Melamun di Hutan Pinus Mangunan

Awalnya sebenarnya tidak ada rencana untuk mendatangi tempat ini. Setelah mengunjungi Imogiri saya tergelitik untuk menyambanginya. Meskipun kendaraan harus selalu tancap gas karena jalanannya menanjak terus, namun itu tak mengurangi semangat untuk terus melaju menuju  Hutan Pinus Mangunan yang terletak di wilayah Mangunan, kecamatan Dlingo, kabupaten Bantul.

Untuk rutenya saya kira semua pasti bisa mengandalkan mbah Google.  Kalau saya sendiri yang memiliki rumah di daerah Bantul, lokasi ini termasuk dekat-dekat saja sekitar 7 km jaraknya dari kompleks pemakaman Imogiri yang termahsyur itu.  Sebenarnya keberadaan hutan ini sudah lama. Dan kalau saat ini menjadi buah bibir mungkin peran media sosial yang menjadi penyebabnya.

 

Saat saya menginjakkan kaki pertama kali kesan yang muncul adalah takjub.  Bagaimana pihak  Pengelola hutan mampu memelihara sekian hektar pohon menjadi deretan pinus yang tinggi menjulang tanpa pernah mengalami penebangan atau kebakaran . Ini sebuah prestasi bukan? Dan untungnya para pengunjung saat saya tiba sore itu adalah jenis pengunjung yang beradab dengan tidak membuang sampah sembarangan atau merusak batang pohon. Bandingkan dengan kebun bunga yang diacak-acak dan akhirnya rusak beberapa waktu lalu.

Pengunjung yang tiba saat itu lumayan ramai terutama mereka yang berasal dari luar kota. Akibatnya saya tak kebagian ayunan tidur (hammock) apalagi tikar. Seluruh stok habis. Tak apalah lain kali saya bisa kembali lagi ke sana.  Bisa diduga sebagian besar pengunjung memang ingin mengabadikan gambar-gambar yang mungkin saja bisa menjadi ikonik di hutan pinus ini. Saya pun tak ketinggalan ikutan jeprat-jepret. Favorit semua orang adalah memotret pohon dengan mengarahkan kamera ke atas.

Saya sempat ingin menaiki gardu pandang tapi sayangnya yang antre banyak  bo! Rupanya difoto sembari duduk melamun di gardu pandang pada ketinggian tertentu sangat menarik minat orang-orang muda. Apalagi bila dibagikan ke sosial media itu akan jadi kebanggaan tersendiri.

Saya akui pemandangan berupa deretan batang pohon cukup cantik diabadikan apalagi bila kondisinya sepi. Lain halnya bila pengunjung ramai seperti saat itu, memotret rasanya kurang pas  dan mendukung akibat dimana-mana banyak manusia. Mungkin kalau kita datang pagi-pagi saat kabut masih melingkupi hutan akan terasa seperti di negeri antah berantah dan syahdu.

Kebetulan saat itu suasananya cerah jadi saya bisa jalan-jalan dari ujung ke ujung. Gak terbayang apabila hari hujan karena pasti tanahnya akan licin atau becek . Hutan ini memang tepat untuk melamun atau berbicara antar individu atau foto pre-wed. Selain fasilitas toilet, mushola dan warung-warung makan yang terletak di seberang jalan, jangan harap ada fasilitas lainnya semisal kolam atau wahana main anak-anak. Sepertinya belum ada semua itu. Mungkin tahun depan.

Saya berada di sana hanya sekitar dua jam saja. Datang sekitar pukul setengah tiga  lalu pulang setengah lima-an. Dan saat pulang baru disadari arus pengunjung bukannya menurun justru sebaliknya kian banyak. Bahkan saat di perjalanan pulang saya berpapasan dengan berbagai jenis kendaraan yang justru baru saja datang. Ada yang terhenti sesaat di tengah jalan akibat tak kuat menanjak sehingga menyebabkan kemacetan panjang ada pula yang  sekadar mengaso saja sembari mendinginkan mesin.

Dari gambaran di atas penting kiranya bahwa persiapan menuju hutan pinus tak hanya soal fisik namun kendaraan yang kuat diajak menanjak juga harus diperhitungkan. Jangan sampai acara jalan-jalan menjadi gagal hanya karena mobil terhenti di tanjakan dan mogok. Padahal jalanan sudah mulus, hanya perlu hati-hati dengan beberapa tikungan yang kelihatannya mudah tapi sebenarnya ‘sulit’.

Apakah ada bus yang rutenya ke arah hutan? Saat saya ke sana tidak ditemukan bus-bus wisata yang melaju apalagi sampai ke tempat parkir. Entah di hari lainnya. Mungkin hutan pinus ini belum dimasukkan ke bagian wisata yang berpotensial. Memang kondisi di sana masih sangat asli. Bahkan fasilitas toiletnya saja baru beberapa bulan didirikan. Itu pun terbuat dari tripleks dindingnya dan seng sebagai atap ditambah listrik yang temaram pencahayaannya.

 

Dengan kondisi demikian, di satu sisi ini pertanda bahwa masyarakat di sana mulai sadar bahwa wilayahnya bisa menjadi wisata yang besar di kemudian hari. Di sisi lain perlu ada promosi agar tambah ramai dan hasilnya dikembalikan untuk mendanai toilet yang lebih baik  misalnya. Oh ya untuk masuk ke sana tak dipungut biaya apa pun selain menjaga kebersihan. Kita hanya dipungut tarif parkir saja.

Bertualang ke hutan ternyata menyenangkan. 🙂

 

 

 

 

2 Comments Add yours

  1. matureorchid says:

    Pengen kesana lagi deehh…

Silakan komentar