Lebaran Tiba Hati Lega

on

Hari ini saya baru saja meninggalkan bulan puasa dan  Lebaran  hari pertama. Rasanya sungguh luar biasa karena untuk melewatinya diperlukan tekad yang harus dijalankan. Tak hanya melalui niat tapi juga dalam hal persiapan fisik yang tak kalah heboh, Mulai dari ritual penyediaan obat-obatan pendukung seperti vitamin, madu, tolak angin, dan obat maag sampai dengan fisik yang harus kuat. Kesemuanya saya anggap sebagai penunjang karena tanpa itu mungkin saya takkan mampu melewati puasa dengan puas. Mengapa saya harus repot-repot seperti ini? Harus diakui ini karena faktor usia yang tidak selincah dan sekuat seperti lima tahun lalu. Dan juga karena kekhawatiran bulan puasa tidak bisa dilalui dengan baik. Tahun lalu saya mengalami gangguan kesehatan yang cukup  berkesan dan imbasnya saya tak berpuasa selama sepuluh hari 🙁

Uh, ini rekor terlama sepanjang saya menjalani puasa. Sebenarnya gangguan kesehatannya sepele saja, saya terserang vertigo. Yang aneh adalah sebelumnya saya tak pernah mengalami penyakit ini. Jadi bagaimana bisa saya terkena vertigo itu masih misteri. Tapi kalau dilihat dari tanda-tanda sebelumnya sih mungkin karena kelelahan dan  masuk angin. Oleh sebab itu saya persiapkan diri untuk tidak terlalu lelah dan tidak masuk angin dalam menyambut puasa tahun ini.

Puasa tahun ini menurut saya berat karena jatuh di musim kemarau yang sebulan penuh ini tak setetes pun air hujan atau sekadar rintik-rintik turun ke Bumi. Tapi syukurlah semuanya mampu dilewati dengan tenang, nyaman, dan selamat. Kuncinya ada pada persiapan fisik yang tak perlu diforsir dan pengelolaan waktu antara tubuh untuk bekerja di pagi hingga sore dengan tubuh untuk melakukan aktifitas Ramadhan seperti Tarawih, sahur, atau shalat malam. Seluruhnya diupayakan saling  bersinerg dan tubuh ini harus mendisiplinkan diri untuk hal tersebut, karena kalau tidak, bakal ada gangguan yang melemahkan.

Kalau orang menghindari bepergian untuk sekadar menonton bioskop pada bulan puasa karena khawatir akan lemas, maka saya justru senang karena menurut saya ini berguna untuk pengalihan. Otak secara sugesti dibikin untuk mengira bahwa ini bukan saatnya mengingat-ngingat “saya sedang puasa”, tapi “saya mau nonton dan saya tahan berpanas-panas dan bermacet-macet demi itu”. Hasilnya saya merasa kuat dan tidak lelah apalagi lemas. 🙂

Dan akhirnya lebaran pun tiba. Menurut saya momen yang mengesankan adalah saat awal puasa, pertengahan, dan akhir. Lebaran bagi saya adalah bonusnya. I’m relieved actually. Not just because my fasting is done but there will be a fighting to maintain my physical alone.

Selamat Idul Fitri 1433 H Minal Aidin wal Aidzin 🙂

Silakan komentar