Meledak Juga Akhirnya

on

Kejadiannya tadi siang, saya terpaksa harus menumpahkan kekesalan pada mereka semua, para lelaki yang bekerja dalam satu ruangan. Sebenarnya kalau dipikir-pikir, buat apa saya harus mengeluarkan energi untuk mereka?  Membuang-buang waktu saja kelihatannya. Tapi  ini sudah berlangsung berbulan-bulan.  35-face-angryDiawali dengan masuknya orang baru di lingkungan pekerjaan saya. Kelihatannya biasa saja namun lambat laun nampak kecenderungan bahwa setiap pria yang baik berkepentingan dengan pekerjaan atau bukan selalu saja seenaknya nyelonong masuk ruangan untuk sekadar ngobrol, atau menggunakan jasa ini itu pada si orang baru ini. Walhasil ruangan yang tadinya steril dari orang lain ini mulai ramai bak pasar. Orang luar hilir mudik tanpa harus bertanya diijinkan dahulu atau tidak untuk masuk. Otomatis pekerjaan menjadi tidak fokus alias terganggu. Ada satu dua orang yang sempat saya tegur agar bicara nanti saja pada saat jam istirahat. Tapi sisanya tetap ngobrol bak cewek membicarakan mode terkini.

Di lain pihak obrolan tak hanya dipicu orang luar, tapi juga oleh orang dalam sendiri. Dalam hal ini bisa antar pimpinannya dengan anak buahnya atau antar mereka sendiri, pria-pria yang seakan tak pernah kehabisan cerita dalam sehari. Padahal kalau dipikir, bukankah mereka punya banyak waktu sebelum masuk kantor? Mereka nongkrong dan merokok di luar apa tidak mengobrol juga namanya? Bahkan sembari korupsi waktu di luar saat jam istirahat apa mereka masih kurang banyak mengobrolnya? Dan pada saat saya ingin fokus kerja itulah, saya merasa terganggu dengan obrolan yang gak berujung itu. Saya marah dan menumpahkan kata-kata bernada keras pada mereka. Saya luapkan amarah pada mereka yang seenaknya ngobrol hal yang gak penting dan bukan soal pekerjaan itu, 😡

Mereka tentu saja akhirnya diam bahkan yang saya ingat ruangan  menjadi hening terus hingga sore menjelang kantor usai. Kurang 5 menit dari jam pulang  mereka sudah bubar keluar kantor, saya rasa mereka ingin cepat-cepat ngibrit akibat tak betah untuk tidak ngobrol barangkali.

Mengherankan memang dengan perilaku makhluk Mars ini. Mungkin hanya di divisi saya saja yang tingkat obrolan prianya lebih tinggi dari wanitanya. Women is minority but they has a powerful mind and attitude I think. Mereka tak seharusnya menganggap remeh apapun baik wanita, pekerjaan atau lingkungan kerjanya.

Silakan komentar