Melongok Pelataran Pura Ulun Danu Beratan

Berjalan-jalan ke suatu tempat yang belum pernah didatangi senantiasa memiliki kesan yang  tak terlupakan. Apalagi kalau setelah berada di lokasi, hal yang teringat adalah keindahan dan kesejukannya.

Masih dalam rangkaian jalan-jalan ke Pulau Bali kali ini saya mengunjungi objek wisata bernama Pura Ulun Danu Beratan yang  dikelilingi perbukitan, danau  dan kabut serta panorama yang bagus untuk spot foto. Pura ulun Danu Beratan ini letaknya di dataran tinggi dan agak jauh dari tempat kami menginap. Seingat saya perjalanan menuju ke sini harus naik, menanjak, dan berkelok-kelok seperti layaknya ke daerah pegunungan. Dari pantai Kuta hingga ke wilayah Bedugul tempat pura ini berada kira-kira 60 km jauhnya dan ditempuh dengan bus pariwisata sekitar satu jam  45 menit dengan catatan tidak macet.

pelataran kompleks pura

Puranya sendiri ada yang berada di  danau Beratan, ada pula di daratan yang membentuk semacam kompleks pura.  Danaunya kerap disebut Beratan, ada juga yang menyebutnya danau Bedugul karena lokasinya berada di wilayah Bedugul. Pemandangan pura dan sekitarnya sangat cantik, segar dan hijau rumput terhampar di mana-mana. Seperti halnya tempat suci di mana pun, suasananya terasa syahdu dan penuh ritual. Kebetulan saat saya tiba, sedang berlangsung upacara semacam melarung sesaji berupa hasil bumi  dan hewan yang dikurbankan. Hewan yang dikurbankan saat itu adalah itik hitam (Jawa: Menthok)  beserta anak itiknya.

Menyiapkan perahu
berangkat melarung sesaji

Rombongan yang melarung sesaji ini terdiri dari pria dan wanita paruh baya yang berpakaian khas Bali dan dipimpin oleh seorang Pedanda. Mereka akan melarung sesaji ini jauh ke tengah danau dengan menumpang perahu dan nampaknya hewan itu akan dijatuhkan di tengah-tengah danau yang luasnya kira-kira 300 hektar itu. Danau ini juga menyediakan sewa naik perahu. Jadi bila ada yang ingin mengabadikan peristiwa semacam ini, ada fasilitasnya.

menatap kepergian

Acara melarung sesaji ini mungkin terlihat biasa bagi warga lokal tapi bagi kita yang jarang berinteraksi dengan upacara keagamaan, pemandangan ini  cukup menarik minat turis termasuk saya.

Saya mengunjungi tempat ini pada hari Sabtu dan kebetulan banyak sekali pengunjung yang datang baik turis lokal maupun manca negara.

Hal yang membuat saya agak terkejut adalah hawanya yang sejuk sekali (salah kostum jadinya). Selain memang terletak di ketinggian, sesekali angin yang bertiup keras makin menambah suasana tambah menggigil, yang mungkin akan cocok sekali dengan turis-turis bule di sana. Menurut saya pribadi, lanskap dan suasananya mirip-mirip taman di vila Puncak. Hanya bedanya di sini ada danau dan pura yang telah menjadi ikon foto wisata serta orang-orang berpakaian tradisional Bali.

Hawa yang dingin membuat orang menjadi cepat lapar. Untunglah di seberang jalan lokasi wisata ini terdapat jejeran warung makan khas Muslim. Tak bisa dipungkiri, lidah Jakarta agak sulit berkompromi dengan hidangan setempat. So, mau tak mau kita pasti mencari warung makan yang cocok dan halal. Warung ini cukup memberi naungan bagi kita yang kelaparan dan kebetulan menyediakan hidangan yang khas pulau Jawa seperti soto ayam, bakso, atau nasi rames. Jadi jangan cemas dengan logistik di sini.

Seperti yang saya bilang , spot untuk berfoto lumayan banyak di sini. Di tepi danau dengan latar pura atau di taman dengan rumput hijau, dekat pintu gerbang pura, atau di Pura utama Semuanya bisa berpotensi untuk menjadi foto kenangan 😀 . Banyak turis manca negara yang senang mengabadikan pura di tengah danau dan spot itu selalu ramai karena untuk mencari latar foto yang sepi dari kerumunan agak sulit terlebih saat itu akhir pekan dan sedang banyak-banyaknya rombongan wisatawan berdatangan.

Oh ya, di manapun selalu ada aturan yang melarang wanita yang sedang berhalangan untuk memasuki pura termasuk saat kita memasuki pura Ulun Danu Bratan. Bila akan menuju ke danau kita memang cukup melewati gerbang pura sementara yang berhalangan harus memutari pura yang nantinya bertemu kembali di tepi danau.

Pelataran puranya sendiri cukup luas apalagi taman di sekitarnya cukup asri dan sejauh mata memandang padang rumput terhampar bebas di mana-mana. Bagi yang membawa anak-anak, ada arena bermain seperti ayunan, perosotan, dll.

Sore itu kabut sangat cepat turun dan tiba-tiba saja suasana menjadi lebih mendung dan pekat sementara angin pegunungan makin kerap bertiup membuat suasana menjadi semakin magis.

Menurut saya objek wisata pura ini lebih menawan dibandingkan dengan Pura Besakih yang pernah saya kunjungi. Selain sejuk, taman yang melengkapinya cukup memberi tampilan anggun secara keseluruhan. Keindahannya benar-benar nyata sebagai tempat pelepas stres apalagi bila memandangi kesegaran dan suasana yang serba hijau.

Meskipun masih ingin berlama-lama berada di sini, saya harus sudahi kunjungan ini dengan membawa kesan yang tertinggal.

2 Comments Add yours

  1. matureorchid says:

    Tempatnya dewa,jadi adem ya

    1. Erna says:

      Pokoknya sejuk

Silakan komentar