Ketiganya masing-masing memperjuangkan kebutuhannya. Dalam satu titik akhirnya akan ada yang kalah atau berkompromi dengan keadaan. Di film ini kita sebagai penonton tidak akan disuguhi dengan konklusi yang nyata atau pun menggantung. Namun ciri khas dari  filmnya Lola yang saya ketahui adalah  permasalahan yang kian getir dan rumit itu akan  diserahkan kepada penonton.  Penonton yang akan mengambil kesimpulan. Titik  Sulastri yang telah diperbolehkan bekerja kembali usai melahirkan anak  ternyata menderita kanker dan menurut saya pengambilan gambarnya terlalu gamblang demi menyuguhkan penderitaan kankernya. Seakan sutradara perlu memberi ilustrasi karena khawatir ada penonton yang tak paham dengan penyakit yang dideritanya.  Lalu, untuk perempuan manajer bernama Titik Dewanti Sari, menurut saya inilah gambaran wanita karier pada umumnya yang terjebak  diantara dua kepentingan besar yakni perusahaan dan pabrik. Dari sekian banyak wanita yang menduduki jabatan tinggi pasti ada kalanya mereka ini terperangkap oleh aturan-aturan dari kedua pihak yang ujung-ujungnya malah dipasang hanya sebagai pemanis perusahaan belaka dan menjadi dilematis pada akhirnya.

Dari ketiga tokoh Titik, yang kurang saya pahami adalah peran Titik Kartika. Sebenarnya apa misi yang sedang ia emban? Anak preman yang mencari jati diri atau sekadar bekerja saja sebagai buruh? Well, namanya juga film pasti kalau hanya satu-dua  cerita tidak seru bukan? Adegan yang mengundang tawa pun harus diselipkan. Semisal tingkah polah para warianya. Namun sebagai tontonan, film ini memberi informasi  dan cukup mewakili untuk menggambarkan ihwal tentang perburuhan dan buruh itu sendiri beserta sisik melik permasalahannya.

0 Comments Add yours

  1. erna maryoto says:

    khas lola gitu deh…

Silakan komentar