Renungan Lebaran Kali Ini

on

Ini sudah hari kedua lebaran -menurut versi Muhammadiyah- tapi bagi yang menjalankan lebaran versi Pemerintah, hari ini adalah hari pertama Lebaran. Seperti tahun-tahun sebelumnya kita selalu dibingungkan oleh Lebaran yang jatuhnya tidak berbarengan.Bahkan, Pemerintah pun tidak memberikan solusi yang efektif untuk terselenggaranya Idul Fitri yang elegan kali ini. Saya pribadi cukup dibingungkan dengan keadaan ini. Bayangkan, malam sebelumnya kita sudah tidak ikut shalat Tarawih tapi karena Menteri Agama ‘menunda’ lebaran, sehingga mau tidak mau masih harus Tarawih dan menjalani puasa sekali lagi. Tapi untungnya saya tidak dilanda kebingungan yang terlalu lama karena akhirnya saya menentukan pilihan dengan ikut lebaran yang jatuh pada hari Selasa saja. Yang penting mana yang paling cepat berakhir puasanya itulah yang dipilih. 😆

Namun yang jadi pikiran adalah, ada sebagian kerabat yang memilih ikut pemerintah untuk berlebaran di hari Rabu. Well, jadinya kita harus bertenggang rasa untuk menunda keriaan lebaran ini. Seharusnya memang hal ini tidak menjadi ganjalan, namun pada prakteknya cukup membingungkan juga. Padahal sejumlah acara sudah disusun jauh-jauh hari demi lebaran. Apa daya pemerintah ‘merusak’nya dengan semena-mena. Saya dengar Malaysia, Singapura, dan Arab Saudi tetap akan melaksanakan shalat Iednya hari Selasa. Mengapa pemerintah tetap bersikukuh untuk melaksanakan lebaran Rabunya? Entahlah. Hanya demi sepotong hilal yang muncul di dua kota saja ternyata tidak cukup untuk mengesahkan terjadinya lebaran yang berbarengan. Mengapa tidak disamakan saja dengan ormas lain agar terciptanya keselarasan? Pendeknya saya kecewa atas keputusan yang diucapkan Pak Suryadharma Ali. Saya jadi pesimis melihat ke depannya nanti. Bisa saja tahun-tahun berikutnya (kalau masih ada umur) kebingungan ini terus ada.

Acara-acara yang seharusnya bisa dilaksanakan bersama-sama mesti menunggu dulu, ditunda barang sehari dulu, harus kompromi lagi. Di sinilah rasa tenggang rasa dibutuhkan. Harapan Pemerintah adalah barangkali masyarakat akan semakin dewasa menyikapi perbedaan. Tapi nyatanya masih ada rasa ketidaknyamanan menyaksikan ada saudara-saudara kita yang merayakan lebaran belakangan. Ini sebuah kekhawatiran yang wajar. Kalau selalu menunggu sidang istbat yang sudah pasti berakhir seperti kemarin malam itu, bisa-bisa acara kumpul keluarga besar setahun sekali bisa kehilangan momen dan gaungnya serta lebaran akan kehilangan makna baik greget maupun spiritnya. Ah, pemerintah. 😕

0 Comments Add yours

Silakan komentar