Membaca Dan Akrobat Otak

on

Sebagai orang yang begitu ‘produktif’ dalam mengisi hari-hari sibuk, maka tak heran saya merasa selalu saja kekurangan waktu untuk bersantai. Untuk memberi waktu yang istilahnya -me time- saja susahnya minta ampun. Selain bekerja nine to six, saya juga punya kebiasaan untuk melakukan hal-hal domestik sesampainya di rumah. Jadi, cukup masuk akal ‘kan bila pada suatu waktu saya begitu kangen oleh kehidupan yang hanya diisi dengan bermalas-malasan, tidur-tiduran ditemani semilir angin sembari  membaca buku yang lama ingin kita baca.

Karena dorongan untuk membaca itulah akhirnya saya berniat untuk menuntaskan daftar bacaan yang belum selesai. Tercatat ada dua buku, satu berjudul Ranah 3 Warna karya Ahmad Fuadi dan yang satunya buku super tebal berjudul Sam Po Kong Perjalanan Pertama karya Remi Silado. Buku pertama sudah saya beli kira-kira tujuh bulan lalu namun belum selesai-selesai juga saya baca. Teronggok begitu saja dan agak terlupakan selain juga karena ada unsur malas dan ajakan menunda. Lalu ada bacaan dari berbagai majalah  semisal Pesona, Cinemags, dan Femina yang sama sekali belum sempat dibaca isinya.

Sebenarnya saya tipe orang yang cepat membaca, namun akibat tak ada waktu dan mulai pelupa kadang tumpukan majalah dan buku hanya menjadi penghias di tempat tidur dan meja tamu. 🙂

Agar tidak terlalu menumpuk dan otak tetap segar memorinya, akhirnya saya menerapkan cara agar semua hutang bacaan ini lunas. Jadi, malam sebelum tidur saya membaca Ranah 3 Warna sekitar 30 menit, lalu 30 menit berikutnya saya ganti topik bacaan dengan membaca aneka majalah, kemudian kalau mata masih bisa diajak kompromi saya sempatkan untuk menulis buku harian -satu kebiasaan yang mulai luput saya lakukan- akibat sempitnya waktu luang dan lelah.

Well, dengan membaca beragam kisah, hal ini menjadikan otak saya harus menyesuaikan diri dengan tema yang dibaca. Dan setelah saya lakukan beberapa kali, ada satu hal yang menarik, otak saya jadi  terbiasa untuk segera menyesuaikan diri agar nyambung dengan tulisan lain yang saya baca.

Misalnya, saat saya membaca buku Ranah 3 Warna saya berhenti di kisah Alif yang hendak menjalani hari-hari selama di Kanada, Lalu Otak saya ganti guna menyerap kisah  perjalanan yang termuat di majalah, kemudian saya beralih ke novel Cheng Ho. Terus begitu, berganti-ganti. Keesokkan malamnya otak saya berusaha mengingat kembali kisah si Alif yang sedang berada di Kanada, lalu kembali membaca isi majalah yang belum tuntas, lalu lanjut lagi dengan membaca hal lain. Kedengarannya penat, karena terkesan otak dipaksa berakrobat, tapi seolah ada sensasi baru yang muncul.

Sensasi ini menjadikan otak saya selalu siap untuk berganti berkelana menjelajahi kisah yang lain dan siap untuk mengingat-ingat kisah sebelumnya. Boleh jadi ini gaya baca saya yang baru dan mampu diterapkan dengan ketetapan hati. Entah sampai kapan ini berlangsung yang jelas saya mulai enjoy! 😀

Silakan komentar