Lupa, menjadi binasa karenanya

on

Hari-hari belakangan ini saya dilanda kesialan bertubi-tubi. Entah memang sedang apes atau sedang  masanya untuk apes. Saya coba mengingat-ngingat apa penyebab saya ketiban sial dan jawabannya ketemu yakni karena…lupa. Yah, hanya satu kata yang menyebabkan rutinitas hidup saya kemarin ini seperti mengambang. Hari-hari dihabiskan untuk mengingat-ingat  dan merunut kembali jejak pelupaan saya. Sebenarnya saya bukanlah orang yang pelupa banget akan hal-hal yang remeh, biasanya kalau orang sampai lupa menaruh kunci, kacamata, apalagi lupa dengan janji itu hal yang jauh dari saya. Selama ini saya selalu ingat hal-hal kecil seperti itu, detilnya pun saya masih ingat, ada peristiwa yang terjadi seminggu  lalu pun saya masih ingat rangkaian kejadiannya. Singkatnya, saya jarang sampai mengalami serangan lupa sedemikian rupa. Awalnya –yang saya sadari akhirnya- adalah karena saya terlalu memikirkan banyak hal, memikirkan banyak urusan baik urusan rumah tangga sampai ke tetek bengeknya hingga finansial. Memang semua orang gak akan lepas dari berbagai macam urusan selama hidupnya. Tapi, mungkin apa yang saya pikirkan sudah overload di otak saya. Sudah tak tertampung, sudah penuh berjejalan.

Disamping otak mulai aus, mungkin juga faktor U 😀 ,  yang satu ini kita tak mungkin menyangkalnya bukan? Tapi, biasanya saya sudah mengantisipasinya dengan selalu mencatat, menulis harian, mingguan atau membicarakannya dengan yang berkepentingan. Langkah itu menurut saya adalah bagian dari memindahkan isi otak saya, memori saya ke media lain. Dulu, saya selalu menertawakan teman kantor yang selalu ketinggalan jaket atau helm saat ia akan pulang ke rumah. “Koq dia bisa gak ingat?” Pikir saya. Ternyata, saya pun mengalami hal demikian. Sewaktu berangkat kerja kemarin, saya di-sms orang tua kalau susu kalsium yang sudah saya siapkan sebelumnya ternyata belum saya minum, what? Koq saya bisa lupa, bahkan saya baru ingat ketika di-sms. Kalau tidak dilapori mungkin saya gak ingat sama sekali sepanjang hari. Saat saya akan membayar tagihan, saya lupa lembaran tagihannya disimpan dimana. Sudah bolak balik di rumah ke ruang bawah, ruang atas, semua dijelajahi tapi tidak juga ketemu. Ternyata setelah ditelusuri malamnya, kertas itu tergeletak dengan manisnya di kotak khusus penyimpan tagihan di atas lemari. 😕

Lupa yang benar-benar ‘asal’ adalah saat saya hendak mencetak buku tabungan BCA. Menurut  Teller, hasil cetaknya sudah lewat. Tidak ada catatan transaksi lain. Saya mengiyakan dan segera menelitinya ternyata buku BCA yang saya bawa adalah…milik Kakak! Pantas saja, lha wong dia sudah gak aktif menabung lagi.

Saya sampai geleng-geleng memikirkan keteledoran ini. Salah bawa buku tabungan judulnya. Lagi-lagi ada pertanyaan di benak “Koq, saya bisa asal ambil buku tabungan orang sih?”, “Koq saya gak meneliti namanya terlebih dulu…”  Pembelaan diri saya adalah, “Gimana gak tertukar, wujud bukunya sama, banknya sama, sampul bukunya masih mulus belum lecek, bla, bla, bla…ah, sudahlah.” Saya memang lupa, tapi bukan pelupa. Saya bukan sedang banyak  pikiran tapi sedang banyak memikirkan hal lain di luar rutinitas. Saya sedang apes. Saya anggap saya sedang menjalani ujian kecil. Saya harap apabila hal yang dipikirkan telah berlalu, kadar lupa saya akan berkurang. Karena, meski lupa adalah manusiawi, saya tak ingin jadi pelupa berat apalagi memeliharanya. Karena, lupa akan membuat saya binasa nantinya, hanya bergerak di tempat dan merugikan diri sendiri juga sekelilingnya. 8)

Silakan komentar